Search
Jumat 18 September 2020
  • :
  • :

Menggugat Manfaat IGF Bagi Indonesia

MAJALAH ICT – Jakarta. Gelaran Indonesia Governance Forum baru saja usai. Meski tak secara spesifik dan bukan keputusan formal, namun forum tersebut menghasilkan pemahaman yang sama di antara negara-negara di dunia mengenai pentingnya menjaga etika cyber dan perlunya menggalang kerja sama internasional dalam memerangi cyber crime.

Komunitas internet dunia mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mengkampanyekan etika cyber guna memberikan cyber space yang lebih sehat dan mengurangi serangan dunia maya.

Fade Chehade, President and CEO of Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN), mengungkapkan internet membawa nilai-nilai yang luar biasa, nilai ekonomi, nilai pembangunan manusia, kreativitas dan inovasi, serta terus membawa perdamaian.

"Internet adalah gaya hidup masa kini yang perlu dijaga sehingga kepercayaan publik terhadapnya makin tinggi dan makin memandang pentingnya internet,” ujarnya.

Menurut dia, setiap pemangku kepentingan yang terlibat dalam mengembangkan dunia maya adalah pelayan publik dan pemegang amanat dunia cyber yang sehat melalui etika cyber.

IGF, katanya, merupakan cara baru untuk bekerja sama dan membuka jalan yang demokratis dan transparan guna terus menggalang kerjasama yang mana tujuannya semata-mata agar internet tetap mendapatkan kepercayaan public.

Sementara itu, Thomas Gass, Assistant Under- Secretary General of the UN Department of Economic and Social Affairs (UN-DESA), mengakui peran potensial internet dalam kehidupan sehari- hari.

"Ada kebutuhan kebijakan publik mengenai etika dalam rangka untuk menjaga dan melindungi keselamatan cyber space dan menghambat cyber crime. Perlu adanya kerja sama multistakeholder untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan individu dan keamanan kolektif,” tegasnya.

Namun, belakangan baru diketahui bahwa forum IGF tersebut merupakan panggung para LSM dunia dalam menyuarakan misinya masing-masing. Sebut saja LSM yang mengurusi HAM, kesetaraan wanita dalam industri internet, dan hak-hak anak kecil dalam mengakses konten Internet.

Memang tidak jelek, namun, effort yang sudah dikeluarkan Kementerian Kominfo dan pihak swasta melalui Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tak sebanding dengan manfaat yang didapat.

Indonesia, tetap saja masih menjadi sasaran konten-konten negatif pornografi, judi, dan kekerasan agama, sedangkan Kominfo tak bisa mencegahnya. Tidak ada juga aturan yang mengikat bila serangan ke Indonesia dilakukan dari luar negeri, mungkin semacam polisi Interpol di dunia nyata, sehingga Indonesia tetap dalam ancaman.

Suara ketidakpuasan juga datang dari sejumlah anggota APJII mengingat peranan ISP yang mewakili sektor swasta sangat kecil bahkan tidak terasa sama sekali. Industri di Indonesia, ujarnya, tak bisa mengambil manfaat dari adanya IGF ini karena perannya yang sangat minim.

Akhirnya, terlepas dari panggung siapakah sebenarnya IGF ini, nama Indonesia sudah cukup diperhitungkan, terutama tergambar dari berbagai diskusi yang selalu menyertakan Indonesia sebagai benchmark. Wajar saja, dengan pengguna internet riil sampai 105 juta orang, dan pengguna social media terbesar di dunia, Indonesia pantas menjadi negara besar di bidang internet dunia. (Twitter: @arifpitoyo)

Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 18-2013 di sini

 

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *