MAJALAH ICT – Jakarta. Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) kembali menggelar Musyawarah Nasional (Munas) untuk memilih Ketua Umum dan kepengurusan baru. Meski memiliki posisi strategis karena menjadi mitra regulator dalam perumusan regulasi, sayangnya peran ATSI kian tenggelam bahkan nyaris tak terdengar. Di samping itu, dalam prakteknya, suara Ketua Umum ATSI berbeda dengan keinginan industri secara keseluruhan.
Menurut Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P. Santosa, walaupun ATSI adalah Anggota Mastel tetapi saya tidak banyak mendengar atau membaca tentang kiprah ATSI akhir-akhir ini. "Selama ini peran ATSI tak terlalu bergema. Sebagai contoh kita bisa mengecek situs atau website ATSI pun masih belum ada. Padahal di era internet ini jarang sekali organisasi TIK yang tidak memiliki website,” kata Setyanto.
Karena itu, mantan Dirut Telkom ini menyarankan agar ATSI perlu meningkatkan kontribusi terhadap industri telekomunikasi dan anggotanya dengan penyegaran. "Supaya ATSI menjadi kuat dan dapat maju maka harus dikelola secara profesional dan adil serta mampu mengayomi para anggotanya sehingga benar-benar bermanfaat dan juga bermartabat,” katanya.
Penilaian yang hampir sama datang dari Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi. Menurutnya, sesungguhnya peran ATSI sangat signifikan. "Ketika bicara atas nama ATSI, harusnya bicara atas nama industri. Kalau ada perbedaan antara anggota aTSI, itu diselesaikan di dalam. Dalam kenyataannya, apa yang disampaikan ATSI keluar sering hanya menjadi pemikiran operator yang saat itu menjadi Ketua Umum," kata Heru.
Ditambahkannya, ATSI harus dikelola profesional. "Harusnya Direktur Utama Operator hanya menjadi Dewan Penasehat saja, sementara aktivitas harian dijalankan profesional. Selain waktu, harus ada pihak yang netral yang bisa merangkul semua kepentingan atas nama industri, bukan operator per operator," harap Heru.

















