Search
Rabu 17 April 2024
  • :
  • :

BlackBerry Z10 Rp. 1 Juta Tidak akan Mampir ke Indonesia

MAJALAH ICT – Jakarta. BlackBerry Z10 yang baru saja diperkenalkan pada publik Indonesia Maret lalu di Amerika Serikat harganya yang tadinya 700 US dolar jatuh dan diobral menjadi Rp. 1 jutaan saja atau 100 USD. Bahkan Amazon.com menawarkan Rp. 450 ribu untuk best buy. Timbul pertanyaan, apakah pengguna BB di Indonesia bisa mendapatkan harga Rp. 1 juta-an untuk BB Z10?

Nampaknya, pengguna Indonesia tidak akan mendaptkan harga BB Z10 dengan harga 100 dolar AS. Pasalnya, harga 100 dolar tersebut ternyata adalah dengan sistem kontrak selama 2 tahun dengan nilai biaya per bulan tertentu. Sementara untuk eceran tetap sekitar 100 dolar Z10 dijual.

Untuk sistem kontrak, di Indonesia sistem ini gagal. Sebab biasanya, ponsel dikunci sehingga tidak bisa berganti operator. Namun di Indonesia, hal-hal seperti ini bisa diterobos. Tinggal bawa ke toko-toko ponsel, kunci ponsel bisa dibuka dan pengguna bisa berganti operator. Data pengguna yang tidak jelas dari registrasi prabayar yang kurang sukses membuat sistem kontrak sulit diimplementasikan di Indonesia.

Terkait harga 100 dolar untuk Z10, menurut perwakilan Blackberry yang berbicara kepada Wall Street Journal, harga baru ini adalah langkah yang benar-benar normal. "Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyesuaikan harga," kata seorang juru bicara yang tidak disebutkan namanya. "Itu bagian siklus manajemen harga untuk perangkat tersebut saat ini untuk memberi ruang bagi perangkat berikutnya."

Pernyatan tersebut mungkin lebih netral dibandingkan dengan komentar CEO BlackBerry Thorsten Heins saat pertemuan pemegang saham tersebut pekan lalu. Ketika ditanya secara khusus tentang peluncuran Z10 yang oleh salah satu pemegang saham dikomentari sebagai semacam, Heins tidak sependapat. "Apakah kita sempurna pada saat peluncuran? Mungkin tidak. Apakah itu bencana? Saya tidak berpikir begitu," ujar Heins kala itu.

Beberapa fakta memang mengungkap BlackBerry sedang dirundung masalah. Undangan perusahaan tersebut yang mengajak berbagai media internasional, termasuk Indonesia, hadir di New York untuk peluncuran BB atau sejenisnya, tidak mendongkrak penjualan BB itu sendiri. 

Penurunan harga nampaknya juga mempertimbangkan statistik perusahaan di Q1 tahun ini. Blackberry yang dulu dikenal sebagai Research in Motion (RIM) mengumumkan kerugian yang dialaminya. Kerugian Blackberry awal tahun Ini disebabkan oleh tingginya marjin bisnis layanan, biaya penyediaan data Blackberry, dan layanan keamanan untuk pelanggan. Kerugian yang ditanggung BlackBerry mencapai 84 juta dolar As atau sekitar Rp 830 miliar.

Rugi bersih 84 juta dolar AS ini setara dengan kerugian mencapai 16 sen dolar AS per saham. Berbeda dari tahun lalu, kerugiannya itu sebagian besar disebabkan oleh proses PHK ribuan karyawannya yang menelan biaya hampir 350 juta dolar AS. 

Kendati demikian, Blackberry berhasil menurunkan angka kerugiannya. Pada kuartal yang sama pada tahun lalu, Blackberry sempat merugi US$ 518 juta atau setara kehilangan US$ 99 sen per saham. Berbeda dari tahun lalu, kerugiannya itu sebagian besar disebabkan oleh proses PHK ribuan karyawannya yang menelan biaya hampir US$ 350 juta.

Menurut Chief Executive Blackberry Thorsten Heins dalam sebuah wawancara dengan Routers kinerja BlackBerry diharapkan membaik meskipun akan tetap mengalami kerugian operasional hingga kuartal berikutnya, September ke depan. 

BlackBerry sendiri mengklaim telah melakukan pengapalan sebanyak 6,8 juta smartphones pada kuartal I tahun ini, atau lebih tinggi 13 persen dari kuartal sebelumnya. Pegiriman itu termasuk 2,7 juta perangkat BB10. Jumlah tersebut, ternyata meleset dari perkiraan analis. Sebelumnya mereka menyatakan, pengiriman perangkat BB10, yakni Z10 dan Q10 bakal melebihi 3 juta unit.

BlackBerry telah meluncurkan tiga smartphone baru BB10, yakni Z10, Q10, dan Q5. Blackberry Q5 sendiri yang merupakan perangkat BB10 ber-keyboard dengan harga yang lebih murah dan ditargetkan untuk pasar negara berkembang.

Akhir tahun nanti, pihaknya juga berencana memnurunkan harga smartphone yang berjalan pada platform lama, yakni BB 7. Ini dilakukan untuk menjaga pangsa pasar di negara berkembang yang kini tengah dibanjiri oleh berbagai perangkat murah.