Search
Selasa 22 September 2020
  • :
  • :

Begini Hasil Penelitian LD FEB UI Mengenai Peran Ekosistem Digital Gojek di Ekonomi Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19

MAJALAH ICT – Jakarta. Ekosistem ekonomi digital yang dimiliki Gojek mendukung ketahanan ekonomi selama pandemi COVID-19. Solusi teknologi dan non-teknologi yang ditawarkan platform digital ​Gojek ​membantu jutaan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) beradaptasi sehingga bisa bertahan di situasi pandemi COVID-19, dan tetap optimis bertumbuh ke depannya. ​Salah satunya melalui kemudahan migrasi UMKM dari ​offline ​ke online, atau mempercepat UMKM untuk “go digital.”

Kontribusi tersebut merupakan kelanjutan dari kontribusi ekonomi yang dihasilkan Gojek. Sebelum pandemi, ​mitra Gojek dari lima layanan (GoFood, GoPay, GoSend, GoCar dan GoRide) berkontribusi sebesar​ ​Rp 104,6 triliun pada ekonomi Indonesia di 2019, ​d​engan rincian kontribusi ​Langsung sebesar ​Rp 87,1 Triliun​, dihitung dari ​selisih pendapatan mitra sebelum dan sesudah bergabung ke ekosistem Gojek​. Dan dampak Multiplier (​multiplier effect)​ sebesar ​Rp 17,5 Triliun pada sektor-sektor UMKM yang berada ​di luar ​ekosistemnya, dihitung dari ​selisih pendapatan UMKM sebelum dan​ setelah Gojek beroperasi di sebuah kota​. Bila menggunakan metode perhitungan pendapatan domestik bruto (PDB), nilai produksi di ekosistem digital Gojek selama tahun 2019 ​setara dengan 1% PDB nasional Indonesia​.

Demikian temuan utama dari riset terbaru Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (singkatnya LD) yang berjudul, ​“Peran Ekosistem Digital Gojek di Ekonomi Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19.”

Dr. Alfindra Primaldhi – Peneliti LD ​memaparkan, “Riset ini menunjukkan peran ekosistem ekonomi digital dalam membantu UMKM, khususnya usaha mikro, untuk bertahan di masa pandemi. Kondisi pandemi ini menguji resiliensi (ketahanan), dan kemampuan adaptasi para pelaku usaha di masa krisis. Salah satu adaptasi itu adalah mengubah usaha tradisional menjadi usaha digital. Tampak juga bahwa para pelaku usaha cukup realistis melihat dampak panjang dari pandemi, namun mereka juga tetap optimis bahwa dengan berada dalam suatu ekosistem digital, usaha mereka dapat tetap tumbuh kedepannya, dan penghasilan mereka kembali seperti sebelum pandemi.”

Riset LD menunjukkan bagaimana GoFood menjadi penyangga ekonomi bagi mereka yang penghasilannya terdampak pandemi terutama pegawai swasta. Riset menemukan 40% Mitra GoFood yang disurvei baru bergabung saat pandemi COVID-19 (sejak Maret 2020). Di antara mitra tersebut, 94% adalah pengusaha skala mikro. Lebih lanjut lagi, 43% di antara mereka merupakan pengusaha yang pertama kali mulai berbisnis.

“Riset ini juga menunjukkan bahwa sektor swasta turut terkena dampak dari pandemi. Proporsi mitra GoFood baru yang berasal dari pegawai swasta adalah sebesar 24%, sedangkan sebelum pandemi proporsi mitra dari pegawai swasta hanya 18%. Selain itu, mitra yang tidak punya pengalaman usaha sebelumnya meningkat hampir dua kali lipat menjadi 43% dibandingkan pendaftar sebelum pandemi. Maka, tampak bahwa usaha kuliner menjadi sumber penghasilan alternatif bagi orang-orang yang kehilangan, atau mengalami penurunan penghasilan selama pandemi. Keberadaan ekosistem ekonomi digital seperti Gojek mempermudah akses bagi pengusaha pemula,” jelas Alfindra.

Riset LD juga menemukan bahwa mayoritas mitra UMKM menganggap mereka ​mampu ​beradaptasi di situasi pandemi karena berada di ekosistem Gojek. UMKM yang merasa mampu beradaptasi selama pandemi dengan menjadi mitra adalah 92% mitra UMKM GoFood, 97% mitra UMKM ​social seller1 pengguna GoSe​nd, dan 89% mitra ​UMKM GoPay.

Hal ini dikarenakan, mitra menganggap ​solusi teknologi dan non teknologi ​dari Gojek membantu keberlangsungan usaha mereka. Mitra UMKM GoFood merasakan manfaat dari fitur ​teknologi pengaturan promosi mandiri (68%) dan ​periode ​promosi (51%). Sementara mitra UMKM ​social sellers ​pengguna GoSend sangat merasakan manfaat dari fitur ​Layanan GoSend dalam Kota (77%) dan Layanan GoSend Antar-Kota ​(32%). Sedangkan, Mitra UMKM GoPay merasakan manfaat dari fitur ​penerimaan pembayaran non tunai (75%)​ dan ​aplikasi GoBiz (49%).

Dalam waktu kurang dari 3 bulan, UMKM kuliner dan non-kuliner yang baru bergabung ke ekosistem Gojek mendapatkan ​keterampilan baru yaitu ​skill berjualan online (77%), pemanfaatan media sosial untuk bisnis (48%), dan kreativitas dalam pemasaran (45%).

Kemampuan mitra untuk bertahan dan beradaptasi bersama Gojek membuat ​90% mitra UMKM cenderung optimis bisa pulih dan tumbuh kedepannya dengan terus bersama Gojek​. Mayoritas UMKM berencana tetap bermitra dengan Gojek secara jangka panjang.

Riset LD juga mengungkapkan ​semangat gotong royong yang kuat ​di ekosistem Gojek dalam bentuk upaya saling membantu di tengah pandemi. Mayoritas mitra GoFood (72%) memberikan bantuan sosial. Hampir setengah dari mitra GoFood memberikan bantuan ke driver ojek online (44%). Mitra pengemudi juga mendapatkan bantuan dari konsumen (21%), dari sesama mitra (5%), dan dari perusahaan Gojek (89%). Mayoritas mitra pengemudi (84%) mengapresiasi bantuan dari Gojek.

Melalui Ekonomi Digital, Kontribusi Mitra Gojek di Tahun 2019 Juga Timbulkan Efek Domino

Dr. Paksi C.K Walandouw – Wakil Kepala LD ​melanjutkan di tahun 2019 kontribusi mitra GOJEK dari lima layanan (GoRide, GoCar, GoSend, GoFood dan GoPay) ke perekonomian Indonesia mencapai Rp 104,6 triliun, meningkat karena kenaikan kontribusi mitra, terutama GoFood, dan perluasan ekosistem. ​Angka ini naik dibandingkan kontribusi di tahun 20173 dan 20184. Kontribusi ekonomi dihitung dari selisih pendapatan mitra sebelum dan sesudah bergabung ke dalam ekosistem Gojek.

Bila dihitung menggunakan metode ​p​endapatan domestik bruto (PDB), ekosistem digital Gojek nilai produksinya setara dengan 1% PDB nasional. Angka tersebut terdiri dari sumbangan langsung dari mitra GoRide dan GoCar di sektor transportasi darat, dan sumbangan tidak langsung dari UMKM, GoFood, GoPay, GoSend, dan efek multiplier yang digerakkan oleh ekosistem Gojek. Sumbangan ini secara relatif besar bila dibandingkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk beberapa Provinsi di Indonesia.

Paksi ​menambahkan, keberadaan Gojek di sebuah kota juga menimbulkan efek domino di sektor lainnya. Dampak ​multiplier,​ atau kontribusi tidak langsung keberadaan Gojek pada ekonomi Indonesia di tahun 2019, me​ncapai Rp 17,5 Triliun. I​ni dihitung dari selisih pendapatan UMKM di luar ekosistem Gojek5 (seperti bengkel yang digunakan mitra pengemudi, atau pedagang pasar yang menjual bahan baku ke mitra GoFood) sebelum dan setelah Gojek beroperasi di sebuah kota.

“Mayoritas (86%) UMKM di luar ekosistem Gojek seperti bengkel dan pedagang pasar mengalami peningkatan volume transaksi setelah ada Gojek di kotanya. Yang menarik adalah, lebih dari sepertiga UMKM (33%) mengaku bisa membuka cabang usaha baru setelah ada Gojek di kotanya. Ini artinya keberadaan platform digital di sebuah kota bisa membuat roda ekonomi bergerak semakin cepat,” ujar ​Paksi.

Riset LD FEB UI ini dilakukan di beberapa wilayah Indonesia6 dengan menggunakan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka untuk melihat kontribusi Gojek di tahun 2019. Sedangkan untuk riset di masa pandemi COVID-19 dilakukan melalui survei online di wilayah yang sama.

Penentuan responden penelitian dilakukan dengan pencuplikan acak sederhana (​simple random sampling​) dari mitra yang aktif dalam tiga bulan terakhir. Sampel penelitian ini mewakili populasi mitra pengemudi GoCar dan GoRide; mitra UMKM GoFood dan GoPay; mitra UMKM ​social seller pengguna GoSend. Untuk UMKM lain di luar ekosistem Gojek (bengkel, pedagang pasar) di wilayah penelitian, dilakukan dengan metode purposif. Riset ini merupakan salah satu riset dengan skala dan cakupan terbesar pada industri ekonomi digital Indonesia pada saat pandemi.

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *