Search
Jumat 19 Juli 2024
  • :
  • :

Ancaman Deepfake Meningkat, iProov Hadirkan Biometrik Real-Time untuk Proteksi Proses eKYC Perbankan

MAJALAH ICT – Jakarta. Teknologi deepfake (memanipulasi video dan audio dengan bantuan AI) saat ini sudah berkembang demikian pesat. Saat ini masyarakat global sudah mencapai titik puncak revolusi identitas digital, di mana informasi seseorang direpresentasikan dalam berbagai cara digital, seperti dimasukkan dalam chip elektronik dan disimpan dalam server di suatu tempat. Meski demkian, representasi bukanlah orang itu sendiri. Versi digital dari seseorang adalah kunci untuk mendapatkan layanan digital.

“Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana cara membuktikan bahwa saya adalah pemilik identitas digital ini? Kita perlu membuktikan bahwa identitas tersebut adalah milik kita dan bukan orang lain yang berpura-pura menjadi saya saat sedang online. Dan ini adalah masalah yang sangat sulit untuk dipecahkan,” tutur Joe Palmer, Chief Innovation Officer dari perusahaan teknologi iProov pada acara temu media di Jakarta baru-baru ini.

Menurut Joe, yang kehadirannya juga didampingi oleh VP Sales, APAC Milko Radotic, ada banyak cara lain bagi orang untuk meniru seseorang sehingga satu-satunya cara yang benar untuk membuktikan bahwa seseorang adalah sesuai dengan siapa yang ia klaim adalah dengan biometrik.

“Karena biometrik pada dasarnya adalah Anda. Faktor warisan inilah yang memungkinkan saya mengatakan bahwa saya adalah versi digital ini. Karena ketika saya muncul dan saya membagikan SIM, KTP, dan paspor saya, seseorang akan melihatnya, mereka akan melihat fotonya, mereka akan melihat saya. Sebagai manusia, kita saling mengenali dari wajah, kita mencetak wajah di dokumen identitas. Jadi wajah adalah biometrik alami yang digunakan saat menyatakan bahwa Anda adalah sebuah identitas.”

Meski demikian, tambah Joe, masalahnya adalah wajah bukanlah rahasia. Saat ini semua orang dapat menemukan hampir semua wajah di dunia maya, baik itu Facebook, LinkedIn, Twitter, sehingga jejaring sosial mana pun.

“Anda dapat berasumsi bahwa foto tersebut kini menjadi kredensial publik. Oleh karena itu, seseorang dapat mewakili Anda jika mereka memiliki foto Anda. Jadi mencocokkan biometrik saja tidak cukup. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa biometrik yang diserahkan adalah asli versi real time dari orang tersebut. Inilah yang kami lakukan. Jadi kami mengatasi masalah ini selama 12 tahun untuk mengikat representasi digital Anda dengan fisik Anda yang sebenarnya melalui biometrik wajah.”

Wabah Covid 19 telah meningkatkan jumlah penggunaan identitas digital. Para pelaku kriminal yang tidak lagi mampu beroperasi di dunia fisik lalu mengalihkan upaya mereka ke dunia maya. Pada akhirnya terjadi penipuan dalam jumlah besar untuk paket bantuan Covid di Amerika Serikat. Terdapat 2 triliun dollar yang diberikan untuk membantu mereka melewati masa pandemi, namun ratusan miliar dollar di antaranya telah dipastikan dicuri oleh orang-orang yang menyamar dengan menggunakan identitas digital.

“Dan kita melihat sekarang pemerintah secara khusus menyadari bahwa mereka dapat memberikan solusi identitas digital nasional dan layanan verifikasi bio nasional kepada sektor publik dan swasta. Dan mereka menyadari bahwa biometrik adalah cara terbaik untuk melakukannya, karena itulah cara manusia mengikatkan diri pada identitasnya,” imbuh Joe.

Dengan adanya pandemi Covid 19, eKYC mengalami percepatan yang pesat, terutama dengan bank yang menawarkan hal tersebut untuk pembukaan rekening baru bagi pelanggannya. Dan Indonesia adalah salah satu pemimpin di dunia dalam hal persentase bank yang memiliki saluran digital, yang mana adopsi teknologinya sangat fantastis dan sangat pesat.

“Jadi bank biasanya akan bekerja sama dengan penyedia teknologi yang membantu bank menerapkan proses eKYC, yang biasanya mereka akan membaca nomor kartu telepon orang tersebut dan mengambil informasi darinya seperti tanggal lahir dan sebagainya. Lalu kami akan mengambil foto selfie orang tersebut untuk mengabadikannya. Dan kemudian kami akan mengirimkan gambarnya kepada mereka dan memeriksa dengan membuat perbandingan. Apakah orang dengan potongan nomor itu cocok dengan selfie yang baru saja diambil. Jika pihak bank mengatakan cocok, maka langkah berikutnya akan dilanjutkan oleh bank tersebut. Jadi, itulah proses yang sangat sederhana saat ini.”

Jadi, tambah Joe, deepfake mungkin telah berevolusi lebih cepat daripada kebanyakan teknologi, khususnya selama satu atau dua tahun terakhir, mereka telah mencapai titik di mana seseorang dapat melakukan pemalsuan visual dan audio secara real-time dengan jeda yang sangat, sangat sedikit.

“Pemerintah ingin mempercepat transformasi digital di Indonesia, salah satu elemen penting untuk mewujudkan hal tersebut adalah kemampuan untuk memiliki identitas digital,” tutupnya.