Search
Jumat 27 November 2020
  • :
  • :

Selamat Tinggal Era SMS!

MAJALAH ICT – Jakarta. Pascapenetapan pemenang 3G secara resmi, yaitu Telkomsel di peringkat 1 dan XL Axiata di peringkat ke-2, maka hal itu menandai Indonesia memasuki era broadband. Era broadband juga bisa jadi menandai kematian SMS atau layanan pesan singkat.

Era popularitas layanan pesan yang menggunakan Wi-Fi atau data, akan meredupkan pesan SMS yang sudah dianggap kuno. Teknologi SMS (Short Message Service) pertama kali dibuat oleh dua orang IT dari Jerman dan Prancis bernama Friedhelm Hillebrand dan Bernard Ghillebaert pada 1984. Keduanya merupakan peneliti dibidang telekomunikasi.

Harus diakui, peranan SMS sangat penting dalam sejarah perkembangan telekomunikasi, terutama di Indonesia. Karena berdasarkan penelitian Majalah ICT tahun lalu, sekitar 85% pengguna telekomunikasi lebih menyukai menggunakan ponsel untuk SMS atau chatting daripada telepon. Dari 85% tersebut, sekitar 75% diantaranya datang dari kalangan menengah ke atas, yang terdiri dari karyawan perusahaan, profesional, maupun pengusaha.

Bila dilihat usianya, orang yang suka mengirimkan SMS datang dari usia 15-40 tahun, sedangkan usia 40 tahun ke atas biasanya lebih suka menelpon.

Analisa yang bisa diambil dari kasus ini adalah orang Indonesia masih memiliki budaya malu, ewuh pakewuh, dan segan kepada atasan atau mitra kerja, atau rekan lain dalam menyampaikan pesan. Mereka menganggap bahasa tertulis lebih sopan dan lebih dapat diterima dengan baik ketimbang lewat telepon.

Peng-SMS kelas berat itu menyukai bahasa teks daripada bahasa lisan. Sekitar 55% dari mereka yang berkirim SMS lebih dari 50 pesan per hari menyatakan bahwa mereka lebih suka menerima SMS dari panggilan telepon. Namun, booming SMS bakal memudar tahun ini, dan sedikit demi sedikit ditinggalkan penggunanya. Mengapa?

Fitur SMS menjadi primadona di kalangan pengguna ponsel dunia sebelum dimulainya era ponsel pintar. Tapi kini, layanan fitur itu mengalami penurunan tajam dan mulai ditinggalkan penggunanya.

Hal itu tidak terlepas dari para pengguna ponsel pintar yang lebih memilih menggunakan layanan selain SMS, seperti Whatsapp, Chaton, MSN, Skype, BBM, Twitter, iMessage atau Facebook, yang memiliki tarif data sama.

Memang belum ada catatan resmi yang mengatakan pengguna layanan sms bekurang. Namun ada sebuah indikasi yang menguatkan pendapat tersebut.

Serangan ponsel pintar yang mengusung cara baru dalam berpesan menjadi ancaman serius SMS.

Semakin banyaknya pengguna ponsel pintar membawa kebiasaan baru dalam mengirim pesan. Orang lebih suka mengirim BBM ketimbang SMS, demikian pula dengan pengguna Android akan lebih senang mengirimkan pesan via WhatsApp.

Fitur yang ditawarkan oleh aplikasi messenger jauh lebih variatif dan menarik dari pada SMS konvensional. Kecepatan sampainya pesan hingga adanya emoticon yang mencerminkan situasi penggunanya jadi alasan orang meninggalkan SMS.

Adanya kebijakan pemerintah melalui Menkominfo yang menghilangkan layanan SMS berbasis SKA juga dinilai akan membuat orang cenderung memilih sarana lain. Biaya per sms yang sudah ditetapkan sebesar Rp23/sms dinilai banyak orang terlalu mahal.

Bandingkan dengan biaya BBM ataupun messenger pada ponsel pintar yang gratis karena satu paket dalam data internet langganan. Tentu pengguna ponsel pintar akan berpikir ulang untuk ber-sms.

Lalu bagaimana dengan pengguna ponsel fitur biasa? Kenaikan tarif SMS mungkin saja membuat mereka untuk membeli ponsel pintar dan memanfaatkan layanan messengernya. Sebab saat ini juga sudah semakin menjamur ponsel android dengan harga yang terjangkau.

Bukan bermaksud melebih-lebihkan dampak tak adanya sms gratis, namun hal itu mungkin mempercepat kematian SMS, yang diprediksi terjadi tahun ini. (majalahICT/ap)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *