Search
Rabu 19 Februari 2020
  • :
  • :

Bisnis Digital: Booming atau Bubble? (Bagian 2)

Bisnis Digital Bergerak

Bisnis digital Indonesia memang saat ini sedang begerak. Dari perkembangan digitalisasi ekonomi di Indonesia, Kementerian Koperasi dan UKM melansir data olahan BPS danmenyimpulkan adanya pertambahan jumlah pengusaha. Dari sebelumnya 1,6% menjadi 3,1% dari populasi. Angka itu menggembirakan karena telah menembus batas psikologis 2%.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara saat forum pertemuan G20 Digital Ministers Meetings bertema “Policies for a Digital Future”, di Dusseldorf, Jerman, awal bulan lalu, menyampaikan cerita sukses Indonesia kembangkan bisnis digital. Rudiantara dalam beberapa pertemuan bilateral menjelaskan bagaimana Gojek, Tokopedia, OLX, Halo Doc dan platform lainnya membawa inovasi teknologi digital untuk membantu masyarakat dalam mengurangi Gini Ratio. Penyelenggarakan program-program inkubasi dan pengembangan beragam model bisnis ekonomi digital terbukti praktis, efektif, dan scalable untuk mengurangi ketimpangan pendapatan dan kesejahteraan, melalui pemberdayaan UMKM.

Bisnis digital juga kental urusannya dengan industri kreatif. Tak herna jika Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) akan terus mendorong pelaku industri kreatif untuk berkembang dimana salah satu pendukung berkembangnya industri kreatif yakni teknologi informasi, seperti jaringan internet berperan penting dalam mengenalkan dan memasarkan produk industri kreatif.

Deputi Akses Permodalan Bekarf Fadjar Hutomo menyampaikan, selain menyumbang pertumbuhan domestik bruto (PDB) nasional, industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Data Bekraf menyebutkan, mengacu data 2016, industri kreatif menyumbang sekitar Rp.800 triliun atau delapan persen dari total PDB, dengan pertumbuhan dari tahun ke tahun mencapai lima persen. “Ekonomi kreatif semakin mendapat perhatian utama di banyak negara, karena dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian. Melihat potensi tersebut, Pemerintah terus mendorong startup untuk terus berkembang. Selain dengan memberikan wadah bagi pemain industri kreatif untung menuangkan ide-idenya. yang tidak kalah pentingnya adalah pemerataan internet,” katanya.

Menurutnya, harus diakui bahwa jaringan internet sangat berperan penting dalam mengenalkan dan memasarkan produk industri kreatif. Pemasaran sistem online memiliki jangkauan sangat luas dan dalam waktu singkat. Pemerataan akses internet menjadi kewajiban Kominfo agar ekonomi yang berbasis digital kreatif ini dapat terus berkembang,” tandasnya. Fadjar menambahkan, saat ini ada 16 subsektor yang akan terus berkembang selama 2015-2019, yakni seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, aplikasi game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, periklanan, musik, penerbitan, fotografi, desain produk, fashion, film animasi dan video, kriya dan kuliner.

Namun sayangnya, katanya, akses internet di Indonesia belum tersedia merata ke seluruh wilayah khususnya di daerah pelosok. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada 2016 mengungkap bahwa penetrasi internet mayoritas masih berada di Pulau Jawa. “Dari survei yang dipresentasikan oleh APJII itu tercatat bahwa sekitar 86,3 juta orang atau 65 persen dari angkat total pengguna internet tahun ini berada di Pulau Jawa. Sedangkan sisanya adalah 20,7 juta atau 15,7 persen di Sumatera. Kemudian 8,4 juta atau 6,3 persen di Sulawesi, 7,6 juta atau 5,8 persen di Kalimantan, 6,1 juta atau 4,7 persen di Bali dan NTB, 3,3 juta atau 2,5 persen di Maluku dan Papua,” pungkasnya.

Saat acara Master Plan 2020 “Grab 4 Indonesia” di Grand Hyatt Jakarta, Menteri Rudiantara juga menyatakan bahwa perkembangan teknologi diharapkan mampu menjadi alat pertumbuhan ekonomi. “Kominfo memposisikan ICT sebagai enabler bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Pemerintah mendukung model bisnis yang dikembangkan Grab karena membantu memberdayakan ekonomi masyarakat,” jelas Rudiantara.

Terkait komitmen investasi Grab, Menkominfo mengapresiasi komitmen Grab tersebut. ”Ini sesuatu yang luar biasa, investasi sebesar US$ 700 juta, dimana diantaranya akan dibelanjakan dalam pembangunan Research and Development (R&D) center. Setelah Apple membangun R&D, sekarang Grab juga. Ini akan menjadi alat intuk mendorong dan memberdayakan masyarakat dalam ekonomi digital.” ungkap Rudiantara.

Senada dengan Rudiantara, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyatakan bahwa Investasi Grab sebesar US$ 700 juta merupakan investasi besar dalam 4 tahun. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden untuk mencari investasi.”Presiden tugaskan saya mencari investasi (capital in flow). Ini merupakan investasi dari luar negeri di sektor teknologi. Ke depan kita akan menggunakan digital payment yaitu e Banking. Harapan inovasi di bisnis transportasi online seperti Grab dan lainya di industri aplikasi digital bisa mendorong digital payment dan logistik,” kata Thomas.

 

<< Sebelumnya | Selanjutnya >>

 

Loading...




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *