Search
Senin 12 April 2021
  • :
  • :

CYBERLIFE | Ketika Internet Menyapa Batu Tepak

MAJALAH ICT. Dilihat dari wilayah, Dusun Batu Tepak memiliki daerah berbukit dan daerah pantai, sebagian wilayah perkebunan telah berubah fungsi menjadi wilayah tambang galian C dan

persawahan. Desa Sukadana merupakan salah satu desa kering yang curah hujan sangat kecil.

Dusun Batu Tepak merupakan potret desa tertinggal di Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Meski hanya berjarak 4 kilometer atau 15 menit dari pusat kota Bayan bila menggunakan kendaraan roda dua, namun Batu Tepak termasuk dusun terbelakang, terutama karena keterbatasan pendidikan dan kesehatan.

Data dari kelurahan setempat menyebutkan pada 2011 300-an jumlah warganya, hanya satu orang yang tamatan SLTA dan satu lagi tamatan SLTP, sementara sisanya sebagian besar tidak tamat SD. Hal ini dikarenakan, selain warganya hidup dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan, juga jauhnya jarak sekolah dari tempat tinggalnya.

Wajar saja, untuk bersekolah, anak SD harus berjalan kaki sampai 3 km, sehingga tidak sedikit yang putus sekolah ditengah jalan. Apalagi SLTP dan SLTA yang jaraknya hingga puluhan kilometer.

Mayoritas pemuda desa yang putus sekolah biasanya langsung menjadi penambang galian C atau bertani. Keterbelakanganpendidikan membuatnya tak bisaberbuat banyak, apalagi pemda setempat seakan tak perduli. 

Beberapa hari disana cukup menggugah hati dan nurani saya, karena meski terbelakang, semangat belajar pemuda-pemuda desa ternyata tetap tinggi.

Seperti misalnya warga desa bergotong royong membangun sebuah lembaga pendidikan, bahkan warga sudah siap menyumbang atap bangunan ditambah iuran Rp10.000. Sayangnya, pemerintah bergeming dan tak memberikan respon apapun.

Antusias warga

Keberadaan lembaga pendidikan di Dusun Batu Tepak sangat dibutuhkan, karena warga setempat sadar, bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap manusia, sehingga mereka tidak mau lagi meninggalkan generasi penerusnya sebagai generasi yang bodoh dan buta ilmu pengetahun.

Namun, sejak ada komputer di balai dusun bantuan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, ditambah lagi berdirinya base transceiver station (BTS) XL di desa itu, antusias warga desa untuk belajar cukup tinggi.

""Dengan bantuan donggle dari kemenkominfo, beberapa pemuda desa ikut dalam sekolah terbuka atau home schooling yang diberikan dalam format video conference. Mereka juga bisa mengunduh e-book yang diberikan dalam pengajaran tersebut.

Selain pendidikan, warga dusun yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan penambang galian C juga mulai mendapatkan gambaran harga pertanian di daerah lain sehingga tak lagi dibodohi tengkulak. Petani mulai selektif dalam memasarkan produknya bahkan ada beberapa yang bisa menembus toko ritel modern di Jakarta.

Lewat Internet pula, warga desa bisa mengetahui dan mendapatkan akses langsung ke pihak-pihak yang bisa memberikan bantuan sekolah, baik lewat website media televisi atau surat kabar lewat pengumpulan dana sosial.

Dengan makin baiknya perekonomian, sejumlah remaja dusun ada juga yang bersekolah di daerah lain, dengan cara kos atau menumpang di rumah kerabatnya. Pendidikan yang seolah- olah jauh dari jangkauan anak-anak dusun Batu Tepak mulai terpecahkan solusinya. (Twitter: @arifpitoyo)

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 7-2013 di sini 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *