Search
Minggu 16 Juni 2024
  • :
  • :

Bakrie Telecom dapat Restu OJK Terbitkan Obligasi Rp.7,6 Triliun

 

MAJALAH ICT – Jakarta. PT Bakrie Telecom Tbk.  mengklaim sudah mendapat restu Otoritas Jasa Keuangan untuk menerbitkan obligasi wajib konversi senilai total Rp.7,6 triliun. Untuk itu, perseroan akan bergerak cepat untuk mengeksekusi penerbitan obligasi tersebut setelah kuartal I/2017. Menurut Andi Pravidia Saliman, Direktur Bakrie Telecom, perseroan akan berkomunikasi lagi dengan seluruh kreditur pada kuartal I tahun depan.

“Seluruh kreditur sudah setuju dengan obligasi wajib konversi tersebut. Huawei akan dapat mayoritas, dan mereka sudah setuju,” kata Andi. Dijelaskannya, setelah itu, proses konversi dapat berjalan hingga 10 tahun ke depan. PT Huawei Tech Investment akan mendapat saham Bakrie Telecom sebesar 9%. Sebanyak 50 kreditur akan menerima obligasi wajib konversi (OWK) yang ditawarkan Bakrie Telecom.

Penerbitan obligasi wajib konversi Rp. 7,6 triliun ini merupakan bagian dari pelunasan utang perseroan senilai total Rp.11,6 triliun. Menurut Andi, utang perseroan yang tidak dikonversi ke saham sebesar Rp.4 triliun akan diperpanjang tenornya. Perseroan belum memastikan restrukturisasi utang senilai Rp.4 triliun tersebut. Selain Huawei, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk. akan mendapat saham  7,1% dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk. akan mendapatkan 6,8% saham.

Diungkapkannya, selain restrukturisasi utang, Bakrie Telecom juga sedang membentuk bisnis baru. Bisnis solusi ini akan mulai dijalankan pada pertengahan tahun 2017. Dalam bisnis solusi baru ini, pihak perseroan telah bertemu dengan beberapa calon mitra tetapi belum memastikan bentuk kemitraan. Dikatakan Andi, terbuka kemungkinan membentuk perusahaan patungan dengan mitra tersebut.

Sementara itu, diketahui bahwa Bakre Telecom kini telah tidak memiliki lagi lisensi yang penyelenggara jaringan dan beralih ke jasa telekomunikasi. Namun begitu, Bakrie Telecom mengaku hingga akhir desember 2015 masih memiliki jumlah pelanggan tersisa 2,4 juta.