Search
Selasa 22 September 2020
  • :
  • :

Mau Tahu Bagaimana Team TI Korporasi di Asia Tenggara Bergerak Laju Dalam Adaptasi di Era Krisis?

MAJALAH ICT – Jakarta. Didorong oleh inovasi digital dan inisiatif diferensiasi, tingkat permintaan pengembangan aplikasi tetap tinggi seperti yang tercatat di tahun 2019. Terfokus pada organisasi/korporasi skala besar yang memiliki karyawan 500 orang atau lebih. Laporan terbaru OutSystems, The Speed of Change: How Fast Are You? secara global menemukan lebih dari 65% korporasi yang memiliki 10 aplikasi atau lebih, yang rencananya akan diluncurkan pada 2020; dan sebanyak 39% organisasi yang memiliki 25 aplikasi atau lebih untuk dijadwalkan selesai di tahun ini.

Dalam laporan tahunan (yang ke-7) terbaru ini, OutSystems membahas tentang kemampuan korporasi dalam beradaptasi menghadapi perubahan, yang merupakan hasil analisa atas State of Application Development Survey di bulan Februari dan Maret 2020 terhadap 2,200 pekerja TI profesional dan pemimpin senior bidang TI. Laporan ini memberikan wawasan mengenai Korporasi mana yang paling cepat beradaptasi dengan perubahan seiring dengan perkembangan era digitalisasi.

Krisis akibat pandemi dan dampak dari lockdown menimbulkan guncangan besar bagi ekonomi dan masyarakat global sehari-hari. Masa depan organisasi pada saat ini berada pada kemampuan mereka beradaptasi. Pasalnya, perubahan sedang terjadi di setiap jenis korporasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Korporasi TI di Asia Tenggara diketahui memiliki ambisi yang lebih besar, 41% responden memiliki 25 aplikasi atau lebih yang dijadwalkan untuk diluncurkan di tahun 2020. 20% dari responden lain mengatakan bahwa mereka berencana untuk menyelesaikan 100 aplikasi atau lebih selama tahun 2020.

Teknologi dan pendekatan yang modern adalah kuncinya. Cara yang digunakan baik oleh perusahaan teknologi skala besar maupun pemula ini menjadi ancaman bagi perusahaan tradisional yang yang telah lama berdiri tapi tidak terlalu gesit terhadap perubahan. Saat ini, perusahaan-perusahaan teknologi ini mampu mengejar ketertinggalan dan melampaui perusahaan tradisional hanya dengan  beberapa perubahan sederhana.

“Jadi, pertanyaan untuk perusahaan dan organisasi TI adalah – seberapa tangkasnya organisasi anda? Dan apakah metode yang Anda gunakan untuk mengembangkan aplikasi sesuai dengan pergerakan era digitalisasi atau Digital Urgency?” ujar Mark Weaser, Vice President APAC, OutSystems

Tantangan dalam mengembangkan dan meluncurkan aplikasi memunculkan pertanyaan penting: seberapa banyak waktu yang dapat dihemat oleh tim pengembang dan peluncuran aplikasi dengan menggunakan aplikasi low-code? Pengembangan dan peluncuran satu aplikasi yang dapat memakan waktu 3-6 bulan akan tampak sangat lama di era Covid-19 ini. “Setiap organisasi TI harus lebih memperhatikan bagaimana cara mengurangi waktu pengembangan untuk menyesuaikan korporasi dengan perkembangan zaman yang laju dan kebutuhan akan pemecahan masalah yang ada saat ini,” tambah Mark.

Meningkatkan Kecepatan Pengembangan Aplikasi

Laporan ini juga menunjukan bahwa para pemimpin yang memiliki keahlian dalam kecepatan dan kelincahan adalah motor utama pada teknologi yang mempercepat proses pengembangan dan peluncuran aplikasi. Organisasi TI di perusahaan Asia Tenggara dapat mengevaluasi teknologi-teknologi ini berdasarkan kebutuhan pengembangan aplikasi mereka seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di chatbots, aplikasi seluler, bantuan suara – dan menentukan mana yang mungkin untuk lebih cepat dikembangkan. Pengembangan low-code, wadah, dan layanan mikro telah memungkinkan organisasi TI meraih keberhasilan.

Menghilangkan Tantangan Pengembangan Aplikasi

Menurut analisis OutSystems, melakukan pengembangan aplikasi unggulan merupakan hal menantang bagi mereka yang belum menyesuaikan dengan cepatnya perubahan teknologi dikarenakan masih menjalankan integrasi sistem lama / kurang API, persyaratan yang kerap berubah, kurangnya keterampilan pengembangan teknis dan tidak menguasai teknologi dan standar baru.

Untuk itu, berikut adalah beberapa gagasan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi organisasi TI di perusahaan Asia Tenggara:

  1. Dimulai dengan UX → Gunakan pemetaan perjalanan pelanggan dan rancang periode waktu tertentu untuk menempatkan pengguna di pusat proses pengembangan Anda.
  2. Membangun untuk Perubahan → Adopsi praktik pembangunan yang berulang dan gesit untuk mengakomodasi ketidakpastian, arah yang tidak jelas, atau mengubah permintaan.
  3. Tambahkan keterampilan baru → Cari keterampilan apa pun yang dibutuhkan tim Anda selanjutnya – web, mobile backend, dan susunan yang modern.
  4. Fokus pada CD → Tambahkan teknologi untuk membantu tim mencapai pengiriman berkelanjutan (continuous delivery /CD) tanpa merakit berbagai alat dan keterampilan DevOps.
  5. Mendayagunakan Perangkat yang ada → Temukan peralatan dengan konektor bawaan dan DIY untuk memudahkan integrasi dengan sistem perusahaan, basis data, atau layanan web.

Menurut OutSystems, kecepatan adalah hal utama di seluruh dunia. Korporasi yang fokus pada kebutuhan pelanggan, dan menawarkan pengembang jalur yang lebih mudah, dan cepat untuk inovasi akan mampu mengatasi perubahan preferensi pelanggan, meningkatkan kegesitan dan kemampuan beradaptasi, dan terhindar dari gangguan perusahaan teknologi besar. Sebagian kecil sudah berada di level tersebut, dan mereka terus berusaha untuk menjadi lebih cepat dan lebih baik. Yang lain masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, namun tetap ada cara untuk mereka berkembang.

“Laporan kami berisi tentang bagaimana cara untuk bisa menjadi pemimpin tangkas yang memiliki kemampuan beradaptasi dan hal-hal yang dapat dilakukan organisasi untuk mencapai hal tersebut. Meskipun saat ini anda berada di tengah proses pengembangan atau masih di tahap awal, Anda memiliki pilihan untuk tidak hanya bergabung dalam kompetisi ini, namun untuk menjadi pemenang,” tutup Mark.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *