Search
Selasa 17 September 2019
  • :
  • :

Pelaku Bisnis Perlu Strategi Transformasional untuk Raup Peluang ASEAN

MAJALAH ICT – Jakarta. Perusahaan-perusahaan di ASEAN, termasuk Indonesia, perlu merancang strategi-strategi baru seperti digitalisasi, kemitraan, dan ekspansi ke luar negeri, untuk mendorong pertumbuhan menghadapi perubahan di sektor usaha mereka masing-masing. Pandangan tersebut dipaparkan oleh laporan yang dikeluarkan oleh Standard Chartered (“Bank”) bermitra dengan konsultan PricewaterhouseCoopers (PwC), berjudul ASEAN – a region facing disruption; positioning mid-corporates for growth in Southeast Asia. Standard Chartered juga mengadakan acara diskusi yang bertajuk CEO Connect – Exploring ASEAN’s Opportunities yang berlangsung hari ini di Hotel Mulia Senayan, dan dihadiri oleh pejabat pemerintahan, pelaku usaha dari berbagai latar belakang industri, serta perwakilan dari berbagai organisasi internasional.

Pertumbuhan GDP di kawasan ASEAN mencapai USD 2.89 trilliun di tahun 2018. Pencapaian ini menjadikan ASEAN sebagai ekonomi terbesar ke-5 di dunia. Perkembangan ini membawa kesempatan signifikan bagi para individu dan pelaku bisnis di kawasan tersebut seiring dengan ekspektasi akan terus berlanjutnya pertumbuhan berkat pertambahan populasi dan urbanisasi. Dalam kurun waktu 4 tahun, diperkirakan bahwa ekonomi ASEAN akan menjadi yang terbesar ke-4 di dunia. Selain itu, pertumbuhan kelas menengah juga akan mendorong kebutuhan akan lebih banyak produk investasi dan pengelolaan kekayaan (wealth management), serta layanan dan produk-produk konsumen aspirasional.

Manufaktur, ritel dan konsumen, serta infrastruktur diidentifikasi sebagai sektor-sektor kunci pertumbuhan di ASEAN. Secara total, ketiga sektor tersebut berkontribusi terhadap 44% GDP regional dan diharapkan untuk mempertahankan pertumbuhan yang kuat di waktu dekat (yaitu berkisar 7-9% per tahun pada 2021). Sektor infrastruktur akan berperan sebagai pondasi bagi pertumbuhan sektorsektor lain dan mengurangi inefisiensi pasar yang dapat memperlambat kecepatan pertumbuhan ekonomi. Dengan lebih dari 800 proyek dalam pengerjaan, perkembangan sektor infrastruktur akan terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ASEAN.

Laporan tersebut juga mengidentifikasi talenta, budaya, teknologi dan pengelolaan modal sebagai penggerak yang mendukung perkembangan strategi-strategi baru pertumbuhan bagi perusahaanperusahaan di ASEAN. Kesimpulan ini didapat dari pengamatan perubahan transformasional, seperti perang dagang dan perkembangan kanal-kanal digital, berdampak pada cara kerja operasional perusahaan-perusahaan manufaktur, ritel dan konsumen, serta infrastruktur di kawasan ASEAN.

Seiring dengan perkembangan pesat dan lanskap teknologi digital yang berubah cepat, perusahaan-perusahaan ASEAN juga menghadapi tantangan-tantangan yang muncul dari kemajuan teknologi tersebut. Penggunaan teknologi digital telah mengalami transformasi dengan mendisrupsi semua sektor, khususnya layanan-layanan seperti logistik, finansial dan produksi berbasis industri. Selain itu, terdapat tantangan dalam hal kesenjangan antara negara-negara di ASEAN dalam berbagai aspek, seperti konektivitas, keahlian digital, logistik, kebijakan dan peraturan, serta proses pembayaran. Metode pembayaran digital merupakan komponen penting dari ekonomi digital, namun hasil laporan menyebutkan bahwa kawasan Asia Tenggara kurang berkembang dalam hal tersebut apabila dibandingkan dengan kawasan lain di dunia. Dunia finansial merupakan penggerak penting dari ekonomi digital serta salah satu sektor yang membawa dampak cukup besar terhadap proses digitalisasi.

Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, perusahaan-perusahaan Indonesia harus mengadopsi tiga strategi pertumbuhan utama yaitu Smart Operations dengan penggunaan teknologi-teknologi baru seperti Industrial Internet-ofEverything/IoT, 3D Printing, dan kontrak berbasis blockchain dapat meningkatkan produktivitas di pabrik, mengoptimalkan rantai pasokan dan memampukan eksekusi proyek dengan lebih efisien.

Digital go-to-market merupakan solusi-solusi seperti segmentasi mikro, geo-targeting, dan Augmented Reality, dapat membuat interaksi bisnis dengan konsumen menjadi lebih terarah dan terpersonalisasi, ekspansi regional dimana Sumber-sumber pasokan baru, penyaluran produk ke segmen pasar baru dan menjalin kemitraan baru (contoh: dengan masuk ke program infrastruktur multi-teritori) dapat memperkuat pertumbuhan bisnis.

Strategi-strategi tersebut dapat juga memampukan perusahaan-perusahaan Indonesia yang sudah hadir dan memiliki posisi lokal yang kuat untuk berekspansi ke pasar regional baru untuk memicu fase pertumbuhan baru. GDP ASEAN meningkat menjadi 2,89 triliun Dolar AS pada tahun 2018 dan diperkirakan akan melampaui angka 4 triliun Dolar AS pada 20231 .

Rino Donosepoetro, Chief Executive Officer, Standard Chartered Bank Indonesia, menjelaskan bahwa, “Untuk sukses mengimplementasikan strategi-strategi tersebut dibutuhkan transformasi internal perusahaan dengan didukung sumber daya manusia yang tepat, budaya organisasi yang terselaraskan, infrastruktur teknologi yang kuat, dan pengelolaan modal yang efektif. Untuk membiayai investasi dan ekspansi bisnis lintas batas negara, perusahaan perlu bekerja sama dengan mitra yang memiliki spesialisasi regional, termasuk bank-bank internasional dengan jaringan yang luas. Mitra-mitra tersebut dapat berperan sebagai katalis pertumbuhan untuk membantu perusahaan mengekplorasi sumber pembiayaan baru, seperti pasar modal atau obligasi ramah lingkungan, menyediakan solusi pengelolaan dana, dan menyiapkan strategi lindung nilai (hedging) yang tepat.”

Sesuai “ASEAN Investment Report 2018 – Foreign Direct Investment and the Digital Economy in ASEAN”, Indonesia menempati salah satu posisi atas dari negara-negara tujuan investasi di ASEAN, bersama dengan Singapura dan Vietnam yang secara kolektif mengakumulasikan total 72% dari total investasi asing langsung yang masuk ke ASEAN di 2017. Indonesia juga merupakan penerima investasi intra-kawasan terbesar dengan menyerap lebih dari 45% investasi intra-ASEAN di tahun 2017. Peluang terbuka lebar bagi Indonesia, dan hal ini juga sejalan dengan rencana 5-tahun Presiden Jokowi untuk terus mendorong investasi asing langsung ke Indonesia.

Sebagai bagian dari komitmen bagi Indonesia, Standard Chartered senantiasa bekerja sama dengan pemerintah untuk mempromosikan Indonesia sebagai tujuan invetasi dengan mendayagunakan jaringan Bank, keahlian pasar dan hubungan dekat dengan para klien. Bank telah melakukan sejumlah road show untuk mempromosikan Indonesia dan mengumpulkan minat serius dari perusahaanperusahan di kawasan Asia Tenggara membuka usaha di Indonesia.

Jiten Arora, Global Head of Commercial Banking, Standard Chartered Bank, menjelaskan: “Perusahaan-perusahaan di ASEAN, termasuk di Indonesia, telah memainkan peran penting di jalur petumbuhan ASEAN. Namun demikian, disrupsi dari luar dan dalam akan memaksa perusahaanperusahaan untuk meninjau kembali bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk memastikan keuntungan yang berkelanjutan. Menerima dan mengadopsi solusi digital di sepanjang rantai nilai serta ekspansi regional adalah dua tema utama pertumbuhan yang dapat menjadi fokus perusahaanperusahaan Indonesia untuk memastikan mereka menjadi bagian dari narasi pertumbuhan ASEAN. Standard Chartered akan terus membantu klien-klien kami mencapai aspirasi mereka dengan memfasilitasi akses ke pembiayaan, baik yang konvensional maupun yang baru, di samping membantu kemitraan dengan perusahaan dari berbagai skala bisnis.”

Standard Chartered adalah satu-satunya bank internasional yang hadir di 10 negara ASEAN. Standard Chartered memiliki pengetahuan mendalam di 10 negara tersebut dan telah berkontribusi signifikan untuk menumbukan perekonomian regional dengan memfasilitasi perdagangan ASEAN dan mendukung ekspansi perusahaan secara regional.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *