Search
Minggu 29 Maret 2020
  • :
  • :

Media Penyiaran Jadi Garda Kearifan Budaya Lokal

MAJALAH ICT – Jakarta. Memasuki era digital, media mainstream seperti televisi masih menjadi platform yang diminati masyarakat. Karena itu, media penyiaran dinilai vital dan efektif dalam pengembangan serta mempromosikan potensi budaya lokal. Pendapat itu disampaikan Staf Ahli Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sumadi.

“Selain itu, media memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian konten lokal di setiap daerah,” tambah Sumadi, dalam sambutannya di acara Literasi Media KPI yang berlangsung di Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga, Yogyakarta.

Hadir mewakili Gubernur DIY, Sumadi mengapresiasi Program Gerakan Literasi Sejuta Pemirsa yang diadakan KPI Pusat. Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi yang terjadi saat ini, literasi media sangat dibutuhkan masyarakat. “Dengan adanya program literasi media diharapkan masyarakat dapat memilih informasi yang benar serta tidak serta merta menelan semua informasi termasuk berita Hoax,” imbuhnya.

Dia beranggapan, tugas mengawal penyiaran tidak hanya ada di pundak KPI Pusat dan KPID, tapi seluruh elemen masyarakat. Semuanya harus punya peran dalam mendorong terciptanya penyiaran yang sehat.

“Orang tua harus ikut aktif dalam mengawasi serta mengedukasi anak dalam menonton tayangan televisi. Pasalnya, tidak semua tayangan televisi cocok untuk dikonsumsi anak-anak. Oleh karena itu, orang tua harus membimbing anak untuk melihat tayangan yang sesuai dengan usianya,” tutur Sumadi,

Di akhir sambutannya, Sumadi menyampaikan selamat dan sukses bagi KPI atas terselenggaranya kegiatan literasi sejuta pemirsa. “Mari jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk mendorong kualitas program siaran supaya generasi penerus kita menjadi generasi yang cerdas dan berkualitas,” tandas Sumadi sekaligus membuka kegiatan literasi.

Sementara, Anggota Komisi I DPR RI, Hanafi Rais, pembicara utama literasi, menekankan pentingnya literasi media di era post-truth yang terjadi sekarang. “Saat ini, perbedaan benar dan salah semakin sulit dibedakan. Masyarakat yang tidak memiliki kecakapan yang baik dalam memilih informasi maka akan dengan mudah digiring opininya,” katanya.

Fakta yang terjadi saat ini, lanjut Hanafi, masyarakat hanya menonton tayangan yang sesuai dengan opini yang dipercaya meskipun hal itu belum dapat dipastikan kebenarannya. “Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan literasi yang memadai dan program ini menjawab pertanyaan tersebut,” ujarnya.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *