Search
Senin 10 Mei 2021
  • :
  • :

Buruknya Kinerja Operator Dipicu Oleh Fenomena OTT

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menengarai kinerja keuangan operator yang memburuk pada kuartal I/2013 karena operator belum menerapkan strategi penarifan yang tepat terkait maraknya over the top (OTT).

Anggota BRTI Nonot Harsono mengatakan terdapat fenomena gunting, artinya operator membiarkan saluran dilalui data tanpa charging.

“Karena latah menganut faham internet is free, data unlimited, atau tarif yang tak masuk akal seperti Rp5.000 untuk 6 bulan, nelpon gratis 7-hari 7-malam, sehingga mereka tinggal menikmati penderitaan di akhir kuartal I tahun ini,” ujarnya.

Perubahan sumber uang yang bergeser dari pipa (network) ke konten dan applikasi, tambahnya, membuat operator terlena dan tidak memperbaiki strategi penarifan serta tidak membina aliansi strategis dengan penyedia aplikasi.

“Contohnya BlackBerry yang menjalin kerja sama dengan Bank Permata dalam layanan BB Money, tidak satu pun network operator yang minta revenue sharing,” tegasnya.

Nonot menuturkan sungguh tidak logis jika BlackBerry mendapatkan Rp1.000 atau lebih per transaksi, lalu operator penyedia jaringan hanya mendapatkan Rp20 dari transaksi yang Cuma sekitar 20 KB.

Jadi, tambahnya, para operator sudah tahu ada fenomena gunting, tetapi tidak melakukan adaptasi terhadap perubahan.

Diantara operator tiga besar, hanya Telkom yang mencatat kinerja positif, sedangkan XL mengalami penurunan laba bersih, bahkan Indosat mengalami peningkatan rugi bersih.

Berdasarkan laporan keuangan operator pada kuartal I/2013, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) meraup laba bersih Rp 4,985 triliun. Laba tahun berjalan di kuartal I/2013, naik 9,34% dari periode sebelumnya sebesar Rp 4,559 triliun.

Telkomsel sendiri selama 2012 membukukan pendapatan sebesar Rp 54,53 triliun atau naik 12% dibandingkan Rp 48,73 triliun di 2011.

Sementara itu, PT XL Axiata Tbk (XL) membukukan penurunan laba bersih sebesar 52% menjadi Rp 316 miliar di akhir Maret 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 667 miliar.

Hal yang lebih parah dialami Indosat setelah mencatat peningkatan rugi bersih sebesar 214,4% menjadi Rp71,1 miliar, dari periode yang sama tahun lalu Rp22,6 miliar.

Di luar ketiga operator tersebut, menurut Kanaka Hidayat dari Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), sudah lama tak meraup untung. “Masih bisa hidup pun sudah bersyukur.”




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *