Search
Senin 24 Februari 2020
  • :
  • :

Pemerintah Susun SKKNI Bidang Software Development

MAJALAH ICT – Jakarta. Pusat Pengembangan Literasi dan Profesi SDM Informatika, menyelenggarakan Konvensi Penyusunan Rancangan SKKNI Bidang Software Development Sub. Bidang Software Analysis Design dan Software Quality Assurance. Acara yang dilaksanakan di Gedung 2 BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) ini dihadiri oleh lebih kurang 80 peserta yang terdiri dari dunia industri, Akademisi, Asosiasi Profesi dan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan SDM.

Kepala Pusat Pengembangan Literasi dan Profesi SDM Informatika, Hedi M. Idris menyampaikan, sesuai Permenaker No. 3 Tahun 2016 tentang tata cara penyusunan SKKNI, bahwa rancangan SKKNI harus sesuai dengan prinsip-prinsip SKKNI yaitu relevan dengan dunia industri dan usaha, valid dengan acuan dan pembanding yang sah. Kemudian juga dapat diterima oleh para pemangku kepentingan, fleksibel dapat diterapkan dan memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan serta mampu ditelusuri dan dapat dibandingkan dengan kompetensi yang ada baik secara nasional maupun internasional.

Rancangan SKKNI yang sejak awal dibuat oleh Badan Litbang SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika, sebanyak 28 baik bidang Informatika juga bidang Komunikasi. 21 SKKNI sudah ditetapkan lewat Permen Kominfo, untuk bidang Informatika tapi baru 15 yang sudah menjadi SKKNI. Untuk tahun 2016 ini saja telah 3 Rancangan SKKNI sedang dalam proses menunggu Permen.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kominfo BasukI Yusuf Iskandar mengatakan, dari laporan yang dirilis awal November 2016 oleh Singapore Management University (SMU) bekerjasama dengan JP Morgan menemukan ada mismatch yang jelas antara skill yang diberikan oleh institusi pendidikan dengan apa yang dibutuhkan industri. Meskipun indonesia diperkirakan menghasilkan 200.000 lulusan di bidang ICT tiap tahunnya, yang secara jumlah sudah cukup memenuhi kebutuhan industri skill yang mereka miliki seringkali belum memenuhi tuntutan industri.

Temuan ini mendukung survey yang dilakukan situas komunitas developer bernama Stack Over Flow pada tahun 2015. Dari sebanyak 26.086 responden yang berasal dari 157 negara, 41 % diantaranya menyatakan bahwa mereka belajar untuk menjadi seorang programmer secara otodidak. Dari segi latar belakang pendidikan pun, 48 % responden mengakui bahwa mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu komputer. Oleh sebab itu tantangan utamanya yakni menyiapkan lapangan kerja, sedangkan key factor nya adalah kreativitas & sikap kerja.

“Sense of Urgency ini yang membuat keterdesakan sehingga orang mampu untuk keluar ari dari suatu masalah, salah satunya melalui , creative and innovative thinking,” katanya. Dengan begitu, katanya, ini sebuah pengingat agar selalu ada rasa untuk keluar dari wilayah nyaman dan berjuang berebut peluang yang ada dengan negara berkembang lainnya baik secra individu dan kolektif.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *