Search
Senin 12 April 2021
  • :
  • :

Internet Redupkan Media Cetak

MAJALAH ICT – Jakarta. Berkembangnya dunia sosial media di Indonesia bak cendawan di musim hujan, tumbuh signifikan, dan bahkan akun twitter sudah menjadi ikon baru seseorang.

Di era social media seperti saat ini, orang bisa membangun media tanpa investasi yangg besar dan tanpa perizinan yang rumit, serta  bisa dilakukan siapa saja.

“Akun seseorang yang sudah memiliki follower lebih dari 50.000 orang, sudah bisa disebut media baru, karena setiap tulisannya diakses lebih dari 50.000 orang, suatu oplah media cetak yang tak kecil,”ungkap aktivis social media Nukman Luthfie dalam Talk Show di ajang Traceroute Internet Party 2013 di Jakarta Convention Center, 13 April 2013.

Menurut Nukman yang memiliki akun twitter @nukman, yang paling terimbas berkembangnya social media adalah media cetak, sedangkan televisi masih kuat karena pemasang iklan masih menjadikan televisi sebagai prioritas.

Media klasik seperti radio dan media cetak sudah ada di Internet sehingga mulai ditinggalkan karena tingginya penetrasi gadget cerdas di tengah masyarakat, sehingga orang bisa mengakses berita online langsung dari twitter.

“ Dulu ketika ada radio, koran dikhawatirkan akan turun, ada tv dikhawatirkan radio turun, tapi kenyataannya mereka tetap hidup, meski pertumbuhannya lambat. Yang paling terkena dampak perkembangan internet adalah media cetak. Bahkan beberapa media cetak di AS sdh tutup.”

Media cetak masih bisa tetap hidup karena tertutup biayanya oleh iklan, sedangkan bila tak ada iklan, tambahnya, lambat laun akan mati dengan sendirinya. Iklan di media cetak pun sudah mulai tergerus media online karena perhitungan pengunjung dan pembacanya terukur lewat berbagai aplikasi termasuk Google Analytics dan Alexa.

Sedangkan media televisi, lanjut Nukman, pemasang iklan percaya bahwa 99% penduduk Indonesia menonton televisi, sehingga industry iklan di media tersebut masih sangat seksi.

“Jangankan media cetak, blog juga sekarang menurun, orang lebih suka ke twitter, microblogging, tulisan ga perlu panjang, dan ga perlu edit, dan ga perlu gambar,”tukas Nukman.(ap)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *