Search
Kamis 27 Februari 2020
  • :
  • :

Ada-Ada Saja, Miss Lambe Hoaks Kominfo Masuk Nominasi Anugerah WSIS Prizes 2020

MAJALAH ICT – Jakarta. Sebaran hoaks dan dampak yang makin massif di Indonesia membutuhkan pendekatan dan cara yang lebih kreatif dan inovatif. Apalagi saat ini, keberadaan teknologi informasi dan komunikasi membuat sebaran hoaks makin berlipat ganda.

Platform media sosial dan pesan instan menjadi media utama penyebaran hoaks. Pelaku membuat konten sedemikian rupa untuk mempengaruhi masyarakat. Guna mengimbangi dan merebut perhatian masyarakat di media sosial serta meningkatkan kesadaran terhadap hoaks, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengembangkan tayangan “Lambe Hoaks”.

Kominfo merilis program Miss Lambe Hoaks dalam upaya memberikan literasi digital pemberantasan konten-konten hoaks. Konten yang ditayangkan merupakan kumpulan hasil identifikasi hoaks yang dilakukan oleh Direktorat Pengendalian Konten Internet Ditjen Aplikasi Informatika selama sepekan.

Berita hoaks tersebut diinformasikan secara berkala kepada masyarakat. Dalam setiap episodenya program ini mengupas fakta di balik Top 10 isu hoaks hasil pencarian Tim Aduan Konten Ditjen Aptika yang beredar dalam sepekan terakhir.

Pada ajang tahunan Anugerah World Summit on the Information Society (WSIS Prizes), program Miss Lambe Hoaks terpilih masuk dalam salah satu nominasi yang yang dipertandingkan, yakni pada Category 17 — Action Lines C10 “Ethical dimensions of the Information Society”, sebagai karya unggulan dari Indonesia pada Kompetisi tersebut.

World Summit on the Information Society (WSIS PRIZES)

Sejumlah inisiatif unggulan dari komunitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia berhasil masuk dalam nominasi yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2012. Pada WSIS Prizes 2016 ada 3 (tiga) nominator dari Indonesia yang menghasilkan 1 Champion (Juara Kedua), sedangkan pada WSIS Prizes 2017 terdapat 18 inisiatif Indonesia yang menghasilkan 1 Winner (Juara Pertama) dan 4 Champion.

Sedangkan pada World Summit on the Information Society (WSIS Prizes) 2018 yang diikuti oleh 463 inisiatif dari berbagai negara, Indonesia merebut 12 posisi champion (2nd Best) dalam The World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2018. Ajang penghargaan inisiatif pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang diselenggarakan International Telecommunication Union (ITU) itu menempatkan Indonesia dalam delapan kategori dari 18 kategori yang dikompetisikan.

Pada ajang World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2019 di Jenewa, Indonesia  merebut empat penghargaan Champion dari PBB. Setelah melalui kompetisi yang ketat, melibatkan 1062 inisiatif yang didaftarkan dari seluruh dunia melalui ajang WSIS Prizes, empat inisiatf Indonesia yaitu Data Bojonegoro (Relawan TIK Indonesia); Baktiku Pada Petani (Telkomsel); Baktiku Negeriku (Telkomsel) dan Saintif (Mahasiswa Universitas Diponegoro) memenangkan penghargaan.

Kini, kompetisi penghargaan bergengsi PBB untuk bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), World Summit on the Information Society WSIS Prizes 2020, telah dibuka kembali dan saat ini sudah masuk tahap online voting. Ada 8 (delapan) project (karya/inisiatif) Indonesia masuk nominasi.

Daftar Nominasi Indonesia pada ajang WSIS PRIZES 2020:

  • Category 1 – AL C1. The role of governments and all stakeholders in the promotion of ICTs for development. IoT Makers Creation 2019 – Kementerian Kominfo.
  • Category 3 — AL C3. Access to information and knowledge. City Wide Mapping for Disaster Management Project – BNPB dan Humanitarian OpenStreetMap Team Indonesia.
  • Category 4 — AL C4. Capacity building. Siberkreasi (Indonesia’s National Movement for Digital Literacy) – Siberkreasi.
  • Category 5 — AL C5. Building confidence and security in use of ICTs. TAKE BACK OUR PRIVACY (privasi.id) – ICT Watch.
  • Category 16 — AL C9. Media. ICT Literacy Talkshow Suara Madiun – RTIK Madiun.
  • Category 17 — AL C10. Ethical dimensions of the Information Society:
  • #AgenDamai: A Collaborative Digital Campaign – CfDS.
  • Anti Hoax Public Campaign – Mafindo.
  • Miss Lambe Hoax – Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mengajak seluruh netizen Indonesia beramai-ramai untuk melakukan one man one vote secara online dengan batas waktu hingga 24 Januari 2020.

Nantinya, 5 (lima) dari 20 project per kategori yang mendapatkan suara terbanyak dari berbagai penjuru dunia, dinobatkan sebagai Champion (2nd Best). Kemudian, dari 5 (lima) project tersebut dipilih 1 (satu) oleh para pakar PBB sebagai Winner (Juara Pertama).

 

Lambe Hoaks merupakan program hasil kolaborasi dan sinergi antara Biro Humas Setjen, Tim Aduan Konten Aptika, dan GPR TV Ditjen IKP Kementerian Kominfo. Program mingguan ini menayangkan Miss Lambe Hoaks sebagai Tokoh Utama yang melaporkan hasil pantauan mingguan dari Tim Aduan Konten.

Dengan keceriwisan dari tokoh utama yaitu Miss Lambe Hoaks, program ini menceritakan pandangan terkini yang tengah menjadi perbincangan para warganet/netizen di seluruh platform media sosial baik dari Facebook, Twitter, Whatsapp, Instagram maupun portal/website yang informasinya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Program Lambe Hoaks ini diproduksi pada hari kerja setiap minggunya dan ditayangkan melalui saluran media utamanya yaitu GPR TV serta saluran Media Sosial Kementerian Kominfo yang lain seperti Youtube, Instagram, Twitter, maupun Facebook. Dengan hadirnya program terbaru dan unggulan hasil kolaborasi dari tiga satuan kerja Kementerian Kominfo ini diharapkan dapat memberikan tayangan yang fresh dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dimanapun berada.

Lambe Hoaks ini menampilkan informasi-informasi seputar hoaks yang berhasil dikumpulkan selama satu pekan oleh mesin pelacak AIS Kominfo, kemudian ditampilkan oleh Miss Lambe Hoaks sebagai pembawa acara dan ditayangkan di seluruh platform media sosial dan sejumlah stasiun TV.

Setiap hari, Kementerian Kominfo menerima informasi aduan konten hoaks. Kemudian aduan yang diterima melalui tiga jalur, yakni melalui mesin pelacak, aduan masyarakat dan laporan atau surat edaran dari instansi atau lembaga pemerintahan itu diverifikasi untuk dikaji kebenarannya.

Kementerian Kominfo berupaya mengurangi penyebaran hoaks karena adanya potensi dampak perpecahan bangsa akibat hoaks. Selama ini, pemerintah telah berupaya menyampaikan berbagai klarifikasi kepada masyarakat. Namun, ternyata dibutuhkan kreativitas yang lebih baik lagi untuk memerangi kabar bohong secara bersama-sama.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *