Search
Minggu 16 Juni 2024
  • :
  • :

Aplikasi Cargo Central Diharapkan dapat Memotong Proses Berbelit dan Calo

MAJALAH ICT – Jakarta. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara meresmikan Aplikasi Cargo Central ”Aplikasi Cargo Centrals Tulang Punggung Industri Cargo dan Sistem Logistik di Indonesia“ di Kantor Kominfo, hari ini (26/10/2016). Rudiantara juga menegaskan dengan adanya aplikasi semacam ini dapat memotong proses yang berbelit bidang logistik, dan calo yang harus diberantas. Dengan juga menyiapkan infrastrukturnya yakni internet.

“Mudah-mudahan dengan pelayanan aplikasi Cargo Centrals ini efisiensi logistik bisa dihasilkan, aplikasi ini bisa membuat hidup dan Indonesia lebih efisien. Agar Indonesia tidak merasa malu lagi di mata negara tetangga dan negara lainnya bahwa Indonesia itu masih mempunyai masalah dengan ineffisiency yang tinggi di bidang logistik,” tutur Menkominfo. 

“Mudah-mudahan dengan pelayanan aplikasi Cargo Centrals ini efisiensi logistik bisa dihasilkan, aplikasi ini bisa membuat hidup dan Indonesia lebih efisien. Agar Indonesia tidak merasa malu lagi di mata negara tetangga dan negara lainnya bahwa Indonesia itu masih mempunyai masalah dengan ineffisiency yang tinggi di bidang logistik,” tutur Menkominfo.

Menkominfo Rudiantara sangat mengapresiasi dengan hadirnya aplikasi Cargo Centrals yang diinisiasi oleh Yayasan Pengembangan dan Pendidikan Telematika Indonesia (YPPTI) dengan bekerjasama perusahaan bidang kargo (PT Pasindo dan PT Amarta),  juga menegaskan untuk tidak takut berkompetisi karena pasti akan mucul juga aplikasi serupa lainya. ”Berkompetisi itu indah dan membuat efisien, yang tidak membuat efisien itu adalah  adanya proteksi yang berlebihan untuk kepentingan tertentu yang tidak ada benefitnya bagi masyarakat,” ujar Menkominfo mengakhiri sambutannya.

Permasalahan  logistik Indonesia masih menjadi salah yang terburuk dibandingkan di beberapa negara tetangga atau negara lainnya. “High cost economy Indonesia termasuk yang tiggi, disebabkan 25% GDB Indonesia adalah logistic, jika dibandingkan dengan Amerika ataukah negara tetangga misalnya, Singapura dan Malasyia yang hanya mencapai belasan persen saja.  Indonesia harus bisa berupaya menurunkan biaya logistik ini. “Saya juga berharap di lingkungan Kementerian Kominfo tidak ada yang namanya pungli, kalau ada harap lapor ke saya langsung. Tidak akan ada ampun,”  tegas Rudiantara. 

Menkominfo Rudiantara kemudian menjelaskan kembali mengenai besarnya biaya logistik Indonesia dengan melihat Index Logistic Performance Indonesia (2014-2016) dimana kondisinya memburuk namun pada International Shipments naik dari ranking 74 ke 71 pada tahun 2016 sementara  tracking dan tracing memburuk demikian juga yang lainnya. 

“Bila dilihat dari 25% itu adalah 11,8% transportasi 12,1% inventory sedangkan administrasi 1,5 %. Artinya bahwa jika dianggap yang mahal adalah transportasi. Belum tentu, ternyata inventory. Jadi mudah-mudahan aplikasi juga mengadres masalah inventory namun bukan berarti transportasi tidak ada masalah,” tandas Rudiantara.