Search
Jumat 20 September 2019
  • :
  • :

Ingin Jadi Technopreneur? Inilah Resepnya

MAJALAH ICT – Jakarta. Pelaku bisnis teknologi informasi makin banyak, seiring dengan mudahnya menjadi seorang technopreneur.

Hal itu diungkapkan Abimanyu Wachjoewidajat, Managing Director PT Inovassi Mitra Solusindo di sela-sela ajang Traceroute Internet Party 2013 di Jakarta Convention Center 14 April 2013.

Menurut dia, pendidikan dan usia bukanlah halangan seseorang menjadi technopreneur, karena asal ada kemauan, dengan modal yang kecil pun bisa menjalankannya.

“Pendidikan bukan syarat utama menjadi technopreneur. Usia juga bukan menjadi batasan menjadi technopreneur. Selama ini universitas mendidik mahasiswa menjadi karyawan. Sedangkan orang-orang hebat di bidang IT seperti Bill Gates tdk pernah lulus kuliah,”ujar pemilik akun twitter @ask_abah tersebut.

Menurut dia, di Indonesia, penyerapan tenaga kerja terhadap orang yang lulus kuliah sangat kecil, bahkan kebanyakan diantaranya justru tak lulus kuliah.

Syarat utama menjadi technopreneur, menurut Abimanyu adalah basic skill, technical skill, technopreneur skill, dan modal.

Skill dasar pengusaha adalah salesmanship, presentation, relation network, dan simple management, sedangkan technical skill adalah mengetahui (bukan menguasai) hardware, software programming dengan bahasa masa kini dan depan.

Adapun, Technopreneur skill adalah bakat, belajar dari kiat orang, belajar dari pasar, cari peluang, belajar ilmu technopreneur, dll.

Bicara soal modal, tambah Abimanyu, harus low cost, artinya bisa dengan open source, bantuan aplikasi, misal dari Microsoft BizSpark, manfaatkan web apps, dan profit sharing dengan developers, serta soft loan dengan investor.

Keuntungan berbisnis IT adalah risiko rendah, biaya rendah (kantor tak ada), Mudah berpindah tempat bahkan bisa multi tempat, tidak ada batasan negara, mudah melakukan support, mudah berganti produk atau layanan, cukup modifikasi dari produk yang sudah ada, buat sekali jual berkali kali, dapat melayani jarak jauh (remote).

“Kunci utama melakukan usaha aalah dengan menerapkan 10i, yaitu Initiative, Innovation, Interaction, Independency, Irresistible, Involvement, improvement, Internet, Infinity, Image keeping,”ujarnya.

Abimanyu mengatakan seorang ahli IT bisa membahas berbagai bidang di luar IT, baik pertanian, edukasi, arsitek, hotel, manufaktr, keuangan, teknik dll sehingga kesempatan orang IT begitu luas karena bisa menghasilkan solusi berbagai bidang.

“Saat ini bahkan orang-orang di luar IT pun masuk ke dunia IT. Jawabannya karena sekarang aplikasi dan sistem operasi di komputer makin mudah, dan tidak repot,”katanya. Dengan kondisi seperti itu, orang IT dikhawatirkan tidak bisa bersaing, aplagi informasi berbagai hal tentang teknologi informasi bisa begitu mudah didapatkan di Internet.

Apalagi, lanjutnya, aplikasi atau software yang mudah itu bisa didapatkan secara gratis, karena ada open source atau free software, sehingga tanpa uang dan kemampuan sebagai programmer pun seseorang bisa menjadi penguasaha TI.

“Seorang technopreneur harus membuat lain dari yang lain, yaitu aplikasi yang selengkap mungkin hingga kebutuhan klien semuanya terpenuhi serta menutup celah adanya kekurangan dalam software tersebut,”katanya.

Abimanyu menuturkan bisa usaha makin besar, maka eksistensi setiap individu di dalamnya makin tak kelihatan, apalagi sebagai karyawan. Sebaliknya, usaha kecil, eksistensi individu makin terlihat jelas.

Karyawan adalah seseorang dimana pekerjaannya hanya atas apa yang diminta atasan dan tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada perusahaan, karyawan tidak tahu kemana perusahaan mengarah.

“Kalau pengusaha, usaha adalah milik anda, beban anda, dan masa depan anda. Menentukan arah sesuai dengan yang diinginkan. Membawa perusahaan ke arah yang diinginkan bukan yang bisa dicapai,”katanya.(ap)

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *