Search
Jumat 20 September 2019
  • :
  • :

Startup Ngabuburit Jadi Ajang Perenungan dan Titik Balik Industri Digital Nasional

MAJALAH ICT – Jakarta. Technologue.id bersama XL Axiata dan Telkomsel mengadakan acara Startup Ngabuburit. Gelaran bertema “Be Startup Make Something People Need” ini diadakan di Eat&Eat Sudirman, FX Mall, Jakarta, dan dihadiri oleh para startup dan digital industry enthusiasts, venture capital, operator telekomunikasi, perusahaan di bidang Device, Network, and Application (DNA), hingga Pemerintah Kota Jakarta yang mewakili pihak pemerintah selaku stakeholder besar di industri ini.

Gelaran Startup Ngabuburit ini diisi oleh orang-orang yang memiliki kompetensi di dunia teknologi, telekomunikasi dan dunia startup, antara lain: Steve Saerang (Project Manager The NextDev Telkomsel); Tri Wahyuningsih (GM Corcom XL Axiata); Setiaji (Kepala UPT Smart City Jakarta); Surya Darmadi (COO Qlue), Harry Kusumo (Logitech Indonesia); dan Jessica Marthin (Plug and Play Indonesia) dengan moderator Doni Ismanto (Direktur Indotelko) dan Pradipta Nugrahanto (Chief Editor Tech in Asia).

Acara ini tak sekadar ajang bersilaturahmi dan memperluas koneksi, tetapi juga diharapkan bisa menjadi titik balik digitalisasi yang sedang marak di Tanah Air. Indonesia dengan lebih dari 260 juta penduduk menjadi yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Secara ekonomi Indonesia punya PDB hampir US$ 1 trilun di akhir tahun 2016, jumlah ini mengalami peningkatan lumayan tinggi dari tahun sebelumnya yang berada di angka US$ 860-an miliar dan angka peningkatan itu diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring pertumbuhan kelas menengah di Indonesia.

Digitalisasi dan adapsi teknologi yang sedang berlangsung di Indonesia cukup mempengaruhi kondisi ekonomi dan sosial masyarakat. Saat ini, layanan telekomunikasi di Indonesia sudah memiliki lebih dari 326 juta pelanggan. Akses internet di Indontesia sudah digunakan lebih dari 132 jutaan pelanggan dengan hampir 70%-nya diakses menggunakan perangkat mobile. Dari jumlah tersebut 5 juta di antara pelanggan internet itu sudah menikmati akses internet cepat melalui teknologi 4G.

Kondisi ini tak dipungkiri menjadi magnet bagi pelaku bisnis di bidang teknologi atau perusahaan rintisan yang biasa dikenal sebagai startup. Tren startup yang sedang tumbuh membuat tak sedikit pihak yang berbondong-bondong ikut masuk ke dalamnya. Sampai tahun 2016 disebutkan sudah ada sekitar 2.000 startup di Indonesia dengan berbagai kategori produk dan layanan.

Sayangnya, walaupun infrastruktur digitalisasi sudah dibangun, tetapi penghuni ekosistem startup digital cenderung seragam. Para pendiri maupun pendukung startup terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta lebih memilih untuk menggarap sektor yang jelas ‘hijau’. Kesannya, mereka jadi seperti profit oriented, bukannya menjadi problem solver di tengah masyarakat dengan bermacam-macam permasalahan yang sebenarnya amat potensial jika digarap.

“Walau tumbuh di semua lini bidang, namun e-commerce dan online marketplace masih mendominasi arus bisnis di industri startup teknologi. Padahal, masih banyak kategori lain yang memerlukan sentuhan teknologi dan memberi peluang lebih besar bagi pelakunya untuk mengembangkan diri,” ujar Denny Mahardy, Founder Technologue.id.

Padahal, lanjut Denny, bila dilihat secara mendalam kondisi geografis Indonesia dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang ke Merauke, dari Miangas sampai ke Rote bisa menjadi masalah sekaligus peluang. Bagi penyedia layanan telekomunikasi misalnya, kehadiran jarak tersebut menjadi peluang bisnis karena layanan yang mereka sediakan sangat diperlukan agar masyarakat bisa berkomunkasi dengan sanak saudaranya di daerah maupun pulau lain. Meskipun demikian, penyediaan layanan telekomunikasi di seluruh daerah di Indonesia bukan perkara mudah, banyak tantangan yang harus dituntaskan operator sebelum layanannya tersedia. Hal yang sama juga perlu dihadapi para pelaku bisnis lain ketika membentuk pasar baru, termasuk startup.

“Kalau dilihat masalah publik di Indonesia sangat banyak dan variatif. Nah, dari sinilah Technologue.id ingin mengajak para peminat sekaligus pelaku industry startup supaya mau mencermati kondisi sosial di Indonesia lebih dalam. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan supaya lahir produk dan layanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Ke depannya, diharapkan pihak-pihak yang berkecimpung di ranah ini bisa lebih inovatif sembari tetap menjawab tantangan industri, tandas Denny.

Hal yang sama juga dirasakan oleh akselerator asal Silicon Valley, Plug and Play. Akseslerator yang belum lama ini membuka kantor di Indonesia tersebut telah bekerja sama dengan Gan Kapital, Plug and Play hadir membawa misi untuk membangun suatu ekosistem yang dapat mendukung perkembangan startup digital di Indonesia. Melalui program akselerasi yang diadopsi dari kantor pusat Plug and Play di Silicon Valley, Plug and Play Indonesia siap memberikan berbagai dukungan untuk startup terpilih, mulai dari finansial, bimbingan ahli dari berbagai bidang, logistik seperti ruang kerja dan bantuan hukum, dan yang tidak kalah penting yaitu hubungan ke korporasi yang diharapkan dapat bermitra dengan startup.

“Plug and Play Indonesia siap membantu startup dari berbagai bidang dengan teknologi yang mampu menjawab permasalahan di masyarakat masa kini, seperti contohnya saja kami memilih Otospektor, platform yang memudahkan masyarakat melakukan proses jual beli kendaraan bekas dengan lebih terjamin, atau seperti Karta yang menyediakan pilihan terjangkau bagi usaha kecil dan menengah yang ingin beriklan” ujar Bapak Wesley Harjono selaku Presiden Direktur Plug and Play Indonesia. “Pada akhirnya, Plug and Play Indonesia ingin menjadi fasilitator yang melahirkan terobosan di masyarakat,” tambah Wesley.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *