Search
Senin 12 April 2021
  • :
  • :

KOLOM | Dinamika Industri Gadget RI

Oleh: Rudi Rusdiah*

Sepertinya tahun depan akan banyak perubahan baik dalam hal industri telematika, regulasi perdagangan dan distribusi gadget hasil konvergensi IT dan Telekomunikasi. Di sektor IT banyak perusahaan raksasa dunia, seperti HP, Dell yang sebelumnya raja di sektor IT kerepotan bersaing di dunia gadget dengan pemain seperti Apple, Lenovo, dan lainnya, karena konvergensi dengan pemain telekom seperti Nokia, Ericson yang juga kerepotan bersaing dengan pemain seperti Samsung, LG dan lainnya.

Jadi bagaimana pergelutan di pasar Tanah Air? Karena pasar dalam negeri kita sangat besar sekali, kira kira 50 juta ponsel di impor senilai US$4,5 Miliar… luar biasa.

Sepertinya strategi pemain global adalah melalui kebijakan nasional pemerintah negara pasar yang dituju dengan mempengaruhi kebijakan impor produk gadget dengan membuat nonfiskal barrier. 

Contohnya, petinggi Foxconn baru baru ini berkunjung kembali untuk negosiasi pembuatan pabrik gadget di Indonesia bersama Menteri Perindustrian, tentu yang dibicarakan adalah insentif dan bagaimana dapat memperoleh fasilitas mengisi pasar Indonesia yang sangat besar.

Yang diharapkan adalah regulasi agar impor gadget dibikin lebih sulit misalnya awalnya harus mempunyai point of present diberbagai provinsi dan lainnya, alasannya untuk memerangi produk paralel impor gadget yang di import secara illegal.

Maklum Foxconn adalah perusahaan assembly produk seperti Apple terbesar di dunia. Investasi Foxconn (Hon Hai Group, Taiwan) tidak saja di Indonesia (rencananya US$5 miliar/Rp48.3 T), tetapi juga di China, Brazil, India, dan Eropa.

Samsung juga tidak tinggal diam, kabarnya juga akan membangun pabrik gadget di Indonesia setelah sukses dengan produk perakitan peralatan home electronics seperti LCD/LED di Indonesia.

Samsung juga siap siap dengan adanya regulasi Permendag Nomor 82. 2012 dan 83 mengenai lisensi impor yang diperketat serta strategi kita untuk perjanjian ITA yang tentu terkait erat dengan produk Information Technology

Jadi memang pilihan yang tidak pandai ketika Blackberry sepertinya salah memilih lokasi pabrik di Penang, Malaysia, serta tidak bekerja sama dengan Kementrian Kominfo terkait dengan regulasi sekitar UU ITE pasal lawful interception.

 

Risiko Besar

Memang investasi di Indonesia cukup risky mengingat infrastruktur yang tidak stabil, politik hukum yang tidak pasti (kasus pengadilan Tipikor IM2) dan buruh yang sering bergejolak, meskipun pasarnya sangat besar dan lucrative.

BlackBerry juga tak mau ketinggalan. Kabarnya vendor Kanada itu akan merilis BBM Money di Indonesia bersama Bank Permata dan PT Agit.

Aplikasi ini dilaunching pertama di dunia di Indonesia, maklum pasar BBM terbesar didunia (economic of scale), sehingga memudahkan sebuah aplikasi e-money (paperless) di populerkan. Model BB terakhir yang dilaunching adalah Blackberry Z10 menambah dinamis pasar gadget di Tanah Air.

Berita hari berikutnya Vendor Korea Selatan siapkan amunisi, Indonesia tak ubahnya gula-gula yang memikat para bisnis teknologi infromasi , termasuk Samsung dan LG, dua raksasa dari Korsel.

Dalam berita tersebut Samsung mencatat penjualan (konsumer elektronik dan ponsel) sebesar US$187 miliar dan pertumbuhan sangat tinggi di Asia Tenggara, Oseania dan Taiwan sebesar 63% bukan main. Tentu pasar Indonesia akan semakin bagaikan gadis seksi yang akan diperebutkan oleh para jawara elektronik dari berbagai negara

 

*Rudi Rusdiah. Kabid Industri Masyarakat Telematika (Mastel).

Tulisan ini dimuat di Majalah ICT Edisi No. 5-2013. Untuk download dan membaca tulisan lain silakan klik di sini




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *