Search
Rabu 26 September 2018
  • :
  • :
digital-indonesia

Transformasi Digital akan Sumbang 22 Miliar Dolar AS untuk GDP Indonesia hingga Tahun 2021

MAJALAH ICT – Jakarta. Pada tahun 2021, transformasi digital akan menambahkan sekitar 22 miliar Dolar AS terhadap produk domestik bruto (PDB/GDP) Indonesia, dan meningkatkan tingkat pertumbuhan sebesar 0,4% per tahun, menurut sebuah studi bisnis yang baru dirilis hari ini. Penelitian berjudul, “Membuka Dampak Ekonomi Transformasi Digital di Asia Pasifik” (Unlocking the Economic Impact of Digital Transformation in Asia Pacific), dikeluarkan oleh Microsoft dalam kemitraan dengan IDC Asia/Pacific.

Studi ini memprediksi lonjakan yang cukup besar dalam transformasi digital di seluruh perekonomian Asia Pasifik. Pada tahun 2017, sekitar 4% PDB Indonesia berasal dari produk dan layanan digital yang dibuat secara langsung menggunakan teknologi digital, seperti mobilitas, komputasi awan, Internet of Things (IoT), dan artificial intelligence (AI).

“Indonesia terlihat jelas sudah berada dalam fast track transformasi digital. Dalam empat tahun ke depan, kami berharap dapat melihat sekitar 40% PDB Indonesia berasal dari produk dan layanan digital,” kata Haris Izmee, President Director of Microsoft Indonesia. “Pada saat yang sama, organisasi-organisasi di Asia Pasifik semakin banyak yang menerapkan teknologi baru seperti artificial intelligence sebagai bagian dari bentuk inisiatif transformasi digital mereka, dan itulah yang akan mempercepat pertumbuhan mereka lebih jauh.”

Survei yang diadakan dengan melibatkan 1.560 pengambil keputusan di sektor bisnis dari organisasi kelas menengah dan besar di 15 negara di kawasan ini, erfokus dalam hasil yang berpengaruh cepat serta dampak yang meluas yang dihadapi dalam transformasi digital pada bisnis tradisional.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru, perusahaan melihat kemajuan yang nyata dan signifikan dari transformasi digital dari kisaran 8% hingga 9% melalui manfaat tersebut. Pemimpin bisnis berharap untuk dapat melihat lebih dari 30% pertumbuhan pada bidang utama tersebut pada tahun 2020, dengan lonjakan besar pada produktivitas, tingkat akuisisi pelanggan, serta pendapatan dari produk dan jasa baru.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa walaupun 79% organisasi di Indonesia sedang berada di tengah proses transformasi digital mereka, hanya 7% di seluruh wilayah Indonesia yang dapat diklasifikasikan sebagai pemimpin. Para pemimpin ini adalah organisasi-organisasi yang memiliki strategi transformasi digital secara penuh atau sudah memiliki kemajuan, dengan setidaknya sepertiga dari pendapatan mereka berasal dari produk dan layanan digital. Selain itu, perusahaan-perusahaan ini melihat peningkatan manfaat sebesar 20 – 30% di berbagai bidang bisnis yang berasal dari inisiatif mereka.

Studi ini menunjukkan bahwa para pemimpin mengalami peningkatan manfaat sebesar dua kali lipat dari para kompetitornya, dan peningkatan ini akan lebih terasa pada tahun 2020. Hampir setengah dari pemimpin (48%) memiliki strategi transformasi digital yang konkrit.

“Kecepatan transformasi digital kini meningkat, dan IDC memperkirakan bahwa pada tahun 2021, setidaknya 48% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Asia Pasifik akan berasal dari produk dan layanan digital, dengan pertumbuhan di setiap industri yang didorong oleh penawaran yang tinggi, manajerial, dan relasi. Studi tersebut menunjukkan bahwa para pemimpin melihat manfaat yang lebih besar hingga dua kali lipat dari para kompetitornya, dengan peningkatan produktivitas, minimalisir biaya, dan advokasi pelanggan. Agar tetap kompetitif, organisasi harus menetapkan metrik baru, mengatur struktur organisasi, dan mengarahkan kembali platform teknologi mereka,” kata Daniel-Zoe Jimenez, Research Director Digital Transformation Practice Lead, IDC Asia/Pacific.

Penelitian ini mengidentifikasi perbedaan-perbedaan utama antara para pemimpin dan yang lainnya di Asia Pasifik, yang berkontribusi ke berbagai peningkatan. Pemimpin lebih memperhatikan pesaing dan munculnya teknologi yang mengubah kebiasaan: Ekonomi digital juga telah melahirkan tipe pesaing baru, serta teknologi baru seperti AI yang telah berkontribusi terhadap perubahan bisnis.

Kecerdasan dalam berbisnis dan budaya inovasi merupakan tujuan utama: Ketika menangani masalah bisnis, para pemimpin berfokus untuk menciptakan budaya yang cerdas dan inovatif untuk melawan persaingan. Pihak lain, di sisi lain, lebih fokus pada peningkatan produktivitas dan profitabilitas karyawan.

Untuk mengukur keberhasilan transformasi digital, Organisasi-organisasi di seluruh Asia Pasifik mulai menerapkan key performance indicators (KPI) baru untuk mengukur inisiatif transformasi digital mereka lebih baik, seperti tingkat keefektifan proses, modal data, dan advokasi pelanggan dalam bentuk Net Promoter Score (NPS). Seiring dengan waktu, organisasi-organisasi ini menyadari potensi data sebagai sumber pendapatan baru untuk perekonomian digital, para pemimpin lebih fokus memanfaatkan data untuk meningkatkan pendapatan dan produktivitas, dan untuk mengubah model bisnis.

Pemimpin lebih sadar dengan tantangan dalam perjalanan transformasi digital mereka: Selain kecakapan dan ancaman keamanan cyber sebagai tantangan utama, para pemimpin juga telah mengidentifikasi kebutuhan untuk meningkatkan kapabilitas data mereka melalui penggunaan analisis yang lebih tinggi untuk mengembangkan wawasan yang kemudian dapat ditindaklanjuti di pasar yang bergerak cepat.

Pemimpin mulai tertarik untuk berinvestasi di AI dan Internet of Things: Perkembangan teknologi seperti AI (termasuk layanan kognitif dan robotika) dan IoT adalah area dimana para pemimpin digital berinvestasi di tahun 2018. Selain teknologi yang muncul ini, para pemimpin juga lebih tertarik untuk berinvestasi di big data analytics untuk mengumpulkan data sebagai wawasan yang dapat ditindaklanjuti.

Hal yang membedakan pemimpin dari yang lain adalah kemampuan mereka untuk mengontrol gelombang transformasi digital dari perspektif budaya organisasi. Hasil studi tersebut menemukan bahwa Pemimpin memiliki sifat-sifat berikut:

Faktanya, kita telah melihat pemimpin dalam bidang digital beroperasi di Indonesia. Citilink, maskapai berbiaya rendah yang paling berkembang di Indonesia, dengan percaya diri telah memanfaatkan disrupsi digital dan mengambil manfaat. Dengan menggunakan teknologi seperti Microsoft Azure untuk mengoptimalkan operasional harian dan pengelolaan data, maskapai ini mampu untuk memberdayakan karyawan dengan memberikan  wawasan akan data yang mudah dan praktis, membuat karyawan dapat memberikan waktu lebih kepada pelanggan. “Transformasi digital memampukan Citilink dapat meningkatkan aspek kualitas layanan, proses bisnis dan juga meningkatkan kepuasan pelanggan. Sebagai hasilnya, Citilink baru saja mendapatkan sertifikasi sebagai maskapai berbiaya rendah dengan peringkat 4-Star dari lembaga pemeringkat dan sertifikasi industri penerbangan internasional, Skytrax,” jelas Achmad Royhan, Vice President Information Technology Citilink.

“Ada kebutuhan mendesak bagi organisasi-organisasi untuk mengadopsi pola pikir pemimpin dalam membangun ekosistem digital mereka secara keseluruhan – mulai dari karyawan, pelanggan, hingga mitra – untuk menumbuhkan value chain mereka,” kata Andrea Della Mattea, President of Microsoft Asia Pasifik.  “Dalam hal ini, Microsoft diposisikan untuk membantu organisasi di seluruh Asia Pasifik agar berhasil dalam perjalanan transformasi digital mereka. Kami yakin karena kami, sebagai sebuah organisasi, juga telah mengalami transformasi digital, dan kami memahami apa yang diperlukan untuk membuat inisiatif digital ini berhasil.”

 

Responden di Indonesia merasa bahwa 93% pekerjaan akan berubah dalam tiga tahun ke depan karena transformasi digital, dan hampir 70% pekerjaan di pasar saat ini akan dipindahtangankan ke peran dengan nilai lebih tinggi, atau mengembangkan kemampuan (reskilled), untuk memenuhi kebutuhan di era digital.

“Munculnya transformasi digital di negara-negara Asia Pasifik akan memengaruhi pasar tenaga kerja di mana beberapa jenis pekerjaan akan berkembang dan berubah. Hal yang menggembirakan adalah bahwa 87% responden dari penelitian yakin bahwa profesional muda mereka sudah memiliki kesiapan di masa depan yang akan membantu mereka beralih ke peran yang baru. Pemerintah dan organisasi harus tetap fokus pada pengembangan kemampuan (reskilling) dan peningkatan kemampuan (upskilling), karena pembelajaran berkelanjutan akan menjadi faktor penting dalam memastikan transformasi yang sukses dalam angkatan kerja di era digital,” kata Haris.

Sejak tahun 2011, Microsoft Indonesia telah bekerja sama dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) melalui inisiatif seperti Rumah Belajar, Digital Skills, dan Generasi Bisa! Program Digital Skills menyediakan pembelajaran dengan konsep berpikir struktural dan ilmu komputer dasar, melalui sesi Hour of Code (HoC). Tujuannya adalah untuk memberikan kemampuan pada anak bangsa agar siap menghadapi dunia digital. Setelah sukses diluncurkan di Jambi, Jakarta dan Yogyakarta; Kupang, Nusa Tenggara Timur menjadi kota keempat dimana program tersebut diadakan.

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *