Search
Senin 16 September 2019
  • :
  • :

Lembaga Penyiaran dan PH Diminta Maknai Regulasi Sebagai Masukan Kembangkan Kreatvitas

MAJALAH ICT – Jakarta. Lembaga penyiaran dan rumah produksi (PH) diharapkan memaknai keberadaan regulasi penyiaran sebagai bahan masukan untuk pengembangan kreatifitas program. Jika ini dilakukan, persepsi bahwa regulasi sebagai penghambat kreatifitas berganti menjadi tantangan yang membangun.

Pandangan tersebut disampaikan Komisioner KPI Pusat, Hardly Stefano, dalam diskusi bertajuk pembinaan untuk program sinetron yang dihadiri perwakilan lembaga penyiaran dan rumah produksi di Kantor KPI Pusat, Jumat (27/3/17).

“Kita ingin regulasi itu dimaknai sebagai masukan untuk meningkatkan kreatifitas. Jika ini dilakukan, ide cerita sinetron yang mengangkat soal konflik akan mengarah pada konflik yang sportif dan membangun,. Cerita kebut-kebutan di jalan bisa dialihkan ke sirkuit yang sifatnya lebih sportif dan kompetitif. Begitu juga dengan perkelahian bisa dimasukan ke wilayah lomba. Jadi konfliknya membangun prestasi,” jelas Hardly.

Menurut Hardly, kreativitas membuat cerita harus memikirkan dampak terhadap penontonnya. Jika ceritanya mengandung pesan moral dan nilai sportivitas, tentunya akan berdampak positif bagi penonton, khususnya remaja atau anak-anak.

Kreativitas menulis cerita yang mengandung nilai-nilai positif, kata Komisioner KPI Pusat, Mayong Suryo laksono, merupakan tantangan besar bagi penulis skenario. Untuk membuat skenario cerita yang bagus jika program tersebut harus kejar tayangan memang akan sulit. “Karena itu, harus ada pembenahan menyangkut hal itu supaya kita tidak lagi terjebak pada persoalan klasik,” tambah Mayong.

Sementara itu, Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah mengatakan, indeks kualitas program siaran untuk tayangan sinteron pada tahun 2016, secara umum masih di bawah tiga (3). Hanya sekali, indeksnya di atas tiga yakni pada saat bulan Ramadhan.

“Peningkatan di bulan Ramadhan ini seharusnya menjadi momentum bagi lembaga penyiaran untuk mempertahankan kualitas tayangannya di luar bulan itu. Sebaiknya, nilai Ramadhan tadi ditarik keluar ke bulan-bulan setelahnya,” kata Nuning.

Terkait hal itu, Komisioner KPI Pusat, Dewi Setyarini menyatakan bahwa hal itu merupakan tantangan bagi lembaga penyiaran dan rumah produksi untuk menjelajah ide cerita sehingga pesan yang ada dalam cerita bisa sampai ke penonton.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *