Search
Jumat 25 September 2020
  • :
  • :

Kolom Nonot Harsono: Interkoneksi, On-net dan Off-net

MAJALAH ICT – Jakarta. Interkoneksi adalah kewajiban bagi setiap network operator untuk saling terhubung, yang bertujuan untuk menjamin hak masyarakat pengguna dari masing-maisng network operator untuk bisa saling menelepon.

Negara mewajibkan interkoneksi. Jadi interkoneksi ini bukan jenis layanan atau tidak termasuk jenis jasa telekomunikasi. Interkoneksi adalah menyambungkan antar jaringan supaya pelanggan dari masing-masing jaringan bisa saling berkomunikasi. Pasal 25 UU 36 tentang Telekomunikasi dan PP No.52/2000 pasal 20-25 menjelaskan tentang hal ini.

Interkoneksi bukan untuk bisnis, namun bisa disalahgunakan untuk menghambat bisnis dari pesaing. Yang dimaksud dengan biaya interkoneksi dalam UU dan PP adalah biaya untuk menyambungkan dua jaringan (ditanggung oleh operator jaringan yang meminta interkoneksi).

Network-cost sebenarnya adalah harga satuan jaringan as it is (apa adanya), yang diketahui khalayak sebagai tarif On-net.  Saat seorang pelanggan melakukan percakapan telepon On-net, dia menggunakan ruas jaringan dari telpon yang dia pakai ke sentral switching (MSC) dan dari sentral switching ke telepon itu lagi (rute Pergi-Pulang or return-flight waktu kita naik pesawat).

Saat seorang pelanggan melakukan percakapan telepon Off-net, maka dia menggunakan ruas jaringan milik operator jaringan asal (untuk 1/2 rute) dan ruas jaringan milik operator jaringan tujuan (untuk 1/2 rute berikutnya). 

Saat orang melakukan percakapan On-net, maka dia dikenai beban bayar tagihan On-net untuk rute jaringan PP atau Full tarif On-net, dan saat dia melakukan percakapan Off-net, dia dikenai beban bayar tagihan untuk ruas jaringan asal (harusnya 1/2 On-net) dan ruas jaringan tujuan/milik operator lain (harusnya juga 1/2 On-net operator yang bersangkutan).

Maka jika tarif percakapan Off-net ini kemudian menjadi beberapa kali lipat lebih mahal dibanding tarif On-net, maka tentu telah terjadi upaya menghambat dari penyelenggara jaringan. Apakah tarif percakapan On-net harus sama dgn tarif percakapan Off-net? Tentu tidak, karena ada perangkat jaringan tambahan yang digunakan dalam komunikasi lintas jaringan atau lintas operator (inilah biaya interkoneksi), misalnya media gateway, saluran fiber optik, sewa link, biaya transit, dan seterusnya. 

Yang saat ini diramaikan adalah tarif-interkoneksi antar operator yg sering disalah sebut sebagai biaya interkoneksi. Tarif interkoneksi ini adalah tarif penggunaan/pemakaian jaringan 1/2 rute dalam percakapan Off-net sebagamana diuraikan di atas. Yang seharusnya hanya sebesar 1/2 dari tarif On-net yg diberlakukan oleh penyelenggara jaringan tujuan.

Jika tarif percakapan On-net di suatu jaringan adalah Rp. 150,- per menit, seharusnya Tarif Interkoneksinya adalah Rp. 75,-. Kenapa dibuat Rp. 251, atau 204, atau yg lebih tinggi dr itu.

Hal lain yg tidak logis juga adalah pemberlakuan tarif interkoneksi Lokal dan Jarak Jauh. Padahal utk pelanggannya sendiri, para operator itu tidak menerapkan pembedaan tarif lokal dan jarak-jauh. Hal ini dibuktikan dengan kampanye "bebas roaming" atau jauh/dekat sama saja. Selain itu, saat menghitung biaya jaringan untuk menentukan harga satuan yang menjadi dasar tarif retail, semua elemen jaringan sudah diperhitungkan. Kenapa dalam penerapannya kemudian dimunculkan lagi istilah lokal dan jarak jauh. 

*Nonot Harsono. Chairman Mastel Institute dan mantan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) 2009-20015.

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *