Search
Sabtu 28 November 2020
  • :
  • :

Tren Teknologi di 2020 dari ManageEngine

MAJALAH ICT – Jakarta. Berkat berbagai teknologi baru dan aplikasi-aplikasi yang muncul dari teknologi yang sudah ada, cara orang bekerja akan terus berubah di tahun 2020. Di departemen TI, kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan analisa akan memainkan peran penting bersama dengan data pribadi, keamanan, dan strategi pengelolaan biaya. Menurut Rajesh Ganesan, Vice President dari ManageEngine, ada beberapa tren yang akan mendominasi di tahun ini.

1. Hukum Data Pribadi akan menghasilkan peningkatan fokus pada akuntabilitas karyawan

Makin banyak negara mengikuti langkah Uni Eropa dengan mengimplementasikan hukum perlindungan data yang mirip dengan GDPR, seperti Thailand Personal Data Protection Act (PDPA) yang akan diberlakukan di bulan Mei 2020. Dalam skenario ini, peran Data Protection Office (DPO) akan semakin penting karena mereka harus bekerja erat dengan CIO dan tim-tim teknologi untuk memastikan organisasi patuh pada hukum. Dengan kesadaran yang semakin tinggi akan perlindungan data, penanganan data pribadi pengguna dan keamanannya akan menjadi semakin diperhatikan. Karyawan di semua tingkat akan memiliki tanggung jawab seiring dengan upaya organisasi untuk memenuhi kepatuhan. Karena itu, akan perlu adanya program-program peningkatan keterampilan dan pendidikan untuk menangani aspek ini.

2. Keamanan Kecedasan Buatan (AI – Artificial Intelligence) akan menjadi sebuah investasi penting

Karena adopsi AI di perusahaan akan terus bertumbuh, organisasi-organisasi akan menyadari pentingnya mengamankan sistem. Paling tidak ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk membuat AI bekerja optimal. Yang pertama adalah memastikan penyerang tidak mengecoh sistem AI untuk membuatnya bekerja seperti kemauan mereka dalam real-time. Contoh: memperkenalkan bias. Perusahaan akan menyadari nilai investasi dalam teknologi AI yang bisa dijelaskan, yang akan membuat sistem AI menjelaskan tindakan dan keputusan yang diambilnya, sehingga memungkinkan adanya ulasan dan memperbaiki AI dalam real-time. Yang kedua adalah melindungi data pelatihan AI dan model ML (Machine Learning – Pembelajaran Mesin), sebaiknya dengan berinvestasi dalam teknologi-teknologi seperti enkripsi homomorfik. Yang ketiga adalah melindungi terhadap bahaya ‘concept drift’, yaitu ketika model AI yang dibuat berdasarkan data pelatihan menjadi tidak relevan dan sistem bertingkah tidak wajar.

3. Otomasi proses akan digantikan otomasi hiper

Di tahun 2020 kita akan mulai melihat munculnya otomasi hiper, yaitu titik temu antara kecerdasaran yang didorong oleh AI dan ML dengan otonomi yang didorong oleh robotik dan otomasi proses kognitif. Otomasi hiper akan membantu mendukung proses-proses bisnis dinamis dan kompleks, termasuk proses peminjaman, klaim asuransi, pengiriman dari gudang, dan lain-lain. Ini akan menyediakan keunggulan unik dari meniru aksi pengguna di terminal-terminal seperti melakukan transaksi dan menghasilkan konten dinamis secara kontekstual untuk menghasilkan kecepatan, ketepatan, kehandalan dan pengurangan biaya.

4. Perlindungan endpoint akan menjadi prioritas utama

Karena jumlah dan tipe perangkat endpoint berkembang dengan cepat dan menjadi ‘cerdas’ oleh software dan konektivitas, perangkat-perangkat ini menjadi target dan vektor penting untuk serangan-serangan eksternal. Aplikasi mobile bisa menjadi sumber serangan keamanan perusahaan skala-besar berikutnya, bahkan ketika jumlah pekerja non-tradisional dan perangkat-perangkat mereka terus bertambah. Karena lansekap ancaman berevolusi untuk mengeksploitasi kemampuan-kemampuan canggih di endpoint, teknik-teknik perlindungan juga harus berevolusi. Di tahun 2020 kita akan melihat teknik-teknik seperti pencegahan kehilangan data (data loss prevention – DLP), yang mencegah pengguna dari membocorkan data penting, baik sengaja maupun tidak sengaja, dan deteksi dan respon endpoint (endpoint detection & response – EDR), yang secara terus menerus memonitor kejadian, mendeteksi ancaman, melakukan investigassi, dan memulai respon. Teknik-teknik ini akan mejadi semakin penting karena logika dan kecerdasan yang menjadi pendorongnya akan semakin berada di perangkat itu sendiri.

5. Permintaan untuk alat-alat guna membantu standarisasi data akan meningkat

Demokratisasi data telah membuka penggunaan analisa bagi departemen-departemen yang biasanya tidak menggunakan analisa untuk pengambilan keputusan – seperti TI. Ini artinya ada berbagi sumber data baru dan berbeda yang perlu distandarkan dan diperiksa kualitasnya sebelum bisa digunakan untuk dianalisa. Memperoleh data dari insight membutuhkan waktu lebih sedikit ketika data dari berbagi sumber dibentuk untuk disesuaikan dengan skema atau format umum, atau dikenal dengan standarisasi data. Untuk mengakomodasi hal ini, tahun depan akan terjadi peningkatan permintaan alat-alat ETL (extract, transform, load), yang membantu menyingkat waktu untuk standarisasi data. Para analis telah mulai membiasakan diri dengan berbagai sumber data baru dan menggunakan alat-alat ETl ketika diperlukan.

6. Dunia usaha akan memprioritaskan pengendalian biaya cloud

Cloud, khususnya SaaS, telah mendemokratisasi penggunaan teknologi di seluruh fungsi bisnis. Namun, cloud juga menghasilkan peningkatan biaya dan pemborosan signifikan karena model konsumsi yang tidak terpusat. Survei-survei mengindikasikan dunia usaha bisa menghabiskan 35 persen biaya cloud mereka karena duplikasi pengeluaran dan penggunaan tidak optimal. Untungnya, muncul berbagai solusi yang membantu CFO dan CIO mengendalikan situasi ini. Contoh: sebuah platform pengelolaan SaaS (SaaS management platform – SMP) bisa menghadirkan visibilitas, kendali, dan pengelolaan terpusat untuk semua aplikasi SaaS yang digunakan di perusahaan, termasuk pengelolaan biaya. Layanan-layanan berbeda bisa memiliki harga, biaya dan model penagihan yang berbeda pula; dan SMP bisa membantuk menyediakan insight biaya dan efisiensi di tingkat pengguna, departemen, dan organisasi. Contoh lainnya: solusi pengelolaan biaya cloud bisa menyediakan pengelolaan biaya terpadu untuk organisasi-organisasi yang menggunakan lebih dari satu penyedia IaaS. Untuk perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan dalam mengelola biaya cloud, ini akan menjadi prioritas utama.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *