Search
Kamis 22 Oktober 2020
  • :
  • :

Vendor dan Operator Sepakat Matikan Wimax

Majalah ICT – Jakarta. Sejak 2 operator yaitu Clearwire USA dan Yota Rusoa pindah ke LTE (Long TermEvolution) TDD (Time Division Duplex), masa depan WiMax menjadi tanda Tanya. Apalagi di Indonesia, di mana secara tersirat sepertinya vendor dan operator pemenang tender di pita 2,3 GHz ‘sepakat’ meninggalkan teknologi Internet berkapasitas tinggi itu.
 
Seperti yang diungkapkan Gatot Tetuko, Presdir PT Teknologi Riset Global (TRG), bahwa vendor WiMax harus realistis dan mulai menyetop produksi perangkat WiMax serta beralih ke LTE TDD.
 
Sejak pemerintah menerapkan teknologi netral di pita 2,3 GHz, vendor WiMax local pun menjerit, karena mereka mengaku sudah cukup banyak mengeluarkan biaya untuk penelitian, dan mendapatkan Type Approval (TA) perangkat WiMax. Perolehan TA ini menunjukkan bahwa kandungan lokal perangkat tersebut sudahdan sesuai aturan, yaitu 40% untuk base station dan 30% untuk customer premise equipment (CPE).
 
Vendor lokal dan operator WiMax existing tersebut sudah telanjur mengeluarkan investasi besar untuk membangun dan belanja perangkat WiMax 16d. Belum lagi perangkat tersebut dipakai, pemerintah sudah mengubahnya menjadi teknologi netral, sehingga bisa memakai 16e bisa juga LTE.
Perubahan kebijakan yang mendadak tentulah tidak menguntungkan iklim investasi. Berbeda apabila pemerintah menggelar tender lagi untuk WiMax 16e atau LTE TDD di pita 2,3 GHz di bagian bawah yang belum dipakai 16d.
 

Setali tiga uang, operator WiMax pun mulai banting setir mengubah teknologinya ke LTE TDD yang lebih menjamin kelangsungan persediaan 

perangkat. “Kalau pasokan kurang, artinya harga akan semakin mahal, karena secara economic of scale tidak memadai,” ujar Deputi CEO Berca Global Access Duta Subagio Sarosa. Imbasnya sudah jelas, masyarakat pengguna secara tidak langsung akan dibebani mahalnya harga perangkat tersebut.
 
Operator WiMax di pita 2,3 GHz yang memilih berubah ke teknologi netral, bisa mengembangkan ke arah TDD-LTE, bukan FDD-LTE (LTE dari kubu 3GPP).
Menurut Duta, TDD LTE itu berbasis Time Domain, kalau yg jalur 3GPP disebut sebagai FDD LTE karena berbasis kepada Frequency Domain, sama- sama bisa untuk teknologi akses. Berbeda dengan pemilik vendor WiMax, Xirca, bahwa selama ini perangkat WiMax yang dibeli oleh operator dan yang dijual oleh vendor merupakan jenis hybrid, yaitu bisa disetel sebagai WiMax atau LTE.
 
Terlepas dari itu semua, vendor dan operator memang secara tersirat sudah sepkat meninggalkan WiMax, dan masyarakat pun tak banyak mempersoalkannya, mengingat dengan teknologi seluler, pengguna tetap bisa mengakses Internet dari mana pun, sedangkan untuk koneksi nirkabel murah bisa lewat Wi-Fi.
 
Tinggal ditunggu saja kiprah LTE TDD di pasaran, apakah akan sukses atau justru mati teratur juga tergerus
teknologi baru yang terus berubah. Dari kubu LTE FDD, yang merupakan pengembangan 3G WCDMA, layanan seluler setara 4G tersebut
segera hadir di Indonesia mulai tahun 2013 di frekuensi 2,3 GHz, berbagi dengan teknologi 4G lainnya, WiMax atau LTE TDD.
 
Hal tersebut diungkapkan Menkominfo Tifatul Sembiring bahwa LTE untuk seluler 4G bisa hadir lebih cepat tanpa perlu menunggu migrasi TV analog ke TV digital tuntas di 2018. Sebelumnya, LTE direncanakan dialokasikan di frekuensi 700 MHz, yang saat ini masih ditempati televisi free to air, seperti yang terjadi di negara lain yaitu AS dan sejumlah negara Eropa. Meskipun bakal menyediakan spektrum selebar 140 MHz, namun rentang waktu 6 tahun ke 2018 bisa dibilang terlalu lama. Itu sebabnya, Kementerian Kominfo mencari alternatif lain, yaitu menempatkannya di frekuensi 2,3 GHz. Meski akan menerapkan LTE, pemerintah sendiri sebenarnya belum selesai membereskan frekuensi 3G yang tendernya terus molor. (MajalahICT/ap)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *