Search
Selasa 27 Oktober 2020
  • :
  • :

Berdakwah di Televisi, Milenial Harus Penuhi Kapasitas Keilmuan

MAJALAH ICT – Jakarta. Kehadiran generasi muda sebagai da’i-da’I di televisi dan platform digital lainnya, merupakan sebuah fenomena yang baik sebagai usaha memenuhi konten siaran dengan nilai-nilai kebaikan. Bahkan, di era teknologi informasi sekarang, da’wah pun dilakukan dengan berbagai cara sehingga tidak tampil hanya dengan model satu arah atau monolog untuk dapat diterima lebih banyak kalangan. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengingatkan, yang terpenting substansi da’wah yang disampaikan para da’i muda tidak terkaburkan dengan peran hiburan atau entertainmen yang tersematkan padanya. Hal tersebut disampaikan Irsal Ambia, Komisioner KPI Pusat Koordinator Bidang Kelembagaan, dalam Literasi Daring yang mengusung tema “Da’wah Milenial di Televisi”.

Selain hal diatas, Irsal juga mengingatkan bahwa da’I muda  yang tampil di televisi harus memiliki kompetensi keagamaan yang baik, punya pemahaman tentang regulasi penyiaran, serta dapat menjaga etika antar umat beragama.

Senada dengan Irsal, Ketua Komisi Da’wah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, M Cholil Nafis turut menyampaikan pendapatnya dalam forum literasi tersebut. Pada prinsipnya da’I yang tampil di televisi selain harus memiliki kompetensi dalam pemahaman keislaman,  dia juga harus mengerti tentang masalah khilafiyah dalam pertimbangan fikih. “Jangan membahas materi khilafiyah dalam waktu yang singkat di televisi, apalagi jika tidak mampu menyampaikan dengan narasi yang baik,” ujar Cholil. Hal ini menurutnya, untuk menghindari munculnya konflik di tengah masyarakat. Selain itu, Cholil berpendapat, da’i pun harus memiliki sikap yang bertanggungjawab terhadap publik.

Secara khusus Cholil menilai perlunya generasi milenial didorong untuk menjadi da’i, mengingat kondisi demografi Indonesia juga didominasi oleh anak muda.  Diantara syarat yang harus dipenuhi adalah berusia di bawah 30 tahun dan memiliki latar belakang keilmuan yang baik.

Dalam kesempatan tersebut, hadir dari kalangan milenial yang juga dikenal sebagai qori’ muda. Muzammil Hasballah dan aktor muda Syakir Daulay. Dalam pengakuannya, Muzammil mengatakan dirinya hanya akan menyampaikan bahasan da’wah yang memang dikuasainya. Selama ini Muzammil dikenal dengan kapasitasnya sebagai seorang qori’, maka hal itulah yang disampaikan pada publik. “Saya menghindari bahasan ikhtilaf dalam agama,“ ujarnya.  Muzammil mengatakan bahwa seorang da’I harus bertanggung jawab pada apa yang disampaikan. Prinsipnya adalah, Ai ilmu qobla qoul wal ‘amal, ilmu harus didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan, ujarnya. Selain itu yang juga patut diperhatikan oleh para da’I yang tampil di media, adalah menjaga hati. Godaan yang demikian tinggi bagi dalam kehidupan di media akhirnya menjadi sebuah tolak ukur keikhlasan, apakah da’wah semata untuk Allah atau bertujuan mengejar popularitas.

Syakir sendiri mengatakan dengan berkiprah di dunia entertain dia punya kesempatan untuk ikut memberikan nilai-nilai positif kepada generasi muda. Dia pun punya prinsip untuk tidak menyampaikan sesuatu yang di luar kapasitasnya. Laki-laki yang didaulat sebagai aktor muda inspiratif dalam Anugerah Syiar Ramadhan tahun 2020 ini mengatakan dunia artis ini menjadi wasilah kebaikan agamanya. Meski demikian, Syakir menegaskan bahwa ada prinsip-prinsip yang tetap dipegangnya dan tidak dapat diganggu gugat. Misalnya, aktu syuting yang tidak boleh berbenturan dengan jadwal belajar mengaji dengan guru-gurunya.

Sedangkan bagi generasi muda yang ingin terjun dalam dunia da’wah,  Muzammil menegaskan persiapan yang paling penting adalah membekali diri dengan ilmu, terutama belajar dengan seorang guru. Hal ini juga disampaikan oleh Cholil Nafis, tentang pentingnya berilmu dengan guru. Sehingga materi-materi da’wah yang disampaikan, khususnya melalui medium televisi bukanlah hasil buah pikiran sendiri, melainkan ada rujukan dari para ulama-ulama terdahulu.

Catatan lain dari KPI adalah tentang program religi yang hadir bukan dalam bentuk ceramah langsung. Irsal mengatakan bahwa dalam program religi berformat sinetron, reality dan hiburan lainnya, pesan da’wah yang hendak disampaikan terlalu lama diterima publik. KPI berharap, pesan-pesan kebaikan dan moral dalam program religi dapat dikemas dengan mudah ditangkap oleh masyarakat. “Tidak kabur dengan gimmick-gimmcik hiburan,” ujar Irsal. Hal ini dikarenakan da’wah milenial memang harus dikemas dengan kreatif hingga mampu membentuk sebuah lifestyle kebaikan yang sejalan dengan islam.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *