Search
Sabtu 19 September 2020
  • :
  • :

KOLOM | Media Sosial tak Cuma untuk ‘Nggaya’

Oleh: Ventura Elisawati

Bagi sebagian pengguna media sosial di Indonesia, sering update status, mungkin sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Ya apakah sekadar untuk ‘pamer’ gadget terbarunya, maupun perasaannya saat itu. Apapun bisa menjadi konten media sosial. Indonesia, khususnya Jakarta, adalah salah satu kota yang gegap gempita di media sosial. Warga metropolitan selalu berkicau di twitter 24 jam sehari. Menurut data yang pernah disampaikan Salingsilang, warga twitter Indonesia eksis dari pukul 00.00- 24.00.

Kehadiran ponsel berbasis data dan paket data ‘murah’ dari operator memang punya andil besar dan menumbuhkan pasar pengguna media sosial ini. Menurut Yahoo! Net Index 2012, 76% pelaku media sosial menggunakan ponsel untuk berjejaring sosial.

Tapi apakah konten media sosial hanya berisi update status yang narsis saja? Tentu tidak. Harus diakui, media sosial cukup berperan dalam amplifikasi informasi dan mendorong gerakan sosial dalam beberapa situasi. Sebut saja, kasus bom Marriott, gempa Padang, meletusnya gunung Merapi dan masih banyak lagi, media sosial tak pernah tidur menginformasikan situasi bahkan penggalangan dan penyaluran bantuan.

Yang terbaru adalah dalam bencana banjir yang melanda Jakarta hari-hari ini. Seorang netizen berinisiatif membuat pemetaan lokasi banjir sejak 15 Januari 2013. Peta tersebut dapat dilihat di Google Map secara interaktif dan diperbarui secara berkala. Setiap pemilik akun Google dapat memperbarui peta ini.

Kehadiran media sosial, tak bisa hanya disebut gaya, tapi sudah melengkapi empat pilar demokrasi di negeri ini. Dimana media sosial, memiliki kekuatan menonjol dalam aspek pelibatan publik. Dan kita sudah merasakan, bahkan juga terlibat di dalamnya, saat ini.

*Ventura Elisawati merupakan Praktisi Digital Communication, Managing Director Inmark Digital 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *