Search
Senin 25 Januari 2021
  • :
  • :

Disruptor Menciptakan Peluang Bagi Industri Vital ASEAN di Tengah Pandemi Global

MAJALAH ICT – Jakarta. Proses digitalisasi yang begitu cepat terjadi di tengah pandemi pada sejumlah industri vital di kawasan ASEAN, seperti pendidikan, kesehatan, dan rantai pasok atau supply chain telah membuka peluang baru bagi disruptor digital, menurut penelitian Cisco dan Jungle Ventures. 

Penelitian yang berjudul Emerging Disruptors from the Global Pandemic (Disruptor yang Muncul akibat Pandemi Global) ini menyoroti transformasi pada sektor pelayanan vital di masa pandemi COVID-19 di kawasan ASEAN dan menampilkan contoh-contoh disrupsi yang telah berhasil diselenggarakan

Penelitian ini menyoroti bagaimana agenda digitalisasi di negara-negara ASEAN telah mempermudah perusahaan di kawasan ini untuk melakukan transisi selama pandemi COVID-19, dalam hal menjalankan sistem operasi dan mengakomodasi kerja jarak jauh. Hasilnya, ASEAN menjadi salah satu wilayah dengan perkembangan ekonomi digital paling cepat di seluruh dunia melalui pengembangan berbagai platform berbasis digital di sektor-sektor vital.

“Pandemi COVID-19 telah membuktikan kemampuan manusia untuk berinovasi dengan cepat ketika menghadapi disrupsi yang terjadi. Beberapa sektor yang tedampak paling besar oleh pandemi seperti pendidikan, kesehatan, dan rantai pasok dan logistik telah berhasil beradaptasi dan membayangkan kembali masa depannya. Selain itu, mereka juga mampu mengimplementasikan strategi yang inovatif, dan mengadopsi pola pikir yang tangguh. Saat ini kami melihat inovasi besar-besaran bermunculan, yang akan mempermudah kenormalan baru ini,” ungkap Naveen Menon, Presiden Cisco untuk ASEAN.

Laporan tersebut juga menunjukkan bagaimana perubahan dalam ekonomi global telah berkontribusi pada munculnya start-up yang mengubah industri serta mendisrupsi organisasi. Dengan mayoritas roda perekonomian ASEAN yang masih digerakkan secara offline, hal ini menciptakan peluang besar bagi start-up teknologi. Data terkini dari STATION F, salah satu kampus start-up terbesar di dunia, menunjukkan bahwa 18% start-up di seluruh dunia telah beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan baru dari pasar, sejak krisis ini dimulai dan 13% lainnya mempertimbangkan hal yang serupa dalam kurun waktu enam bulan ke depan.

“Disrupsi bisnis dapat menjadi pemicu inovasi dan banyak start-up di ASEAN telah menjadi yang terdepan dalam pergeseran digitalisasi ini, untuk mengisi celah dan menangkap peluang baru yang muncul. Sebagai salah satu perusahaan modal ventura terbesar di Asia Tenggara, kami senang dapat bermitra dengan Founders yang berambisi untuk memecahkan tantangan baru ini dan membangun bisnis yang berkelanjutan dan terdepan di bidangnya,” kata Amit Anand, Founding Partner, Jungle Ventures.

Laporan ini memberikan analisis mendalam tentang bagaimana bisnis di tiga sektor utama yaitu Pendidikan, Perawatan Kesehatan, dan Rantai Pasok dan Logistik menanggapi krisis ini dan mengadopsi teknologi dengan cepat dan inovatif untuk meminimalisir gangguan pada layanan mereka.

Meminimalisir kesenjangan pendidikan

COVID-19 mengakibatkan penutupan sekolah dan lembaga pembelajaran, mengganggu miliaran siswa di seluruh dunia, termasuk 160 juta siswa di ASEAN, berdasarkan data UNESCO. Proses belajar mengajar pun dengan cepat beralih ke online dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dan belum teruji sepenuhnya. Karena itu, implementasinya pun menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Terlepas dari jumlah pennguna internet yang mencapai 350 juta, ketersediaan infrastruktur teknologi, dan konektivitas internet, tidak semua masyarakat di seluruh penjuru ASEAN dapat memenuhi standar pengadaan pembelajaran jarak jauh ini.

Laporan ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang belum sepenuhnya bisa memadukan pembelajaran virtual dan pembelajaran tatap muka. Namun, beberapa perusahaan yang berhasil melakukan ini telah bermunculan dan diperkirakan akan semakin mendominasi, salah satunya adalah Jaritmatika Foundation. Perusahaan ini berfokus pada upaya meningkatkan kemampuan ibu rumah tangga dalam membentuk pola pikir dan keterampilan dari generasi penerus bangsa Indonesia.

Kenormalan baru dalam layanan kesehatan

Laporan ini juga menunjukkan bahwa pergeseran ke teknologi digital yang disebabkan oleh pandemi dapat menjadi titik balik bagi berbagai organisasi/perusahaan kesehatan yang ingin berinvestasi pada teknologi digital dan mentransformasikan model usahanya. Kelincahan dan inovasi adalah dua kekuatan penting bagi perusahaan untuk memasuki pasar di bidang kesehatan.

Salah satu disruptor terdepan di sektor ini, Homage, sebuah start-up asal Singapura yang memperkenalkan perawatan kesehatan personal namun terjangkau di rumah untuk memenuhi tingginya permintaan akan perawatan preventif seiring dengan peningkatan populasi lansia di negara tersebut.

Ke depannya, data menunjukkan bahwa penyedia layanan kesehatan dan pelaku industri kesehatan harus terus mengadopsi dan memanfaatkan teknologi digital setelah dunia berhasil melawan pandemi COVID-19. Fasilitas kesehatan umum dan swasta harus beradaptasi, sementara pemerintah semestinya membuat peraturan-peraturan yang mendukung perubahan ini. Hal ini berpotensi untuk membentuk kenormalan baru di sektor kesehatan di mana layanan perawatan primer dan preventif berbasis teknologi akan mengubah cara kerja industri di masa depan.

Transformasi manajemen rantai suplai dan logistik

Pandemi global telah membuat negara dan perusahaan di seluruh dunia kesulitan mengatasi ketergantungan mereka pada rantai pasok, dan terpusatnya rantai pasok tersebut di daerah tertentu. Pandemi COVID-19 menciptakan ripple effect pada perekonomian global yang membuat visibilitas rantai pasokan dan pemetaan jaringan menjadi sangat penting.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa membangun bisnis yang tepat dan alur kerja yang strategis bisa membantu menyelesaikan masalah dalam hal rantai pasok dan logistik. Beberapa pemain teknologi utama yang mengubah pasar logistik adalah mereka yang menawarkan solusi pengadaan digital melalui kombinasi mulus antara perangkat lunak dan layanan. Moglix, sebuah platform pengadaan digital khusus asal Singapura, muncul sebagai perusahaan yang memungkinkan perusahaan manufaktur dan sourcing partner atau mitra supplier-nya untuk mengubah alur kerja mereka menjadi berbasis digital. Walaupun kontrol krisis tidak akan bisa terautomatisasi sepenuhnya, rantai suplai yang komprehensif dengan data yang real-time bisa jadi faktor penentu kesuksesan di masa depan.

Mempercepat inovasi dan perubahan yang positif

Perubahan pada perekonomian global dan kemunculan disruptor telah membuktikan pentingnya transformasi bagi start-up agar dapat beradaptasi dan memanfaatkan momentum pertumbuhan baru. Sebagai tambahan, laporan ini merekomendasikan pemerintah dan pembuat kebijakan di ASEAN agar menentukan bagaimana negara mereka bisa memanfaatkan peluang dalam melakukan modernisasi industri vital. Perusahaan di ASEAN yang ingin memanfaatkan dan mendukung disrupsi digital ini juga perlu bekerja sama dengan mitra ekosistem mereka untuk meningkatkan penawaran yang mereka berikan.

“Pendekatan dari berbagai aspek yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, sektor publik dan swasta, diperlukan untuk mendorong perubahan positif pada ekosistem start-up di ASEAN. Kami meyakini pentingnya nilai ekosistem inovasi dan karena itu, kami senantiasa berkomitmen untuk membina start-up teknologi dengan pertumbuhan tinggi di seluruh kawasan ASEAN,” ucap Rajiv Menon, Head of Cisco Investments and M&A for Asia Pasifik and Jepang.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *