Search
Rabu 20 November 2019
  • :
  • :

Telkom Anggap Hong Kong Pasar Potensial

MAJALAH ICT – Jakarta. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) melalui PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin) lakukan ekspansi bisnis ke Hongkong. Ekspansi bisnis dalam layanan Mobile Virtual Network Operator (MNVO) tersebut diresmikan Oktober lalu dan diharapkan mampu memberikan kontribusi sebesar 10 persen kepada pendapatan Telin yang merupakan anak perusahaan karena Hong Kong adalah pasar yang potensial.



Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan, "Kami baru memulai layanan MVNO awal Oktober kemarin dan sambutannya sangat menggembirakan.” Arief menambahkan, target pengguna MVNO adalah buruh migran Indonesia yang jumlahnya sekitar 150 ribu, serta WNI di Hongkong yang berjumlah sekitar 100 ribu orang.

Layanan MVNO memang pilihan terbaik karena memungkinkan Telkom menyediakan mobile phone services di Hongkong tanpa harus memiliki lisensi khusus untuk alokasi frekuensi atau infrastruktur yang dibutuhkan dalam penyediaan layanan telepon selular. Apalagi Telin telah bekerjasama dengan operator mobile terbesar di Hongkong, CSL Limited.

"Jumlah tersebut diharapkan bertambah setiap tahunnya, sekitar 5-10 persen," ujar Arief melalui laman resmi perusahaan. Apalagi salah satu daerah administratif khusus yang merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina ini memiliki total penduduk sekitar 7 juta.

Arief Yahya menambahkan, Telkom siap memperluas bisnis telekomunikasi hingga ke pasar-pasar internasional. Setelah sukses melebarkan sayapnya di 4 negara, Telkom akan membidik 6 negara lagi sehingga total ada 10 negara yang menjadi incaran Telkom.

"Kita masuk ke 10 negara, kita sudah ke Singapura, Hong Kong, Timor Leste dan Australia,” tegasnya. 

Telkom siap dan optismistis untuk melakukan eskpansi ke negara-negara lain. Pada aksi korporasinya di luar negeri, rata-rata Telkom akan masuk ke bisnis telekomunikasi. Selain itu, untuk aksi korporasi di dalam dan luar negeri ini, tahun 2013 Telkom akan menggelontorkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 2 miliar.  Sementara, target pendapatan tumbuh 10% yakni naik menjadi Rp 84 triliun dan profit meningkat ke angka Rp 14 triliun.

Saat ini Telkom berada di peringkat kedua untuk market capitalization regional, di bawah Singtel (Rp. 190 Triliun, sedangkan Singtel Rp 350 Triliun).

"Meski jumlah TKI di Hongkong lebih sedikit dibanding Singapura dan Malaysia, tetapi daya beli mereka lebih tinggi. Sebab Average revenue per user (ARPU) buruh migran Indonesia di Hongkong bisa berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu tiap bulan," jelas Arief. 

Tiga bulan sejak Telkom masuk Hong Kong, Oktober 2012 lalu, laju penambahan pelanggan aktif mencapai rata-rata 4.000 pelanggan per bulan. Indikasi pertumbuhan juga bisa dilihat dari pertumbuhan trafik sambungan langsung internasional yang mencapai satu juta menit di bulan Oktober, 1,4 juta menit di November dan 2 juta menit di bulan Desember 2012 dan terus meningkat pada triwulan pertama 2013.

Ekspansi bisnis Telkom ke Hong Kong tidak terlepas dari strategi follow the people. “Hal tersebut merupakan salah satu bentuk dari dua pendekatan yang dilakukan oleh Telkom dalam melakukan ekspansi internasional, yakni follow the people,” jelas Arief Yahya.

Pada pendekatan ini Telkom mengandalkan para tenaga kerja, pelajar asal Indonesia, di luar negeri selain mengandalkan warga negara Indonesia yang tengah berbisnis ataupun berwisata. Pendekatan tersebut menurutnya digunakan terhadap sejumlah negara seperti Malaysia, Timur Tengah, dan Singapura yang dikenal memiliki banyak warga negara Indonesia.

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *