Search
Senin 24 Februari 2020
  • :
  • :

Platform Investasi Online Amartha Sasar UMKM

MAJALAH ICT – Jakarta. Untuk mendorong masyarakat Indonesia berinvestasi di UMKM, hadir sebuah inovasi microlending untuk mewujudkan keuangan inklusif dengan platform investasi online Amartha. Amartha menyasar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) karena meski di Indonesia terdapat 57 juta UMKM,  angka itu tidak naik sejak tahun 2010.

Guna meningkatkan para UMKM di Indonesia itulah yang menjadi alasan Andi Taufan Garuda Putra mendirikan Amartha. Diungkapkannya, awal investasi UMKM di Amartha dimulai dari sebuah kecamatan di pelosok daerah yang belum sepenuhnya terjangkau oleh layanan bank. Amartha menyediakan opsi yang lebih terjangkau dengan bagi hasil yang kompetitif.

“Amartha menyentuh masyarakat pelosok agar mereka mendapatkan akses ke modal usaha meskipun tidak memiliki rekening bank,” kata Taufan. Melalui peer-to-peer platform Amartha, dana investasi juga dijamin keamanannya dan para investor bisa langsung mengetahui siapa yang akan diberi dana seperti pengrajin bros, pengusaha keset, pembuat rengginang dan lainnya.

Sementara itu, Junanto Herdiawan yang merupakan Head of Bank Indonesia FinTech Office menyampaikan, Bank Indonesia saat ini bersinggungan dengan OJK, Kemendag, dan Kominfo untuk mengatur regulasi terkait teknologi dan keuangan. Fintech sendiri sudah muncul sejak tahun 2014 yang bertujuan untuk memberikan layanan ke pos-pos finansial yang masih kosong. Kepentingannya bukan cuma kapital tetapi juga keluhuran untuk mengakses masyarakat yang belum mendapat akses perbankan. “Bank Indonesia kini sedang membahas terkait perlindungan konsumen dan investor, memonitor kondisi yang berkembang saat ini, dan pasang surutnya ranah teknologi finansial,” ujarnya.

Sementara itu, Lead Economist Bank Dunia program pengentasan kemiskinan Vivi Alatas mengutarakan, UMKM menjadi penting karena dapat mengangkat seseorang dari kemiskinan, kerentanan, dan ketimpangan. Dan saat ini, katanya, Indonesia saat ini masih menghadapi 3K, yaitu kemiskinan, kerentanan, ketimpangan. “Orang yang dilahirkan dari keluarga miskin-kaya, desa-kota, well educated-uneducated, tidak memiliki akses setara. Nah, tugas kita memberikan akses tersebut, seperti Amartha memberikan akses pembiayaan yang dapat berkembang karena pangsanya masih luas,” katanya.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *