Search
Sabtu 13 Juli 2024
  • :
  • :

Cukup Ada 4 Operator Saja

MAJALAH ICT – Jakarta. Operator-operator yang mulai bertumbangan, dengan kerugian yang cukup besar, ditengarai salah satunya adalah persaingan yang sangat tajam antaroperator, yang disebabkan jumlah operator yang cukup banyak. 

Demikian dikatakan Direktur dan Chief Marketing Officer Indosat Erik Meijer. Menurut Erik, jumlah operator seluler di Indonesia terlalu banyak. Dan Erik melihat, tidak semua operator dalam kondisi sehat, bahkan ada beberapa yang merugi. "Operator kita terlalu banyak," kata suami artis Maudy Kusnaedi ini. 

Ketika ditanyakan berapa jumlah operator yang ideal untuk kondisi Indonesia, Erik dalam perbincangan santai dengan Majalah ICT beberapa waktu lalu  dengan mantap mengatakan bahwa sebaiknya empat operator saja. “Cukup empat operator,” kata Erik.

Soal mengapa beberapa operator yang merugi tetap tidak melakukan merger atau apa, Erik melihat bahwa meski kondisi seperti ini, banyak yang tetap melihat industri telekomunikasi masih menyimpan harapan. “Karena dilihat masih ada harapan dari sektor telekomunikasi yang dijalani. Meski ada alasan lain yng mungkin off the record untuk disampaikan,” jelas Erik.

sebagaimana diberitakan sebelumnya, persaingan industri telekomunikasi yang kian ketat mulai memakan korban. Salah satunya adalah Bakrie Telecom (BTEL). Selain jumlah pengguna yang berkurang, BTEL juga mengalami kerugian besar di 2012, yang mencapai Rp. 3,13 triliun. 

Menurut Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Jastiro Abi, angka kerugian tersebut meningkat jauh dibanding tahun 2011 yang hanya sebesar Rp 782 miliar. Kerugian di atas Rp. 1 trliun sudah dilaporkan BTEL per September 2012. Begitu juga jumlah pengguna yang sebanyak 14 juta di 2011 turun menjadi 12 juta per September 2012, yang kemudian merosot lagimenjadi 11,6 juta di akhir 2012. Apalgi, dalam laporan MAJALAH ICT sebelumnya, diketahui bahwa ada piutang BTEL yang jatuh tempo pada Desember 2012 yang tidak mampu dibayar, sehingga kepemilikan saham sebagian beralih ke Mount Charlotte.

Namun begitu, Jastiro mengungkapkan bahwa pendapat perusahaan masih cukup baik yang mencapai angka Rp. Rp 2,97 triliun. "Dari angka itu, pendapatan dari bisnis suara berkontribusi 50,8% atau sebesar Rp 1,51 triliun, sementara bisnis data tumbuh 142% dari Rp 143 miliar di tahun 2011 menjadi Rp 346 miliar di akhir 2012. Hal ini tentunya sejalan dengan tren industri telekomunikasi yang mulai mengarah ke bisnis data,” jelas Jastiro.

Diungkapkan pula oleh Jastiro, besarnya nilai kerugian tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan untuk membersihkan aset-aset yang tidak produktif, sehingga ke depannya, diharapkan kinerja BTEL akan semakin solid dan tidak akan lagi dibebani aset-aset tidak produktif tersebut. "Kami masih bersyukur, di tengah persaingan industri yang ketat, BTEL tetap mampu mempertahankan pendapatan dengan cukup baik. Ini artinya BTEL masih memiliki pasar yang cukup solid di industri telekomunikasi Indonesia," ujar Jastiro berpikir positif.