Search
Senin 21 Oktober 2019
  • :
  • :

Kisruh Paten, Perusahaan Indonesia Ini Gugat LG

MAJALAH ICT – Jakarta. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar, banyak karya-karya anak bangsa ini yang sudah diakui bahkan telah mengubah dunia Internasional, seperti Pondasi Cakar Ayam karya Prof Sedijatmo, Singkong Pemadam Api karya Randall Hartolaksono, Pengering Sperma karya Mulyoto Pangestu, Kapal Ikan Bersirip karya Alex Kawilarang, dan masih banyak karya anak bangsa lainnya, baik itu penemuan besar maupun sederhana semuanya harus sama-sama dihargai oleh Bangsa ini, oleh Negara kita ini. Negara harus hadir melindungi dan memperjuangkan karya-karya anak bangsa, negara harus menjadi yang terdepan ketika ada karya anak bangsa yang dicuri oleh Negara lain ataupun perusahaan asing yang berkedok perusahaan Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan oleh Didi Setiadi yang merupakan CEO PRASIMAX. Didi menegaskan di awal 2010 PRASIMAX, sebuah perusahaan lokal Indonesia, meng-invensi sistem monitoring transaksi komersial secara elektronik yang dapat digunakan untuk monitoring pajak daerah. Invensi PRASIMAX tersebut didaftarkan pada Agustus 2011, dan telah disahkan oleh Dirjen Kekayaan Intelektual, Kemenkumham RI pada pertengahan 2016. Paten milik PRASIMAX ini diterapkan pertama kali saat Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta di tahun 2011 hingga 2013. Namun tahun 2013, Pemprov DKI melanjutkan sistem monitoring pajak daerah tersebut dengan teknologi hasil invensi PRASIMAX namun menggunakan produk dari LG melalui PT LG CNS Indonesia.

Paten anak bangsa tersebut ditiru dan dipergunakan oleh LG untuk proyek pada lokasi dan pengguna yang sama, yakni Pemrpov DKI Jakarta. Tidak diam begitu saja, pada September 2013 PRASIMAX mengirim surat peringatan kepada LG atas plagiarisme teknologi, pengguna dan lokasi yang sama, namun LG mengabaikan peringatan PRASIMAX untuk penggunaan invensi teknologi milik PRASIMAX. Merespons peringatan Prasimax, LG dengan itikad tidak baik mendaftarkan teknologi milik PRASIMAX di kantor Paten Korea di bulan desember 2013 lalu selanjutnya mendaftarkan paten prioritas di kantor Paten Dirjen Kekayaan Intelektual, Kemenkumham RI, ujar Didi Setiadi yang juga merupakan Pengurus dan Pendiri Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI). Didi mengkuatirkan bahwa jika negara mengesahkan permohonan paten prioritas LG, akan terjadi dualisme paten yg akan berkonflik. Lebih mengerikan lagi apabila kelak sistem pengawasan pajak daerah di Indonesia akan dikendalikan oleh teknologi asing.

Freddy Alex Damanik dari DnD Law Office selaku kuasa hukum PRASIMAX menambahkan, plagiarisme karya anak bangsa yang dilakukan oleh LG ini merupakan penghinaan kepada bangsa ini, dengan mengakali sistem hukum kekayaan Intelektual kita, yaitu mendaftarkan Paten di Korea kemudian mendaftarkan Paten Prioritas di Indonesia atas invensi yang ditemukan dan dipergunakan pertama sekali oleh PRASIMAX. Atas perbuatan LG tersebut, kembali pada Mei 2018 PRASIMAX men SOMASI PT LG CNS Indonesia, namun karena tetap tidak mendapatkan tanggapan, melalui DnD Law Office kuasa hukumnya, pada tanggal 6 Februari 2019 PRASIMAX untuk yang ketiga kalinya men SOMASI kembali LG CNS karena telah menggunakan patennya tanpa persetujuan dari PRASIMAX, LG telah mengambil keuntungan dari paten milik PRASIMAX. Perbuatan LG telah merugikan hak eksklusif PRASIMAX selaku pemegang paten, oleh karena itu LG harus mengganti seluruh kerugian tersebut, ungkap Freddy.

“Kami juga sudah mengadukan pelanggaran paten yang dilakukan LG CNS ini ke Direktorat Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa Direktorat Jenderal Kekayan Intelektual Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI, dan kami meminta agar Dirjen KI menolak permohonan paten prioritas dari LG CNS karna permohonan itu dilakukan dengan mengakali system hukum Indonesia. Negara harus hadir melindungi dan membela karya anak bangsa, Negara tidak boleh takut terhadap asing, sekalipun perusahaan raksasa, LG harus diberikan sanksi hukum dan ditolak permohonan paten prioritasnya,” tegas Freddy Alex Damanik.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *