Search
Jumat 24 November 2017
  • :
  • :
indosat-dampak-seluler

Penambahan 10 Persen Pelanggan Seluler Tingkatkan GDP Sebesar 0,4 Persen

MAJALAH ICT – Jakarta. Setiap penambahan 10 persen pelanggan seluler di tanah air, meningkatkan secara positif GDP (gross domestic product atau produk domestik bruto) Indonesia sebesar 0,4 persen. Demikian hasil riset yang dilakukan Indosat Ooredoo bersama dengan Penelitian dan Pelatihan Ekonomika & Bisnis (P2EB), Fakultas Ekonomika & Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Mengambil tema “Dampak Mobile Internetterhadap Pengembangan Ekonomi dan Sosial di Indonesia”, riset ini dilakukan dalam rangka 50 Tahun Indosat Ooredoo menghadirkan layanan telekomunikasi kepada masyarakat Indonesia.

Hasil riset ini menunjukkan bahwa mobile internet berkorelasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Temuan lain dari riset didapatkan juga bahwa setiap peningkatan jumlah pelanggan telepon seluler di negara-negara Asia Tenggara sebesar 10 persen diikuti dengan peningkatan GDP negara-negara Asia Tenggara sebesar 0.2 persen. Kemudian, setiap peningkatan jumlah pelanggan telepon seluler di 46 negara Asia sebesar 10 persen diikuti dengan peningkatan GDP di negara-negara tersebut sebesar 0.3 persen.

Dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP lebih besar di negara-negara berpendapatan menengah-rendah dan di negara-negara berpendapatan tinggi dibandingkan dengan dampak mobile internet di negara-negara berpendapatan rendah. Dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP di negara-negara berpendapatan menengah-rendah di Asia lebih tinggi 0.02 persen dibandingkan dengan dampak mobile internet di negara-negara berpendapatan rendah. Dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP di negara-negara berpendapatan tinggi di Asia lebih tinggi 0.03 persen persen dibandingkan dengan dampak mobile internet di negara-negara berpendapatan rendah.

Dengan menggunakan data 4 negara yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, dan India, diperoleh temuan bahwa dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP di Indonesia tidak berbeda dengan dampak mobile internet di Thailand dan di India. Dampak mobile internet terhadap peningkatan GDP di Malaysia lebih tinggi 0.03 persen dibandingkan dengan dampak mobile internet di Indonesia. Fenomena menarik ini diduga terjadi karena faktor-faktor yang mendukung pengembangan mobile internet seperti infrastruktur, kebijakan pemerintah, regulasi, dan iklim bisnis di Indonesia adalah setara dengan di Thailand dan di India, dan berada di bawah Malaysia. Akibatnya, dampak mobile internet terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia lebih rendah daripada di Malaysia.

“Sebagai perusahaan telekomunikasi digital terkemuka di Indonesia yang berusia tepat 50 Tahun saat ini, Indosat Ooredoo menegaskan kembali komitmennya untuk terus mendukung pemerintah dalam mewujudkan masyarakat digital Indonesia (Indonesia Digital Nation). Riset ini bertujuan untuk meningkatkan peran mobile internet dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat baik sosial maupun ekonomi, sekaligus untuk mengetahui dampak negatif yang harus ditangani bersama, sehingga masyarakat akan lebih fokus dalam memaksimalkan manfaat digital bagi kehidupan mereka. Hasil riset ini nantinya juga akan kami sampaikan sebagai rekomendasi kepada pemerintah,” demikian disampaikan Deva Rachman, Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo.

Seperti yang kita ketahui, mobile internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Pengguna internet di Indonesia telah mencapai hampir 133 juta orang atau sekitar 50 persen dari seluruh penduduk Indonesia (APJI, 2016). Akses terhadap mobile internet diharapkan memberikan manfaat ekonomi dan sosial pada masyarakat. Tujuan riset ini adalah untuk mengkaji dampak ekonomi dan sosial dari mobile internet pada masyarakat, dimana hasilnya akan diberikan sebagai rekomendasi kepada Pemerintah dalam memperkuat dampak positif dari mobile internetterhadap masyarakat.

Direktur Penelitian dan Pelatihan Ekonomika & Bisnis (P2EB), Fakultas Ekonomika & Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Bambang Riyanto, LS, M.B.A.,Ph.D menyatakan, “Riset ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta menggunakan data jumlah pelanggan jasa telepon seluler (mobile subscription) sebagai indikator variabel perilaku penggunaan mobile internet. Dalam riset ini, secara garis besar fenomena mobile internet dapat dikelompokkan ke dalam tiga dimensi, teknologi dan lingkungan sosial, perilaku dalam menggunakan mobile internet, dan dampak sosial dan ekonomi dari mobile internet.”

Temuan lain dari riset ini menyebutkan bahwa mobile internet telah merupakan kebutuhan dan telah membentuk mindset dan gaya hidup masyarakat. Namun demikian, masyarakat dinilai telah mengalami overdosis dalam penggunaan mobile internet dimana dijumpai fenomena bahwa mobile internet telah mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat. Di sisi lain juga ada kekuatiran utama tentang overdosis ini disasarkan pada anak-anak (generasi Z): adiksi, kemampuan berkomunikasi yang menurun, social skills yang menurun bila dibandingkan dengan generasi X maupun generasi Y.

Mastercard dan Indosat Ooredoo memiliki sejarah kemitraan yang kuat, di mana baru-baru ini mereka bekerja sama untuk memungkinkan para penerima bantuan dari Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Amerika (American Red Cross) menerima dana bantuan secara digital melalui telepon seluler mereka dengan memanfaatkan layanan Mastercard Send dan platform mobile money Dompetku (kini PayPro) dari Indosat Ooredoo. Pada tahun 2014, HomeSend, perusahaan patungan antara Mastercard, eServGlobal dan BICS menandatangani sebuah perjanjian kerja sama dengan Indosat Ooredoo untuk menyediakan layanan pengiriman uang kepada lebih dari 60 juta pelanggan dari perusahaan tersebut di Indonesia agar dapat secara aman mengirimkan dan menerima dana dengan menggunakan jaringan mobile money terbesar di tanah air tersebut.

Hasil riset juga menunjukkan mobile internet telah memperluas kesempatan untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Banyak anggota masyarakat yang melakukan moonlighting (menyambi pekerjaan yang mendatangkan tambahan pendapatan), misalnya dengan jual beli barang online dengan menggunakan mobile internet. Di samping itu juga ada temuan bahwa mobile internet telah memperluas cakupan bisnis, mengefisienkan bisnis, serta meningkatkan produktifitas. Waktu yang dibutuhkan dalam menjalankan bisnis menjadi lebih pendek: pengiriman foto untuk menawarkan pesanan, pengiriman desain mengkonfirmasi pesanan, dll. Secara umum, mobile internet telah mengefisienkan pekerjaan. Misal, koordinasi (logistik, shifts, dll) dapat dilakukan dengan whatsapp group; konfirmasi dapat dilakukan dengan pengiriman foto atau komunikasi via whatsapp.

Rekomendasi lainnya adalah tentang keberadaan infrastruktur dan suprastruktur merupakan hal yang esensial dalam memperkuat dan mendorong dampak positif mobile internet terhadap pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, kita memerlukan peran yang kuat dari Pemerintah untuk mendukung dan menyediakan infrastruktur yang memadai guna mendukung akses masyarakat akan mobile internet, mengedukasi masyarakat akan penggunaan mobile internet yang bijak serta melakukan awareness campaign dalam penggunaan mobile internet yang dapat meningkatkan akses akan kesempatan kerja atau kesempatan berkecimpung dalam usaha mikro atau kecil.

“Kami berharap hasil riset ini akan memberikan pemahaman mengenai perilaku penggunaan mobile internet, dimana dampak mobile internet diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk untuk meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif mobile internet,” demikian Deva Rachman menutup penjelasannya.




Tinggalkan Balasan