Search
Minggu 18 Januari 2026
  • :
  • :

Bakti Kominfo Batalkan Kontrak Hot Backup Satellite (HBS)

MAJALAH ICT – Jakarta. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan pengakhiran kontrak Proyek Hot Backup Satellite (HBS) lebih awal. Anggaran untuk HBS akan direalokasikan untuk perluasan dan peningkatan akses dan konektivitas digital nasional.

Ketua Satuan Tugas BAKTI Kominfo Sarwoto Atmosutarno menjelaskan hal itu sesuai dengan arahan dan rekomendasi kepada BAKTI Kementerian Kominfo.

“Satgas BAKTI Kominfo telah mengkaji usulan dan menyetujui pengakhiran lebih awal Kontrak HBS. Setelah mempertimbangkan aspek urgensi, anggaran, kemajuan kontrak, dan risiko operasional SATRIA 1 yang telah meluncur dengan sukses,” jelasnya usai rapat koordinasi rutin Satgas BAKTI Kominfo di Jakarta Selatan.

Menurut Ketua Satgas BAKTI Kominfo, usulan itu merupakan bagian dari pemanfaatan keterbatasan sumberdaya finansial dalam menuntaskan target inklusi digital nasional. Pertimbangan pengakhiran juga dilandasi adanya upaya Manajemen BAKTI Kementerian Kominfo dalam melakukan mitigasi risiko atas kebutuhan layanan internet di lokasi layanan publik serta mengkordinasikan pengakhiran ini dengan Konsorsium Nunsantara Jaya (KNJ).

“Satuan Tugas BAKTI Kominfo telah menerima dan memberi rekomendasi terkait governance, risk, and compliance atas pengakhiran kontrak hot backup satellite yang disampaikan oleh Direktur Utama BAKTI Kominfo,” ungkapnya.

Sarwoto Atmosutarno menekankan BAKTI Kementerian Komifo juga mempedomani aspek tidak adanya kerugian negara yang timbul akibat pengakhiran kontrak HBS tersebut.

“Total nilai Proyek HBS adalah Rp. 5,2T. Pembayaran yang telah dilakukan oleh Pemerintah adalah senilai Rp3,5 Triliun ditambah cost of money dan akan dikembalikan oleh KNJ,” tuturnya.

Proyek HBS merupakan proyek yang dirancang untuk dapat beroperasi sebelum atau paling lambat bersamaan dengan Proyek Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) Satelit Multifungsi Pemerintah Satelit Republik Indonesia (SATRIA)-1. Sebagaimana nama HBS, satelit itu akan berfungsi sebagai satelit cadangan jika SATRIA-1 mengalami anomali ketika meluncur.

“Hal ini ditujukan sebagai mitigasi atas risiko apabila terjadi gagal luncur dan sekaligus menyediakan kapasitas cadangan sebelum Proyek SATRIA 1 beroperasi secara optimal,” ungkap Ketua Satgas BAKTI Kominfo.

Faktanya, pada tanggal 18 Juni 2023 dari Florida, SATRIA-1 berhasil meluncur dan saat ini tengah dalam perjalanan menuju orbit di 146 Bujur Timur. SATRIA-1 akan segera beroperasi awal 2024, oleh karena itu, BAKTI Kementerian Kominfo perlu fokus untuk pemanfaatan SATRIA-1 secara optimal.

“Kita harus fokus kepada SATRIA-1 yang akan banyak menyita energi dan tidak boleh gagal dalam pelaksanaannya. Kita akan sangat sibuk sekali dengan bagaimana memanfaatkannya secara optimal, baik untuk kapasitas space segment ataupun ground segment. Jangan sampai kita tidak fokus,” tandas Sarwoto Atmosutarno.

Satgas BAKTI Kominfo dibentuk melalui Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 472 Tahun 2023. Salah satu tugas satgas itu melakukan percepatan penyelesaian dan optimalisasi program penyediaan infrastruktur telekomunikasi dan informasi pada BAKTI Kementerian Kominfo, yaitu penyediaan akses internet di wilayah 3T, pembangunan BTS, penyediaan jaringan serat optik Palapa Ring, dan pengoperasian SATRIA-1.

Diketahui, Badan Aksesiblitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 11 Maret 2022 mengumumkan pelaksana proyek dari Hot Backup Satelite (HBS) atau satelit cadangan untuk dapat menyokong satelit SATRIA-1. “BAKTI mengumumkan hasil kerja dari tim Pokja Pengadaan Proyek Hot Back Satelite, pemenang tender yang ditunjuk oleh Pokja pengadaan HBS adalah Kemitraan Nusantara Jaya,” kata Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latief pada saat itu.

Kemitraan Nusantara Jaya akan bertanggung jawab untuk penyediaan HBS dimana satelit dibangun menggunakan teknologi dari perusahaan asal AS yaitu Boeing, proyek peluncuran satelitnya ke orbit menggunakan roket dari SpaceX jenis Falcon 9.

Satelit cadangan itu nantinya akan berada di orbit 113 Bujur Timur (BT) dengan kapasitas sebesar 80 GB persekon dan mendukung kinerja dari Satelit SATRIA-1 yang ditargetkan meluncur ke angkasa pada Juni 2023. Namun, hingga Oktober ini Satelit juga belum meluncur.

Untuk pengadaan HBS, BAKTI Kominfo menggelontorkan dana sebesar Rp5,2 triliun dengan target pengerjaan dimulai pada kuartal pertama 2022, peluncuran ke orbit pada kuartal pertama 2023, dan mulai beroperasi untuk publik pada kuartal keempat 2023. Akan ada tujuh stasiun bumi yang tersebar di beberapa kota di wilayah Indonesia untuk HBS antara lain di Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan ,dan Kupang.

Satelit ini pun akan memiliki dua Satelite Control Center (SCC) dengan satu bersifat primer dan satu merupakan cadangan. Untuk SCC primer terletak di Cikarang, Jawa Barat sementara antena dan RF subsistemnya terletak di Banda Aceh. Adapun SCC cadangan dengan antenanya terletak di Banjarmasin dan RF subsistemnya berlokasi di Kupang.

Satelit ini akan terhubung dengan 3700 layanan kesehatan seperti puskesmas yang akan terkoneksi dengan internet, 3000 pos TNI dan Polri yang terhubung dengan satelit untuk mendukung kerja adminstrasi yang lebih mumpuni, 47.900 kantor pemerintah ditingkat desa, kelurahan serta kecamatan yang akan terbantu untuk penyelenggaraan e-goverment mumpuni dengan kehadiran Satelit HBS.