Search
Selasa 16 April 2024
  • :
  • :

BlackBerry Menabuh Lonceng Kematian

MAJALAH ICT – Jakarta. BlackBerry, pertama kali muncul dan booming di Indonesia pada 2008. Kemunculannya menyingkirkan vendor- vendor ponsel yang lebih dulu mapan, seperti Nokia, Sony Ericsson, Siemens, dan Motorola.

Booming BlackBerry di Indonesia ternyata membawa implikasi jatuhnya pamor Nokia, yang sebelumnya sangat menguasai pasar di Tanah Air. Inovasi Nokia yang sangat signifikan ternyata kalah hanya oleh suatu aplikasi sederhana, yaitu BBM (Blackberry Messenger).

Sampai saat ini, BlackBerry masih jadi pemimpin pangsa pasar ponsel pintar di Indonesia meskipun mulai digerogoti oleh ponsel android dan iPhone. Saat ini saja, pangsa pasarnya turun dari 60% pada 2008-2011 menjadi 30% saat ini.

Saat ini, jumlah pengguna BlackBerry di Indonesia telah mencapai lebih dari 14 juta orang, dengan Telkomsel masih menguasai pasar lebih dari 50%, diikuti XL (3,2 juta), Indosat (2,6 juta), dan Axis (850.000).

Ya, momentum BlackBerry memang tepat bersamaan dengan booming sosial media di Indonesia, sehingga sedikit banyak gadget yang tampil dengan warna putih dan hitam ikut mereguk popularitas. Apalagi BlackBerry menawarkan kemudahan penggunaan aplikasi chatting lainnya, seperti Yahoo Messenger dan Google Talk serta upload ke jejaring sosial.

Wajar saja, karena masyarakat Indonesia lebih menyukai menyampaikan pesan secara tertulis kepada teman atau kerabatnya melalui social media atau aplikasi chatting dibandingkan dengan menelepon.

Kini, BlackBerry telah meninggalkan BlackBerry Internet Service (BIS) untuk akses datanya, sehingga gadget BB sama dengan ponsel pintar lainnya. Apalagi, fitur BBM sebentar lagi akan dibuka untuk sistem operasi lainnya, yaitu Android dan iOS.

Bila hal itu benar-benar terjadi, ditambah dengan ponsel Android yang tampil lebih murah dan lebih kaya aplikasi, serta adanya pengalaman siklus teknologi setiap 7 tahun akan berubah, maka BlackBerry yang mulai booming sejak 2008 diprediksi sedikit demi sedikit akan tergantikan oleh ponsel dan sistem operasi lainnya.

Hilangnya aplikasi BBM dan BIS yang sebenarnya merupakan faktor kunci BlackBerry masih bernafas di Indonesia, bakal jadi blunder vendor asal Kanada itu, karena secara tidak langsung BlackBerry telah menabuh lonceng kematian.

 Tulisan ini dan informasi-informasi mengenai perkembangan ICT Indonesia lainnya dapat dibaca di Majalah ICT Edisi No. 12-2013 di sini