Search
Senin 12 April 2021
  • :
  • :

Laporan Khusus: Drama 3G Belum Berakhir

MAJALAH ICT – Jakarta. Ada yang tersenyum, ada yang galau… itulah suasana hati yang tergambar dari para petinggi operator seluler 3G

saat Kementerian Komunikasi dan Informatika, khususnya Ditjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika mengumumkan hasil akhir penataan pita 3G di spektrum 2,1 GHz.

Tentunya, yang boleh tersenyum adalah operator yang terhindar dari blok 11 dan 12, yang notabene dianggap masih ‘kotor’ karena luberan interferensi dengan Smart Telekom.

Sementara itu, pil pahit mesti ditelan Axis, yang sebelumnya sudah senang menempati posisi bersebekahan dengan Tri di kanal paling kiri, yaitu kanal 2 dan 3, kini tiba-tiba melompat ke kanal 11 dan 12.

Sebagaimana diketahui, persoalan utama di pita frekuensi 2,1 GHz pascaseleksi tambahan belum lama ini adalah terjadinya kondisi alokasi blok yang non- contigous untuk 3 penyelenggara telekomunikasi sekaligus (HCPT, Telkomsel dan XL) seperti kondisi berikut ini:

""

Setelah penataan, alokasi blok-bloknya telah berada dalam kondisi contiguous seperti berikut ini:

""

Dari skema penataan tersebut sangat jelas terlihat bahwa Axis merupakan operator yang paling dirugikan, karena setelah penataan, operator itu berada di kanal 11 dan 12, yang notabene merupakan kanal yang ‘tidak bersih’.

Axis, bahkan secara resmi telah menyampaikan keberatannya atas hasil penataan tersebut karena kanal 11 dan 12 tidak bersih.

“Ditjen SDPPI Kementerian Kominfo pada 29 Januari 2013 pernah memaparkan, call setup succes rate di blok 11 sebesar 53,84% dan di blok 12 cuma 13,64%. Kasihan pelanggan kami nanti tidak akan mendapatkan kualitas layanan mumpuni seperti sebelumnya,” kata Head of Corporate Communication Anita Avianty.

Menurut anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Ridwan Effendi, penataan semua blok di rentang IMT-2000 2,1 GHZ dilakukan dengan pemikiran yang matang oleh BRTI dan Kementerian Kominfo. “Ini solusi yang terbaik dan sudah disepakati bersama,” jelasnya. Ridwan mengungkapkan dalam proses penataan ini tidak benar jika Axis paling dikorbankan karena semua blok di rentang 3G sebenarnya terkena ‘luberan’ frekuensi dari PCS-1900 yang memang hanya Indonesia UMTS dan PCS-1900 bertetanggaan.

Boleh dibilang, penataan 3G akan tergantung pada Axis, mau menempati blok 11 dan 12 atau tidak, karena bila Axis tidak segera pindah, maka bisa-bisa proses penataan terhambat atau malah batal.

Perkembangan terakhir dari rapat antara Pemerintah, BRTI dengan AXIS telah tercapai saling pengertian. AXIS meminta pemerintah membantu proses migrasi dan pemerintah akan mengawal proses migrasi ini. (Twitter: @arifpitoyo).

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 7-2013 di sini 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *