Search
Sabtu 23 November 2019
  • :
  • :

Begini Kiat Bagaimana Para Mobile Marketer dapat berkembang di Indonesia

MAJALAH ICT – Jakarta. ndonesia mungkin tidak berada di urutan teratas dalam daftar pasar yang harus ditembus oleh para mobile marketer, tetapi ini akan dapat berubah dengan cepat. Dengan 270 juta orang penduduk, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan tingkat penetrasi seluler negara ini mencapai 47,6%. Tidak mengherankan karena penduduk perkotaan Indonesia yang semakin muda mendorong selera mereka akan consumer tech. Seperti kebanyakan negara berkembang, transformasi digital Indonesia lebih bersifat mobile-first.

Peluang besar ini telah dikonfirmasi oleh data internal Adjust. Adjust menyebut Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan tercepat untuk pemasar aplikasi dalam laporan Tren Aplikasi Global Tahun 2019. Hal ini merupakan berita baik bagi perusahaan seluler lokal dan asing yang ingin meraih sukses di Indonesia — selama perusahaan tersebut menyusun strategi yang tepat untuk memasuki pasar. Menurut April Tayson, Direktur Penjualan Adjust untuk Kawasan Asia Tenggara, ada hal-hal utama yang perlu dilakukan oleh brand yang ingin sukses di ocal ini, diantaranya:

Patuhi Peraturan dan Kebiasaan Setempat

Perkembangan Indonesia sebagai pusat teknologi telah mendorong pemerintah Indonesia untuk menstimulasi pertumbuhan bisnis dengan menuntut agar perusahaan internasional menggunakan pendekatan “go local” saat memperkenalkan produknya ke pasar. Misalnya, pada awal tahun 2017 pemerintah Indonesia menetapkan bahwa semua handset 4G harus memenuhi ketentuan 30% TKDN — ketentuan ini berlaku bagi perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware) yang diproduksi di Indonesia.

Demografi Indonesia harus dipertimbangkan saat menentukan strategi kampanye. Walaupun pengguna mungkin berpikiran terbuka dalam menyambut teknologi internasional, kegiatan pemasaran di Indonesia harus selalu diiringi dengan nuansa ocal. Industri periklanan yang cukup konservatif dan kampanye yang sedikit vulgar yang dapat diterima di Barat mungkin tidak akan terlalu sukses di Indonesia.

Jusdinata, Online Marketing Lead Ultravoucher – aplikasi voucher belanja ocal di Indonesia, mengatakan bahwa penggunaan influencer dan selebritas dalam kampanye iklan dapat memberikan banyak manfaat — dan selebritas ocal maupun internasional dapat menarik konsumen Indonesia. Tetapi beliau menyarankan untuk memilih influencer secara berhati-hati: “Saat ini, banyak sekali orang yang disebut sebagai “influencer” hanya karena memiliki banyak followers – walaupun engagement rate mereka oca jadi mendekati 0%. Akan tetapi, kerja sama dengan influencer yang tepat dapat memberikan dampak besar terhadap popularitas brand tersebut.”

Hal yang juga penting untuk dilakukan adalah memperhatikan keperluan penggunaan aplikasi masyarakat Indonesia — yakni untuk segala hal yang dapat memudahkan kehidupan sehari-hari, dari perbankan hingga belanja bahan makanan. Mendapatkan pinjaman dengan cara mengajukan pinjaman kecil melalui aplikasi perbankan jauh lebih mudah daripada melalui cara tradisional, terutama bagi daerah pedesaan. Demikian pula, di kota dengan lalu lintas padat seperti Jakarta, memesan makanan secara on-the-go akan menghemat banyak waktu bagi masyarakat Indonesia.

Dari segi aplikasi yang paling sering digunakan, peringkat menunjukkan bahwa aplikasi ocal media dan pengiriman pesan — termasuk Facebook, Whatsapp dan Instagram — merupakan aplikasi yang paling sering diunduh dan Jakarta bahkan dinobatkan sebagai “kota Twitter paling aktif di dunia” pada tahun 2012, membuat Jakarta memiliki reputasi yang bertahan cukup lama.

Aplikasi penjualan pakaian yang sangat ocal di Asia Tenggara yakni Shopee dan aplikasi mencari tumpangan (ride-hailing) ocal Go-Jek juga masuk dalam 30 aplikasi yang paling banyak diunduh di Indonesia. Apa pesan utama yang dapat ditarik? Produk dan layanan yang menawarkan sesuatu yang membantu kehidupan sehari-hari adalah cara yang pasti untuk sukses di Indonesia.

Jangan Selalu Mengandalkan Alogaritma

Tingkat sign-up untuk fixed broadband di Indonesia tergolong rendah (saat ini hanya diakses oleh 9,38% dari total penduduk), alhasil konsumen mungkin sangat bergantung pada penggunaan data seluler. Tetapi tidak semuanya memiliki paket data tak terbatas — dan ini dapat berdampak besar pada viewability atau discoverability. Misalnya, jika Anda menjalankan installation campaign, pastikan Anda tahu berapa banyak data yang digunakan. Jika terlalu banyak, calon pelanggan tidak akan tertarik dan citra brand pun terancam ocal.

Selain itu, calon pengguna mungkin tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk browsing oca aplikasi. Menurut MoboMarket, toko aplikasi Android pihak ketiga dari Baidu, 60% dari aplikasi yang diunduh di Indonesia berasal dari hasil pencarian.

Walaupun pengoptimalan oca aplikasi merupakan keharusan di berbagai tempat, ini akan semakin penting untuk dilakukan di pasar yang sangat bergantung pada penemuan secara ocal. Untuk visibilitas maksimum dalam hasil pencarian, pastikan untuk secara akurat memberi nama, mendeskripsikan, menandai dan mengklasifikasikan aplikasi Anda saat mengirimkannya ke berbagai oca aplikasi dan perhatikan semua tips dan trik agar aplikasi Anda banyak diminati.

FOKUS PADA IKLAN YANG INTERAKTIF

Sekalipun ada ocal data, peluang untuk menjalankan kampanye iklan kreatif masih tergolong besar. Gamifikasi, pendekatan kreatif yang menggabungkan unsur-unsur seperti game dan interaktivitas untuk meningkatkan keterlibatan, adalah salah satu cara untuk memperoleh outcome positif dari kampanye.

Rengga Tranfianto Nurvigya,Senior Digital Manager untuk aplikasi kehamilan dan kesehatan terkemuka Teman Bumil, Guesehat dan Teman Diabetesmerekomendasikan gamifikasi atau iklan bertema untuk kampanye — metode ini sangat berhasil jika dilakukan pada hari libur dan momen penting seperti Ramadhan atau Harbolnas, Hari Belanja Online Nasional Indonesia.

PERHATIKAN PERUBAHAN DALAM UNDANG-UNDANG

Undang-undang Indonesia tentang data cukup fleksibel dibandingkan dengan standar di Eropa atau Amerika Serikat — selain itu, sebagian besar penduduk Indonesia tidak terlalu khawatir tentang kerahasiaan data seperti halnya pengguna di negara Barat.

Akan tetapi, Jusdinata dari UltraVoucher mengatakan bahwa sikap masyarakat berubah secara perlahan dan hal ini dapat berdampak besar terhadap persetujuan pengguna mengenai jumlah data yang dibagikan dengan aplikasi: “Kami mulai menemukan bahwa pengguna seringkali tidak bersedia mengisi setiap bagian dari formulir pendaftaran, tren ini ocal pasti terkait dengan sikap baru seputar kerahasiaan data. Untuk mengurangi bounce rate, perusahaan harus memastikan bahwa bagian yang diwajibkan hanyalah informasi minimum.”

Dengan meningkatnya kekhawatiran yang dipicu oleh pengawasan media dan semakin dirasa penting di seluruh dunia, undang-undang seputar kerahasiaan data kemungkinan akan segera diterbitkan.

Michael Gryseels, Senior Partner McKinsey & Company, menyarankan, “Peraturan sejenis akan segera ada di Asia. Ini hanya masalah waktu saja.” Bagi pemasar yang ingin sukses di Indonesia, langkah untuk memasukkan standar kerahasiaan data Uni Eropa ke dalam aplikasi akan berarti bahwa mereka selangkah lebih maju saat terjadi perubahan peraturan mengenai data.

Walaupun ada banyak peluang menarik di negara ini, Indonesia adalah pasar yang sebaiknya tidak dimasuki sendiri. Salah satu strategi cerdas adalah menjalin kerja sama dengan aplikasi yang sudah memiliki pengguna ocal – yang memiliki target pengguna yang sama dengan Anda. Hubungan yang terjalin akan sangat penting untuk menarik pengguna dan membangun komunitas pemasar aplikasi yang berpikiran sama serta dapat memberikan bimbingan.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *