Search
Sabtu 6 Maret 2021
  • :
  • :

Di 2021, Crowde Targetkan 100.000 Petani Terdigitalilasi

MAJALAH ICT – Jakarta. CROWDE ingin ada 100.000 petani yang terdigitalilasi dalam menjalankan usaha pertaniannya sehingga usaha mereka dapat berkembang dan otomatis meningkatkan kesejahteraan hidup petani. Berada di masa pandemi, bukan hal yang mudah bagi mereka. Pemanfaatan teknologi bisa menjadi salah satu solusi untuk petani bertahan di masa pandemi. Ekosistem pertanian yang berkelanjutan dari hulu ke hilir sangat bergantung pada teknologi sehingga para petani harus menguasainya.

Di masa pandemi, CROWDE pun berusaha menyesuaikan diri, salah satunya dengan menjamin harga jual yang wajar untuk setiap hasil produksi petani dan secara opsional membeli hasil panen mereka apabila hasil panen tersebut tidak terserap maksimal oleh 9 institusional off-taker yang telah bekerja sama dengan CROWDE.

Tercatat pada bulan Oktober – November 2020, CROWDE berhasil menyalurkan total permodalan sebesar Rp22 miliar. Hingga kini, setidaknya ada 28.000 mitra petani yang telah bergabung dan 3.215 mitra toko tani yang menyalurkan permodalan sistem cashless dengan menyediakan semua kebutuhan mitra petani untuk menjalankan proyek budidaya.

Di tahun 2020, CROWDE juga merubah rasio kontribusi pemodal menjadi 8 : 92 (retail : institusi) yang mana berdampak pada kinerja petani. Sebanyak 85% mitra petani mengaku proses penyaluran modal jadi lebih cepat, terkontrol, dan budidaya mereka jadi lebih terjadwal. Tahun lalu, CROWDE telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan beberapa institusional lender, seperti Bank BJB dan BPR Supra untuk mendanai mitra petani di wilayah Cianjur, Sukabumi, serta Garut.

“Di tengah pandemi, kami pun telah memperluas jangkauan proyek permodalan budidaya ke 10 wilayah, yaitu Lampung, Sukabumi, Subang, Indramayu, Bogor, Garut, Madiun, Tulungagung, Kediri, dan Tuban dengan total 1.802 proyek”, ungkap Afifa Urfani, Head of Funding & Impact CROWDE.

CROWDE juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan Bimtek (Bimbingan Teknis) yang diselenggarakan oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor pada akhir tahun 2020. Kegiatan tersebut bertujuan menarik minat generasi muda agar mau menjadi petani milenial. CROWDE melakukan jajak pendapat untuk mencari indikator permasalahan yang mungkin dialami para petani milenial.

“Kami yakin bahwa permasalahan yang dihadapi petani milenial pasti memiliki solusi dan jawaban, salah satunya melalui program GARAP (Gerakan Rakyat Petani) yang merupakan produk project financing yang berfokus pada komoditas padi, jagung, dan cabai dengan melibatkan Farmers Consultant dan Field Agent sebagai pendamping lapangan yang akan selalu dekat dengan petani Indonesia”, imbuh Rizky Andika Septiyanzar, Lead of Enterprise CROWDE yang hadir sebagai perwakilan.

Rizky juga menambahkan, petani milenial diharap mampu melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) agar dapat merancang pertanian yang dicita-citakannya serta mengetahui langkah apa saja yang perlu diambil untuk mewujudkannya. CROWDE yakin dengan melangkah bersama, petani mampu memberi hasil yang lebih maksimal bagi sektor pertanian Indonesia.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *