Search
Jumat 23 Agustus 2019
  • :
  • :

83% Perusahaan di Asia Pasifik dan Jepang Merasa Terancam oleh Start-up Digital

 

MAJALAH ICT – Jakarta. 83% dari perusahaan di APJ yakin bahwa start- up digital akan mengancam organisasi mereka, baik sekarang ataupun di masa depan, menurut riset terbaru dari Dell Technologies yang diumumkan baru-baru ini. Fenomena ini mendorong kemajuan bagi perusahaan-perusahaan yang inovatif dan mematikan bisnis perusahaan- perusahaan lainnya. Lebih dari setengah (52%) dari perusahaan yang diwawancarai khawatir perusahaan mereka akan bangkrut dalam tiga sampai lima tahun ke depan karena kompetisi dari start-up digital baru (Global: 45%).

Beberapa perusahaan telah merasakan dampak langsung dari perubahan yang terjadi sangat cepat. Enam dari sepuluh (61%) pemimpin perusahaan di APJ telah mengalami perubahan signifikan dalam industri mereka dalam tiga tahun terakhir akibat dari teknologi digital dan Internet of Everything, dan 58% dari bisnis di wilayah tersebut tidak tahu bagaimana kondisi industri mereka tiga tahun ke depan.

Seluruh survei tersebut adalah hasil wawancara independen yang dilakukan Vanson Bourne dengan 4.000 pemimpin perusahaan – dari perusahaan skala menengah hingga besar – di 16 negara dan mencakup 12 industri. “Revolusi digital secara signifikan telah memangkas berbagai hambatan untuk masuk ke berbagai industri. Disertai semangat wira usaha dan dukungan kuat pemerintah di kawasan APJ, kita telah menyaksikan munculnya berbagai perusahaan start-up digital,” kata Amit Midha, President, APJ Commercial, Dell EMC. “Ketidakmampuan berinovasi di era digital akan berdampak pada daya saing perusahaan-perusahaan yang saat ini ada di kawasan APJ.”

Kemajuan yang Tidak Jelas atau Ancaman Krisis Digital?

Kemajuan yang terlihat hingga hari ini tidak jelas. Beberapa perusahaan nyaris belum melakukan apa pun untuk memulai transformasi digital mereka. Sementara banyak perusahaan lainnya yang melakukan pendekatan parsial. Hanya sebagian kecil perusahaan yang hampir menyelesaikan proses transformasi digital mereka. Hanya satu dari tiga perusahaan yang disurvei telah

melakukan menguji atribut bisnis digital dengan baik. Sementara di sebagian besar perusahaan, hanya beberapa bagian organisasi yang telah berpikir dan bertindak secara digital, mayoritas (77%) mengakui transformasi digital seharusnya dilakukan lebih merata di seluruh organisasi mereka.

Sekitar enam dari sepuluh perusahaan tidak bisa memenuhi permintaan yang paling banyak diajukan pelanggan mereka, seperti keamanan yang lebih baik dan akses 24/7 ke pusat layanan dan informasi. Hampir dua pertiga (65%) menyatakan perusahaan mereka tidak menindaklanjuti informasi yang diterima real-time.

“Wilayah APJ berada di pusat revolusi industri keempat dan dengan semakin meningkatnya keinginan pelanggan akan pengalaman intuitif dan personal, sangatlah penting bagi perusahaan- perusahaan di kawasan ini untuk melakukan transformasi secara digital agar tetap kompetitif. Meskipun berbagai perusahaan di wilayah menikmati kemajuan, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mempercepat perjalanan transformasi digital mereka, dimulai dengan transformasi TI,” ucap David Webster, President, APJ Enterprise Business, Dell EMC. “Dengan tuntutan akan produk dan layanan digital baru membawa peningkatan jumlah pengguna dan data yang luar biasa, fokus pada modernisasi infrastruktur TI dan investasi pada keterampilan pengembangan perangkat lunak menjadi kunci bagi perusahaan untuk terus memberikan nilai tambah kepada pelanggan mereka.”

Indeks Transformasi Digital dari Dell Technologies ini melengkapi hasil laporan survei ini dan mengklasifikasi perusahaan global berdasarkan persepsi responden mengenai kinerja transformasi digital perusahaan mereka. Berdasarkan klasifikasi tersebut, hanya 5% dari berbagai perusahaan di 16 negara yang berhasil masuk ke dalam kelompok Pemimpin Digital; sementara hampir setengah lainnya masih jauh tertinggal.

Mempertimbangkan ancaman disrupsi yang bisa berdampak fatal, perusahaan-perusahaan di APJ telah mulai meningkatkan upaya untuk menyelamatkan bisnis mereka. Selain itu, sekitar seperempat hingga sepertiga dari perusahaan-perusahaan yang diwawancarai telah menyusun laporan laba-rugi (P&L) digital (34%); bermitra dengan perusahaan start-up untuk mengadopsi model inovasi terbuka (34%); telah menjual sebagian dari perusahaan (31%) atau berencana untuk memperoleh keterampilan dan inovasi yang mereka perlukan melalui proses merger dan akuisisi (M&A) (27%). Hanya 15% berhasil dilihat dari jumlah paten yang mereka ajukan dan hampir setengahnya (46%) telah mengintegrasikan target digital ke semua target departemen dan staff.

“Transformasi Digital adalah hasil dari memadukan kekuatan teknologi dengan budaya melakukan adaptasi secara cepat yang tidak saja mengerti apa yang bisa dilakukan teknologi untuk bisnis perusahaan, tapi juga kenapa teknologi sangat penting bagi masa depan perusahaan,” ujar Daniel Newman, analis utama, Futurum Research. “Setiap pemimpin C-Suite yang ingin meningkatkan investasi transformasi digital mereka perlu memahami ancaman yang dihadapi industri mereka dan bagaimana teknologi dapat membawa bisnis mereka ke tingkat berikutnya agar tetap kompetitif.”

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *