Search
Kamis 23 September 2021
  • :
  • :

Studi ManageEngine Temukan Banyak Perusahaan Lambat Mengatasi Masalah Keamanan bagi Pekerja Jarak Jauh

MAJALAH ICT – Jakarta. ManageEngine, divisi manajemen TI enterprise dari Zoho Corporation, hari ini mengumumkan hasil studi pasar terbarunya yaitu The 2021 Digital Readiness Survey, yang menemukan bahwa hampir setengah (56%) dari organisasi di seluruh dunia telah mengubah kebijakan keamanan siber mereka di tengah peralihan kerja jarak jauh dan peningkatan serangan siber di lingkungan kerja jarak jauh.

The 2021 Digital Readiness Survey menyurvei 1.210 TI eksekutif dan profesional dari Singapura, India, Amerika Utara, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Di Singapura, hasil survei diambil dari lebih dari 100 personil di perusahaan dengan jumlah karyawan lebih dari 500 orang di 16 industri vertikal.
Survei tersebut mengungkapkan rendahnya tingkat penerapan strategi Zero Trust di berbagai perusahaan. Zero Trust merupakan model di mana segala sesuatu yang mencoba terhubung ke sistem TI diverifikasi terlebih dahulu sebelum akses diberikan. Perusahaan-perusahaan di Singapura relatif lebih baik dalam mengadopsi pendekatan Zero Trust untuk melindungi jaringan mereka, dengan 40% responden menyatakan mereka telah menerapkan Zero Trust dibandingkan dengan jumlah rata-rata global 31%, yang menunjukkan bahwa perusahaan di seluruh dunia belum sepenuhnya menerapkan model tersebut.

Sebagian besar (93%) responden global mengungkapkan bahwa berbagai ancaman keamanan meningkat akibat dampak dari pandemi, dengan 84% melaporkan bahwa para pekerja jarak jauh membawa tantangan tambahan tersendiri yaitu terkait infrastruktur keamanan.

Survei ini juga menemukan bahwa bayang-bayang ancaman TI tampak cukup besar, dengan 78% responden global menyebutkan bahwa pekerja jarak jauh mengunduh perangkat lunak tanpa mendapatkan persetujuan dari departemen TI, yang secara signifikan meningkatkan potensi pelanggaran keamanan dan kehilangan data. Secara khusus, perusahaan-perusahaan di Singapura kian rentan karena instalasi perangkat lunak yang tidak lazim, terutama tool meeting online (59%), aplikasi mobile (43%) dan solusi berbagi dokumen (42%).

Temuan inti lainnya dari survei ini, antara lain, dalam dua tahun ke depan, 96% responden global mengharapkan organisasi mereka mendukung pekerja jarak jauh. Masa pandemi telah meningkatkan ketergantungan pada solusi cloud, tetapi 56% responden global mengatakan keamanan cloud tetap menjadi perhatian utama. Tiga masalah keamanan teratas di dunia bisnis global antara lain phishing (52%), serangan pada jaringan endpoint termasuk perangkat karyawan di jaringan rumah dan edge (42%) dan malware (40%). Responden global menilai peningkatan keamanan sebagai pendorong utama adopsi teknologi sebesar 56%, sedangkan pendorong utama untuk perusahaan Singapura adalah peningkatan keandalan saat membuat keputusan (62%).

“Sangat memprihatinkan ketika banyak perusahaan yang kurang mementingkan keamanannya dibanding mereka yang serius menggarap keseluruhan sistem keamanan perusahaan. Perusahaan harus mengambil sikap tegas untuk keamanan dengan melatih para karyawan, investasi dalam solusi pencegahan dan menerapkan pendekatan Zero Trust, di mana bahkan tidak secara otomatis memberikan seluruh akses ke informasi sensitif kepada mereka yang meski berada di posisi yang cukup tinggi di perusahaan,” kata Rajesh Ganesan, Vice President of ManageEngine. “Semoga laporan ini dapat menjadi peringatan bagi berbagai perusahaan, termasuk di Asia Tenggara, ketika tengah merencanakan strategi keamanan perusahaan dan dapat mendorong mereka untuk mengambil pendekatan proaktif.”

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *