Search
Senin 21 Oktober 2019
  • :
  • :

Bisnis Digital: Booming atau Bubble? (Bagian 4 – Habis)

Menanggapi Program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, Chief Marketing Officer (CMO) GDP Venture Danny Oei Wirianto, belum terlalu yakin program tersebut bisa menciptakan perusahaan rintisan yang memiliki bisnis yang bisa berkelanjutan atau bisa bertahan lama. “Dalam beberapa tahun kami melihat banyak perusaahaan mati. Salah satu perusahaan saya juga sempat mati. Pertanyaannya apakah bisa mereka punya insting untuk bertahan,” ujarnya.

Menurutnya, bukan perkara mudah untuk membangun sebuah ekosistem yang baik untuk menumbuhkan para perusahaan rintisan. Itu memerlukan infrastruktur yang baik serta pemahaman dari para pendiri mengenai produk-produk apa yang tepat saat ini. Meski demikian, pihaknya tetap memetakan dan memantau potensi-potensi apa yang timbul dari gerakan tersebut. Hanya saja memang ada sedikit keraguan unuk melakukan investasi, terlebih banyak peran pemerintah dan BUMN melalui dananya. “Ada beberapa yang kita petakan. Tapi kita juga tidak mau terjebak, karena kalau tidak salah mereka kan akan dapat fund dari pemerintah dan kredit lunak dari BUMN, dan itu risiko jika fund itu nantinya bermasalah,” kata Denny.

GDP sendiri telah menanamkan investasinya lewat puluhan start-up, seperti Blibli.com, Daily Social,Kaskus, Kincir, Bolalob, Kurio, Infokost dan lain-lain. “Secara brand mungkin ada dikisaran 28,” ungkapnya. Selain punya portofolio di dalam negeri, GDP Venture juga punya portofolio di luar negeri seperti Garena. Perusahan tersebut merupakan perusahaan internet dan mobile platform yang berbasis di Singapura.

Bisnis digital yang mewabah, juga tak imun dari potensi persaingan, yang bisa membuat gelembung bisnis yang tadinya besar, mengempis bahkan pecah. Ini bisa dilihat dari persaingan bisnis transportasi online. Penguasaan Go-Jek kini juga mulai mengempis, karena harus berbagi dengan Uber dan Grab yang gelembung juga kian membesar. Bahkan, ada penguasaan penyedia transportasi online tertentu di wilayah tertentu. Menariknya, beberapa aplikasi transportasi online yang sebelumnya meramaikan bisnis ini, juga kian hilang namanya karenan gelembungnya pecah ditusuk pemain transportasi online lainya.

Apa yang terjaid di bisnis transportasi digital, bukan hal yang aneh juga akan terjadi di bisnis digital lainnya. Pasalnya, bisnis digital bukanlah seperti menjual produk biasa, yang beli berapa, ambil margin berapa dan jual berapa secara langsung. Monetisasi bisnis digital membutuhkan nafas yang panjang seperti lari marathon. Yang tidak kuat, akan lebih dulu mundur teratur. Apalagi bisnis ini belum sepenuhnya mendapat perhatian dan bantuan secara jelas dari pemerintah. Harapan mendapatkan keuntungan, tapi malah buntung. Sehingga tak heran, jika dikatakan bisnis ini laksana bisnis bakar duit.

< < Sebelumnya

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *