Search
Jumat 25 September 2020
  • :
  • :

Bakrie Telecom Nafsu Besar Masuk Bisnis ‘Triple Play’

MAJALAH ICT – Jakarta. Di tengah kesulitan keuangan yang mendera dan gugatan karyawan yang nasib nya tidak diperhatikan, yang menyeruak di media sosial, Bakrie Telecom tetap bernafsu besar untuk meneruskan bisnis telekomunikasi yang digelutinya. Tidak tanggung-tanggung, Bakrie Telecom berencana untuk bisa masuk ke bisnis ‘triple play‘ yang memberikan layanan telepoh rumah, internet dan TC berbayar, yang kini sedang booming.

Demikian disampaikan Taufan E.Rotorasiko, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta. Menurut Taufan, pihaknya kini tengah melakukan negosiasi dengan sejumlah layanan konten atau over the top (OTT) untuk memberikan layanan triple play tersebut.  “Kami melihat ada kebutuhan besar dalam mensinergikan telekomunikasi, internet, dan media,” katanya.

Dijelaskannya, saat ini perusahaan sedang mengoptimalkan bisnis digital dengan aplikasi messenger EsiaTalk. Untuk layanan triple play, belum diungkap dengan siapa saja Bakrie Telecom berencana bekerja sama, termasuk juga mengenai waktu kapan layanan ini siap dipasarkan.

Hanya saja, dari informasi yang berkembang sebelumnya, BTEL nampaknya akan berbagi jaringan dengan SmartFren yang akan juga menggunakan frekuensi Bakrie Telecom untuk layanan 4G ke depan. BTEL juga disebut memiliki jaringan serat optik dengan 100 ribu homepass.

Nafsu BTEL untuk rebound dalam bisnis telekomunikasi memang cukup kentara. Pada Januari lalu, meski persoalan utang sebesar Rp. 10 triliun belum didapat solusi yang jelas, Bakrie Telecom berhasrat untuk menerbitkan saham baru sebesar Rp. 7 triliun.

 

Menurut rencana BTEL, penerbitan saham baru (rights issue) atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) akan dihargai Rp. 200 per sahamnya. Demikian disampaikan Direktur Utama BTEL Jastiro Arbi. "Target sekitar Rp 7 triliun dari rights issue dengan harga saham Rp 200," katanya.

 

Namun begitu, sebelum menerbitkan saham baru, BTEL masih menunggu ijin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas aksi korporasinya tersebut. Hanya saja, BTEL berharap proses ini bisa cepat dilakukan, setidaknya pada kuartal II tahun ini. Bahkan kalau mungkin, dimulai bulan depan. "Kemungkinan bulan depan akan kita eksekusi setelah mendapat pernyataan efektif dari OJK," tambah Jastiro.

 

Meski BTEL terlihat bernafsu, namun persoalan tetap membelit perseroan, yang bahkan menjadi batu sandungan mendapatkan restu OJK. Apalagi, proses konversi utang sebesar Rp. 7 triliun menjadi saham, dikabarkan belum tuntas. Belum lagi, persoalan Bakrie Telecom Pte Ltd yang menghimpun dana asing yang cukup besar, yang seolah BTEL lepas tangan dan tidak menjadi bagian dari utang perusahaan yang masuk ke PKPU.

 

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *