Search
Rabu 27 Januari 2021
  • :
  • :

Kemungkinan Blok 3G akan Ditata Ulang Kembali Pasca Keputusan Merger XL-AXIS

MAJALAH ICT – Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Informatika kemungkinan besar akan kembali melakukan tata ulang 3G pasca penetapan hasil kajian teknis merger PT XL Axiata dan PT AXIS Telekom Indonesia. XL akan diminta mengembalikan 5 MHz blok 3G yang dikuasainya, sehingga perlu penataan ulang kembali. Indosat dikabarkan bersedia menampung limpahan 5MHz yang dikembalikan XL, sehingga penataan 3G tidak menjadi kompleks.

Soal kemungkinan penataan ulang blok 3G diungkap Dirjen SDPPI M. Budi Setiawan. "Kemungkinan akan dilakukan penataan ulang kembali. Kami masih menunggu hasil kajian teknis merger XL dan aXIS, namun XL sendiri bersedia mengembalikan 5 MHz di blok 3G," ungkap Budi. Menurut Budi, hasil kajian dan keputusan akhir merger XL-AXIS akan diputuskan akhir bulan ini. 

Dijelaskan Budi, secara prinsip Kominfo sudah menyetujui merger ini, namun di sisi lain ada kajian-kajian yang perlu didalami sehubungan adanya sumber daya terbatas, yang dalam hal ini frekuensi jika kedua operator tersebut bersatu. Kajian itu baru akan diselesaikan tim kelompok kerja di akhir bulan ini. "Ditargetkan akhir bulan ini. Namun begitu, setiap minggu dilaporkan terus soal hasil kajian kelompok kerja untuk konsolidasi itu," ungkap Budi.

Budi juga menjelaskan bahwa yang masih menjadi perbincangan terkait konsoidasi AXIS-XL ini adalah masalah frekuensi. "Masih belum putus apakah dikembalikan satu blok 3G sebesar 5 MHz di 2,1 GHz atau diambil sebagian yang 1.800 MHz," ujarnya. 

Berlarutnya kajian teknis merger XL-AXIS menjadi pertanyaan Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute. Menurut pengamat telekomunikasi ini saat acara Diskusi Terbuka "Merger dan Akuisi di Sektor Telekomunikasi" yang diadakan ICTL beberapa waktu lalu, merger atau akuisisi bukan hal baru di industri telekomunikasi, sehingga preseden yang sudah ada dapat dijadikan acuan pengambilan kebijakan. "Merger atau akuisisi bukan barang baru. Satelindo diambil Indosat, semua frekuensi Satelindo menjadi milik Indonesia, termasuk kode akses SLI 008," contoh Heru yang mantan Anggota BRTI dua periode ini.

Ditambahkannya, antara SmartFren dan Smart Telecom juga terjadi konsolidasi, begitu juga Bakrie Telecom dengan Sampoerna Telekom Indonesia dan REJA. "Dari konsolidasi tersebut, tidak ada yang diambil frekuensi atau nomornya. Dan terakhir adalah pembelian 80% saham Telkom Vision oleh CT Corp. Ini juga tidak masalah, meski Telkom Vision mengelola sekitar 200 MHz frekuensi," jelasnya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *