Search
Kamis 24 September 2020
  • :
  • :

Lebih Dekat dengan Richard Kartawijaya: Ingin Industri Software Lokal Maju

MAJALAH ICT – Jakarta. Tak banyak yang tak kenal Richard Kartawijaya, apalagi di kalangan komunitas teknologi informasi (TI). Ditemui di sela-sela acara Digital­ prenership INAICTA banyak bercerita soal perkembangan industri software di Indonesia.

Wajar saja, selain saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Peranti Lunak Indonesia, Richard juga merupakan professional yang telah malang melintang di perusahaan TI global, seperti Microsoft Indonesia, kemudian menjadi salah satu country manager  Motorola di Indonesia. Kini, Richard mencoba membangun usahanya sendiri menjadi seorang entrepreneur dengan membeli setengah kepemilikan dari sebuah perusahaan teknologi informasi penyedia solusi bisnis.

""Naik pangkatnya Richard dari seorang country manager perusahaan multinasional menjadi entrepreneur cukup menarik diikuti.

Richard Kartawijaya dikenal sebagai seseorang yang selalu bicara positif, tertata apik, sehingga pendengar yang awam terhadap IT sekalipun akan langsung paham dan mengerti. Richard juga tergolong kritikus yang baik, karena dalam menyampaikannya tetap dalam bahasa yang positif.

Dalam berbagai kesempatan, Richard mengungkapkan alasannya berhenti dari eksekutif profesional di sebuah perusahaan multinasional yang sudah demikian mapan. "Saya ingin mendapatkan kebebasan. Soalnya, hampir semua kebijakan yang harus dia tempuh sudah digariskan dari kantor pusat,” tuturnya.

Dan, ini menyebabkan dia merasa bahwa kalau dia berlama-lama menjadi eksekutif, dia akan kehilangan daya kreativitasnya.

Richard lebih banyak bercerita soal perkembangan software di Indonesia kepada Majalah ICT. Menurut dia, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menjadi raksasa software dunia, karena ditunjang oleh inovator dan kreator muda yang sangat brilliant dan menjanjikan.

"Banyak investor asing yang menanyakan ke saya aplikasi, atau inovasi konten apa lagi yang dihasilkan dari pengembang lokal di Indonesia. Mereka ada yang dari India dan AS,” katanya.

Richard menyayangkan bibit-bibit muda inovator lokal kurang dimanfaatkan negeri sendiri sehingga mereka banyak yang menyeberang ke negara lain.

Di akhir wawancara, Richard mengungkapkan harapannya agar software lokal Indonesia bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri, bukan hanya untuk kelas UKM tapi juga enterprise.

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 16-2013 di sini 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *