Search
Minggu 27 September 2020
  • :
  • :

Gernas BBI Ajak Masyarakat Gunakan Produk UMKM Lewat Go Digital

MAJALAH ICT – Jakarta. Pemerintah kini menggalakkan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI). Gerakan itu ditargetkan dapat membangkitkan dan menumbuhkan produktitifitas di masa pandemi Covid-19. Terutama  mengajak masyarakat untuk menggunakan produk-produk buatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam negeri sebagai alternatif substitusi impor. 

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menuturkan gagasan Gernas BBI #KitaBelaKitaBeli ini dilatari adanya kesadaran bahwa sekarang merupakan waktunya Indonesia untuk melakukan substitusi impor. 

“Sekarang waktunya demand di dalam negeri diisi oleh produksi dalam negeri sendiri dan salah satu yang kuat serta punya daya tahan yang cukup tinggi untuk melakukan subtitusi impor adalah sektor UMKM,” ujarnya dalam Program Prime Talk, dari Studio 1 Metro TV, Jakarta.

Meski banyak sektor-sektor besar di industri manufaktur yang  bahan bakunya banyak dari luar, namun Menteri Johnny menilai UMKM mempunyai potensi yang luar biasa.

“UMKM itu juga berbasis kepada produksi dan baku dalam negeri. Di satu sisi, memang tekanannya besar tapi di sisi yang lain itu ada peluang yang sangat besar,” paparnya.

Menurut Menteri Kominfo, lembaga yang dipimpinnya tengah membantu pelaku UMKM yang terdampak begitu dalam karena Covid-19. Hal itu dilakukan dengan menjamin ketersediaan infrastruktur TIK sebagai salah satu syarat untuk mewujudkan percepatan transformasi digital.

Meskipun demikian, Menteri Johnny mengakui masih ada beberapa tantangan. Misalnya, belum semua daerah di Indonesia terjangkau jaringan 4G.

“Tantangan yang paling besar memang salah satunya adalah penggelaran infrastruktur TIK. Kalau internet atau 4G ada, maka digitalisasi dapat berjalan dan sebagian terbesar coverage-nya di kota-kota besar sudah tersedia,” urainya.

Selain itu, tantangan lainnya adalah mengajak UMKM bermigrasi dari offline ke online untuk onboarding. Sehingga, diharapkan semakin banyak lagi yang masuk di dalam digital economy. “Dan itu merupakan kesempatan emas untuk substitusi impor,” tambahnya.

Pelaku UMKM Go Digital

Menteri Kominfo menyatakan masih ada “pekerjaan rumah” untuk mengajarkan pelaku UMKM Go Digital. Apalagi ketika pandemi Covid-19, mau tak mau akselerasi transformasi digital perlu dilakukan.

“Maka tentu persiapan untuk mengisi kebutuhan Digital Talent di Indonesia itu harus dilakukan secara masif walaupun platform, marketplace, dan pasar mungkin juga sudah ada. Namun, masih butuh pembelajaran soal digitalisasi, marketing, packaging dan lain sebagainya,” paparnya.

Menurut Menteri Johnny selain infrastruktur, sumberdaya manusiajuga sangat penting dikembangkan. “Untuk mendukung transformasi digital, Indonesia setidaknya hingga tahun 2035 membutuhkan 9 juta talenta digital yang berijazah SMK/Sarjana untuk bersama-sama membangun ekosistem digital,” paparnya. 

Lebih lanjut, Menteri Johnny menyebutkan, Kominfo juga menyadari pentingnya memastikan produktivitas masyarakat. Oleh karena itu, Kominfo menghadirkan 3 program yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk mengasah pengetahuan dan keterampilan bidang digital secara online.

“Untuk menyediakan talenta digital bagi Indonesia, Kominfo memetakannya dalam tiga level program,” tuturnya.

Menteri Johnny menuturkan, pada level pertama Kominfo mempunyai program yang disebut dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi guna menjangkau para petani, nelayan, peternak dengan tingkat pendidikan bawah yang jumlahnya sudah lebih dari 70 juta coverage-nya.

Kemudian, di tingkat menengah, melalui Digital Talent Scholarship (DTS) yang berijazah. Hal ini dimaksudkan untuk membekali dan melihat apa yang dibutuhkan UMKM Indonesia agar dapat bersaing.

“Ijazah SMA atau berijazah sarjana yang diikutsertakan di dalam program-program untuk  kemampuan menengah. Di situ pelatihan-pelatihan artificial inteligent (AI), cloud computing, dan big data serta lainnya,” tutur Menteri Kominfo.

Namun demikian, Menteri Johnny menegaskan point-nya itu adalah bagaimana mengajak UMKM yang jumlahnya 64 juta di Indonesia dan menjadi sokoguru penyumbang 60% dari GDP nasional. 

“Di antaranya ada 9,4 juta atau 14,6% dari UMKM sudah go digital. Di tingkat atasnya, atau disebut dengan Leadership Digital Academy,” tandasnya.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *