Search
Kamis 2 Juli 2020
  • :
  • :

Gojek Kembangkan Startup Anak Bangsa di Gojek Xcelerate Batch 3

MAJALAH ICT- Jakarta. Teknologi membawa dampak perubahan pola konsumsi di industri ritel Indonesia, yang diperkirakan tumbuh 10% tiap tahunnya. Seiring dengan digitalisasi, preferensi konsumen bergeser dari yang dulu berbelanja di distributor atau gerai, menjadi direct to consumer. Konsumen kini mengharapkan pengalaman yang jauh lebih cepat dan nyaman dalam mengakses produk atau jasa. Hal ini menjadi tantangan bagi para startup lokal di industri ritel – khususnya yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Agar tetap unggul, startup harus fokus mengembangkan inovasi untuk memastikan produk dan jasa mereka selalu cocok dengan kebutuhan pasar.

Untuk itu, program akselerator startup Gojek Xcelerate batch 3 melatih startup di sektor ritel dalam menerapkan inovasi kebutuhan keseharian konsumen (daily consumer innovation), sehingga mereka bisa bersaing dan tumbuh lebih cepat. Melalui Gojek Xcelerate, Gojek berbagi metode efektif dalam mengembangkan produk secara efisien kepada 9 startup anak bangsa terpilih. Metode yang kerap digunakan Gojek ini disebut sebagai growth hacking untuk mencapai product-market fit – atau kondisi dimana sebuah perusahaan sukses memberikan nilai tambah penciptaan produk atau jasa yang memang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Sebagai wujud komitmen Gojek mengembangkan industri startup Indonesia, Gojek Xcelerate dihadirkan sebagai wadah berbagi ilmu Gojek membangun decacorn pertama Indonesia. Diluncurkan di bulan September 2019, Gojek Xcelerate menargetkan membina 35 startup terbaik asal Indonesia dan Asia Pasifik melalui pelatihan berbasis kurikulum dari Gojek dan partner global lainnya, yaitu McKinsey & Co, UBS Bank, dan Google Developers Launchpad. Batch pertama Gojek Xcelerate berfokus pada Machine Learning dan telah meluluskan 5 startup tanah air, sedangkan batch kedua Women Founders telah meluluskan 9 startup asal Asia Pasifik yang dipimpin oleh perempuan.

Berkolaborasi dengan Digitaraya dan partner kelas dunia lainnya, Gojek Xcelerate batch 3 berbagi insight yang dibutuhkan startup untuk memastikan produk yang ditawarkan menjawab kebutuhan konsumen. Materi yang diajarkan, diantaranya “Growth Experimentation 101” atau eksperimentasi untuk meningkatkan penggunaan produk/jasa melalui uji hipotesis yang berasal dari data perilaku pengguna; “Supercharge your Products with Web Apps” atau pengembangan platform digital melalui framework yang lebih cepat dikembangkan dan dapat digunakan di berbagai kanal digital; serta “Building High Impact Learning Culture” atau strategi membangun budaya perusahaan yang efektif dengan pengembangan cara berpikir karyawan.

Chief Marketing Officer Gojek, Ainul Yaqin mengatakan, “Dalam perkembangan sebuah startup, penting untuk para founder menemukan cara yang paling efektif dan efisien dalam mengembangkan produk mereka, salah satu caranya adalah menggunakan growth-hacking. Metode ini mirip dengan disiplin Marketing, dimana kita selalu mengupayakan cara memasarkan produk dan jasa yang paling sesuai dengan target konsumen kita, bahkan sampai level individu. Dalam growth-hacking, startup menganalisa data perilaku konsumen untuk mencari solusi yang pasti bagi konsumen, dan ini penting untuk membantu percepatan pertumbuhan serta keberlangsungan bisnis.”

Executive Director UBS Indonesia, Riaz Hyder mengapresiasi konsistensi serta komitmen Gojek Xcelerate dalam menghadirkan startup yang berkualitas. “Berdasarkan temuan Google e-Conomy SEA 2019, ekonomi berdasar internet (internet economy) bertumbuh dengan sangat cepat, mencapai valuasi hingga 100 miliar dolar AS pada tahun 2019, dan pertumbuhan yang paling besar ada di dalam sektor e-commerce, dengan kontribusi sebesar 38 miliar dolar AS dan diperkirakan akan naik hingga 153 miliar dolar AS pada tahun 2025. Hal ini memberikan potensi yang besar bagi startup-startup Asia Tenggara dikarenakan belum ada pemimpin yang terlihat jelas dalam lingkungan kompetisi yang sangat beragam dan terfragmentasi.”

Managing Director Digitaraya, Nicole Yap menambahkan, “Dalam hasil temuan Google, Temasek, dan Bain bertajuk e-Conomy SEA 2019, Indonesia memang memiliki pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun silam, dengan pertumbuhan sebesar 49 persen dari tahun 2015 hingga 2019, dan berpotensi untuk mencapai 133 miliar dolar AS dalam 5 tahun berikutnya, namun hingga tahun 2019, tingkat kegagalan untuk sebuah startup, termasuk startup teknologi, masih mencapai lebih dari 70 persen Selanjutnya, Forbes menyebutkan 70 persen dari kegagalan startup disebabkan oleh pertumbuhan yang prematur, dimana startup menggunakan dana yang sudah di investasi untuk memperbaiki produk yang sudah ada daripada menguji produk tersebut agar cocok dengan konsumen. Pada kondisi inilah akselerator startup dapat membantu, memberikan startup petunjuk agar mereka dapat menghindari kegagalan-kegagalan yang sudah pernah ada dan mendorong mereka untuk menguji asumsi mereka lebih awal bersama dengan mentor serta ahli di bidangnya.”

Kesembilan startup anak bangsa yang berkesempatan untuk belajar langsung dari Gojek dan perusahaan global lainnya di Gojek Xcelerate batch 3 diantaranya marketplace penyewaan mainan dan perlengkapan bayi, Gigel.id; produk kosmetik dan perawatan tubuh, Callista; serta startup penyedia perangkat pintar pendukung aktivitas sehari-hari, Sugar Technology.

Pada sesi demo day yang digelar hari ini, para startup mempresentasikan model bisnis mereka di hadapan calon investor asal Indonesia dan global, VC, dan partner lainnya. Melalui kesempatan ini, Gojek Xcelerate membuka akses yang luas kepada para startup untuk mendapatkan dukungan bagi bisnisnya, termasuk kesempatan untuk bisa terintegrasi ke dalam platform dan ekosistem Gojek.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *