Search
Jumat 20 September 2019
  • :
  • :

Dunia Diselimuti Multiscreen

MAJALAH ICT – Jakarta. Perkembangan teknologi informasi dan Internet yang begitu cepat menjadikan pemasang iklan tidak lagi memfokuskan diri ke layar besar atau televisi, tapi juga layar kecil seperti ponsel dan tablet.

Izak Jenie dari Nexian malah mengungkapkan bahwa iklan di televisi sudah tak relevan lagi saat ini, apalahi bila melihat sangat jarang orang yang menonton televisi lebih dari 3 jam dalam sehari.

“Kalau internetan di depan ponsel atau tablet banyak yang lebih dari 3 jam dalam sehari, dan jumlahnya akan terus meningkat di masa-masa mendatang,” ujar Izak yang juga pernah di Jatis Mobile tersebut dalam Talk Show mengenai MultiScreen di ajang Traceroute Internet Party 2013 di Jakarta Convention Center 14 April 2013.

Menurut dia, rating iklan yang digelar sejumlah lembaga dan perusahaan riset seperti Nielsen seharusnya sudah mulai mencantumkan layar selain televisi, yaitu layar ponsel, komputer, dan tablet.

Iklan-iklan di ponsel, menurut Izak, lebih mudah dikendalikan, dimana pengguna bisa menghilangkannya dengan hanya menulis SMS unreg.

“Sedangkan di televisi, kita sepertinya pasrah saja menerimanya, paling kalau tidak berkenan ya tinggalpindah channel saja,”tuturnya.

Terkait dengan perkembangan teknologi di layar kecil, menurut Izak Indonesia sudah sangat advance, bahkan dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Di Malaysia Orang India berkomunikasi dengan rumahnya di India pakai SMS. Orang Vietnam menggunakan kakao talk, sedangkan orang Indonesia sudah memakai Skype.

Izak menuturkan perkembangan layar ponsel juga sudah luar biasa, contohnya Samsung yang sudah mengeluarkan teknologi quadcore, dan kalau sampai 16 core, ponsel bisa menghitung jumlah orang secara natural, termasuk jenis kelaminnya masing-masing dengan hanya capture foto saja.

“Dulu ga pernah kefikiran bisa video conference lewat layar ponsel, sekarang semuanya bisa dilakukan, termasuk dengan multiperson,”ujarnya.

Menurut dia, baik layar besar, layar kecil, atau multiple harus sama-sama digarap.

Sementara itu, menurut CEO PT Internetindo Data Centra (IDC) Sri Handayani atau akrab disapa Aie, perkembangan teknologi informasi di Inodnesia sudah oke, tinggal bagaimana programmer atau ahli IT di Indonesia mengembangkannya.

“Seperti misalnya digital advertising yang sering muncul di televisi, bagaimana bisa meindahkannya ke dalam ponsel, ini yang jadi tantangan bersama,” ungkapnya.

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *