Search
Sabtu 13 April 2024
  • :
  • :

Baru Seumur Jagung, Aroma Persaingan di Timor Leste Sudah Tercium

MAJALAH ICT – Jakarta. Baru beberapa minggu Telkomcel, produk Telkom Internatonal (Telin) yang merupakan anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia, hadir di bumi Loro Sae, Timor Leste, aroma persaingan dengan penyelenggara telekomunikasi lain sudah mulai tercium. Seperti dikutip dari Telegeography, penyelenggara incumbent Timor Telecom, bagian dari kelompok Portugal Telecom, mengatakan ada masalah dengan Telin terkait interkoneksi.

Dalam sebuah artikel di situs DinheiroDigital Portugis, Timor Telecom mengklaim bahwa meskipun dalam tahap akhir negosiasi dengan Telin, perusahaan Indonesia memiliki keunggulan kompetitif atas incumbent karena sumber daya bandwidth internasional termasuk dominasi Telin dalam koneksi terestrial. 

Menurut Direktur Timor Telecom, Manuel Amaro, pihaknya telah siap menandatangani interkoneksi dengan Vietnam yang didukung pendatang baru Viettel, tetapi mengatakan ada masalah dengan mencapai kesepakatan dengan Telin. "Kami ingin sejajar dalam hal bandwidth, kita perlu harga yang adil dan akses daratan," katanya.

Ditambahkan Manuel, "Kami butuh kapasitas dan harga koneksi ke daratan, namun tidak mau memberi, karena dikatakan tidak memiliki kapasitas tidak, meski menempatkan banyak bandwidth di Timor Timur," sesalnya.

Sebagaimana diketahui, Telkom baru saja meresmikan kehadirannya di Timor Leste. Di Timor Leste, Telkom melalui Telkom International, anak usahanya, hadir dengan nama Telkomcel. Di negeri bekas bagian wilayah Indonesia sebagai Propinsi ke-27 ini, Telkom menyiapkan investasi sekitar 50 juta doilar AS atau sekitar Rp. 480 milyar. 

"Investasi di Timor Leste sebesar 50 juta dollar AS untuk 2 tahun pertama sampai 2015. Itu semua biaya dari internal," kata Head of Corporate Communication & Affair Telkom Slamet Riyadi. Telkomcel mendapat ijin dari pemerintah Timor-Timur yang memang sedang menggarap investasi dari luar untuk menyediakan layanan seluler dengan teknologi 2G maupun 3G. Adapun target pelanggan adalah ‘hanya’ 600 ribu pengguna hingga 2018. Selain Timor Leste, Telin sudah menjajal bisnis di 10 negara lain, dengan pembukanya adalah Singapura.