Search
Senin 21 September 2020
  • :
  • :

Kerja Sama Strategis CIO/CEO Memacu Inovasi di Tengah Turbulensi Pasar Global

MAJALAH ICT – Jakarta. Perusahaan-perusahaan kini tengah menghadapi dinamika bisnis baru yang sarat disrupsi serta persaingan global, sehingga prioritas investasi teknologi perusahaan makin kompleks dan terus berubah. Tuntutan untuk terus beradaptasi terhadap kondisi terkini membuat kebanyakan perusahaan terpaksa menjalankan bisnis tidak seperti biasanya. Tidak ada lagi status quo dalam dunia bisnis—perusahaan harus bertumbuh jika tidak ingin gulung tikar.

Bagi kebanyakan CIO, pengoperasian pusat data kini berada di urutan terakhir prioritas. Peristiwa-peristiwa global yang disruptif mengakibatkan investasi melenceng dari peta jalan yang telah dibuat dan proyek-proyek nonesensial ditangguhkan. Untuk bertahan dan bertumbuh, perusahaan harus memiliki inti digital. Dalam sekejap, fokus para CIO beralih ke investasi solusi yang utamanya melayani kebutuhan pelanggan melalui platform digital. Bagi sejumlah perusahaan, infrastruktur digital mereka kini harus mampu menangani pekerjaan yang 100% bersifat jarak jauh. Perusahaan yang sudah memiliki platform digital tentunya mampu lebih gesit menyesuaikan diri ketimbang yang belum atau kurang berinvestasi pada infrastruktur digital.

Yang sesungguhnya dibutuhkan para CEO dari CIO mereka adalah panduan strategis yang adaptif, yang dapat membantu mereka berputar haluan dengan cepat saat disrupsi mengadang. Selain itu, para CEO juga membutuhkan CIO mereka bijaksana dalam mengambil keputusan investasi yang mengoptimalkan biaya, menyelamatkan pekerjaan, menstabilkan operasi bisnis, sekaligus mengalihkan tenaga TI ke inisiatif-inisiatif strategis tersebut. Untuk mencapainya, CIO harus disertakan dalam pembahasan bersama CFO, CEO, dan CPO untuk menghasilkan strategi bisnis yang memfasilitasi peta jalan TI.

CIO harus berinovasi dengan anggaran terbatas

Semua bisnis dan segmen pasar tengah terdampak oleh disrupsi global yang terjadi saat ini. Untuk memastikan roda perekonomian tetap bergerak, pemerintah membelanjakan uang jauh lebih banyak daripada yang mereka harapkan dapat kembali. Saat terjadi disrupsi pendapatan, semua berubah. Sayangnya, terjunnya pendapatan terjadi jauh lebih cepat ketimbang waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk memangkas biaya.

Agar mampu bertahan, perusahaan harus fokus pada arus kas. Banyak perusahaan yang lambat membayar atau berusaha bernegosiasi ulang dengan tiap vendor. Pengetatan justru diterapkan pada proyek dan jasa yang perlu dimiliki ketimbang yang ingin dimiliki atau yang menyenangkan untuk dimiliki. Perusahaan bersaing demi nilai pendapatan yang lebih kecil sementara para CIO harus berinovasi dengan memperhatikan prioritas sambil memastikan sistem yang ada saat ini tetap berjalan. Banyak proyek TI yang dibatalkan. Contohnya, peremajaan ERP yang tidak terlalu berkontribusi terhadap daya saing atau pertumbuhan ditunda selama satu tahun atau lebih hingga arus kas perusahaan kembali pulih.

Untuk bertahan, dan pada akhirnya bertumbuh, CIO harus mencermati pengeluaran mereka dan segera mengambil langkah perubahan yang menyelaraskan pendapatan di sisi depan layar dengan biaya di sisi belakang layar. Dalam kondisi pasar saat ini, hal ini berarti mengalihkan anggaran ke investasi teknologi dan jasa digital yang tetap mampu mendukung strategi inovasi perusahaan di tengah ketidakpastian. Ketika 90% dari anggaran CIO dipakai untuk operasi yang sedang berjalan serta peningkatan sistem back end, anggaran yang tersisa untuk berinvestasi pada strategi inovasi perusahaan tinggal 10%.

Perusahaan sebaiknya menargetkan untuk seminimal mungkin mengubah sistem back end. Tingkat kematangan sistem ini membuat risiko kerusakannya rendah, sehingga layanan dukungan yang dibutuhkan lebih berupa pembaruan terkait pajak dan regulasi serta saran dan pertimbangan, yang semuanya dapat diperoleh dari penyedia jasa pihak ketiga independen dengan harga jauh lebih murah dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk vendor perangkat lunak perusahaan.

Sebagai gantinya, CIO perlu mengoptimalkan biaya operasi sistem back end seperti ERP dan mengalihkan dana yang berhasil dihemat ke strategi inovasi TI yang mendukung prioritas digital CEO. Investasi pada sistem front end, tempat terjadinya interaksi penting dengan pelanggan, akan lebih relevan bagi strategi bisnis CEO. Pada sistem dinamis yang berhadapan dengan pelanggan inilah perubahan terus diperlukan agar perusahaan senantiasa memiliki daya saing. Di sini jugalah digitalisasi akan membantu memikat dan mempertahankan pelanggan—kunci sukses perusahaan untuk bertahan dan bertumbuh.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *