Search
Sabtu 21 September 2019
  • :
  • :

Indonesia Darurat Serat Optik

MAJALAH ICT – Jakarta. Masih ingat kelumpuhan akses Internet di Indonesia pada Desember 2006? Saat itu, gempa bumi laut dalam di Taiwan turut

menjadi ‘bencana’ di Indonesia, khususnya bagi industri Internet yang terpukul mundur hingga 10 tahun ke belakang. Koneksi Internet yang lumpuh hingga menghambat aktivitas bisnis.

Gempa berkekuatan 7,1 pada skala Richter di selatan Taiwan itu memutuskan empat jalur kabel serat optik bawah laut yang menjadi tulang punggung koneksi lalu lintas data antara Asia Pasifik dan Eropa-Amerika.

Jalur itu adalah SMW3 (Southeast Asia-Middle East-Western Europe 3), APCN (Asia Pacific Cable Network), SingTel Internet Exchange (STIX), FLAG (Fiber Optic Around the Globe) dan CHUS (China- United States).

Dari pelajaran putusnya kabel serat optik tersebut membuat para penyelenggara jasa Internet (PJI) di Indonesia harus mempersiapkan jaringan alternatif, diantaranya bisa lewat Australia atau jaringan melalui backbone satelit.

Ternyata, mimpi buruk matinya Internet karena putusnya jaringan serat optik terjadi lagi pada Sabtu, (23/3), namun hanya terjadi pada pelanggan Smartfren. Kabel laut utama milik operator tersebut putus di jalur antara Pulau Bangka dan Pulau Batam yang mengarah ke Singapura.

Selain jaringan utama yang putus, jaringan back up trans Sumatra di dua sisi, yaitu jalur timur dan barat juga ikutan bermasalah.

Sudah saatnya operator telekomunikasi memikirkan untuk membangun rute lainnya ke hub Internet internasional, selain Singapura.

Pilihan untuk menjadikan Singapura sebagai hub secara bisnis memang realistis, tetapi memilih hub lainnya seperti China, Australia (Darwin), atau Hong Kong, dengan memanfaatkan selesainya koneksi backbone di Indonesia bagian timur tentu hal yang wajar dipertimbangkan.

Sudah saatnya semua operator membangun backbone dan backhaul secara bersama-sama agar investasi bisa ditekan dan tarif ke pelanggan lebih terjangkau. Pemerintah sebagai regulator harus bisa memfasilitasi hal ini untuk layanan broadband yang lebih baik di Indonesia.

Penggelaran jaringan serat optik di Indonesia memang terkesan acak-acakan. Cetak biru jaringan serat optik sangat diperlukan, terutama adanya sinergi dengan pembangunan infrastruktur yang ada, seperti jalan tol, jalan layang, monorel, dan lainnya.

Maka, tidak salah apabila dikatakan Indonesia darurat serat optik, mengingat Palapa Ring yang sebelumnya digadang-gadang jadi backbone infrastruktur nasional, tak kunjung terwujud. (ICT/02)

 Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 7-2013 di sini 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *